Bab 21
"Kamu tahu aku pengen jauhan dari Seth sebisa mungkin. Kenapa sih lo lakuin ini ke gue?" Gue natap dia kesel.
"Gue nggak..." sebelum dia selesai ngomong, kita dipotong sama suara yang ngebul.
"Kalian cewek-cewek keliatan cantik banget." Gue noleh dan ngeliat ke atas ke mata ijo dia, tapi dia malah ngeliatin Iris. "Iris," dia senyum pas dia noleh ke gue, senyumnya langsung ilang. "Karishma." Dia ngangguk ke kita terus jalan duluan buat ngejar Brandon!
Dia nggak senyum ke gue.
Seth Parker selalu senyum, jadi pas dia nggak senyum, ada yang nggak bener.
Satu-satunya yang nggak bener adalah gue udah nggak tidur sama dia lagi.
Jahat banget!
Dia nge-cold-shoulder gue karena gue ngelakuin hal yang bener. Gue bilang ke dia gue nggak bisa tidur sama dia lagi dan sekarang dia main sandiwara cewek yang tersakiti ke gue, ya nggak bakal mempan.
Nggak, Seth Freaking Parker.
Kalo lo nggak mau senyum ke gue ya udah, silahkan.
Dua orang bisa mainin permainan itu.
Gue jalan-jalan keliling mansion, mastiin gue jauhan dari Seth. Keliatan sama dia bahaya banget buat kasus gue dan gue nggak bakal biarin one-night stand bodoh sama temen SMA ngerusak karir gue. Bahkan kalo pun nggak bahaya buat karir gue, gue tetep nggak mau keliatan sama dia, apalagi setelah kelakuannya.
Jalan ke pelayan, gue ambil salah satu minuman dari meja. Karena gue nggak nyetir pulang, gue bisa minum sebanyak yang gue mau dan gue juga nggak bakal ke pengadilan dalam waktu dekat.
Gue jalan ke jendela dan ngeliat ke halaman belakang. Ada kolam renang gede di tengah, dikelilingin rumput. Di sepanjang rumput ada beberapa kursi kolam. Nggak ada orang di kolam, tapi ada beberapa orang di luar ngobrol.
Ngerasa ada yang nepuk bahu gue, gue noleh.
"Masih gigitin kuku aja, ya." Dia ngeliatin tangan gue megang gelas.
Gue naikin alis kesel tapi gue diem aja.
"Jadi, gue tebak lo kesini sama Iris dan Brandon seperti biasa." Gue muter mata ke dia dan ngeliat lagi ke luar jendela. "Gimana kabarnya?"
Noleh dan melototin dia. "Richard, gue nggak mau ngobrol sama lo. Gue nggak tertarik sama gimana kabar lo. Gue nggak tertarik sama berapa banyak untung yang lo dapet hari ini jadi intinya gue nggak tertarik sama lo." Gue geleng-geleng kepala ke diri sendiri. Nggak nyangka gue beneran tidur sama cowok ini. Mikir lagi tentang hubungan kita sekarang bikin gue ngeliat gimana dia itu orang yang cuma mikirin diri sendiri, mata duitan, orang yang fetish sama jari dan inilah dia.
Brandon nyamperin dan noleh ke gue, "Dia gangguin lo?"
Richard ngangkat tangannya nyerah, "Bro, gue nggak niat ngapa-ngapain dia." Richard takut sama Brandon, gimana nggak, orangnya tinggi dan penuh otot. Dia beneran cowok idaman.
"Lo buka mulut lo, jadi ya lo gangguin gue." Gue ngeliat ke Brandon, "Makasih tapi gue bisa urus bajingan ini sendiri."
Brandon ngangguk, "Yang penting lo nggak apa-apa." Terus dia pergi.
"Dia selalu main bodyguard."
"Iya, dan lo selalu main brengsek." Gue mendesis.
Dia ketawa dan geleng-geleng kepala, "Jadi, siapa cowok barunya." Gue naikin alis ke dia, nggak gitu ngerti apa yang dia maksud. "Si pirang, dia ngeliatin lo terus dari tadi malam." Brandon noleh buat ngeliat ke seberang ruangan terus balik lagi ke gue. "Tuh, dia masih ngeliatin."
Gue noleh ke arah yang dia tunjuk. Seth ada di ujung ruangan, lagi ngobrol sama beberapa cowok. Kita tatap-tatapan sebentar sampe dia noleh lagi. Gue muter mata dan balik lagi ngeliat Richard. "Dia jaksa buat klien gue, musuh banget dah."
Richard geleng-geleng kepala, "Iya, dia mungkin musuh lo, tapi percaya deh, lo bukan musuh dia."
"Percaya deh, gue iya." Gue udah bikin diri gue musuh dia pas gue nolak dia.
"Nggak ada cowok ngeliatin musuhnya kayak dia ngeliatin lo." Richard ngeliat ke bawah ke dress gue terus balik lagi ke gue, "Entah lo pacarnya atau dia pengen lo jadi pacarnya."
"Gue bukan pacar siapa-siapa." Gue bersuara.
Richard geleng-geleng kepala, "Seneng ngobrol sama temen lama. Seneng liat lo." dia noleh mau pergi tapi balik lagi, "Jangan biarin cowok malang itu nunggu kelamaan."
Mengabaikan omongannya, gue deketin gelas gue ke bibir gue. Gue nggak tau persis gue minum apa, tapi gue tau itu sesuatu yang kuat. Gue minum lagi karena gue nggak ngerti kenapa Seth ngehirauin gue tapi malah ngeliatin gue dari seberang aula.
Gue jalan menjauh dari jendela dan mulai jalan ke pintu belakang. Semakin jauh gue dari mata ijo dia yang menusuk, semakin enak gue rasanya.
Gue berdiri di tepi kolam ngeliatin air yang berubah warna tiap beberapa detik. Keliatan indah, malamnya indah, tapi ini gue di tepi kolam orang kaya yang mencoba menghindari Seth Parker.
"Lihat, gue nggak sendirian." Suara cowok yang nggak jelas bilang dari belakang gue, bikin gue kaget dikit. "Maaf, nggak maksud nakutin lo. Boleh gue berdiri sama lo? Gue nggak kenal siapa-siapa disini."
Gue noleh buat ngeliat mata biru cerah natap balik ke gue. Gue ngeliat dia diem terus ngangguk, "Boleh."
"Gue Micheal." Dia jalan lebih deket ke tepi dan sekarang berdiri di samping gue.
"Kari." Gue juga bilang nama gue. Dia keliatan lumayan, dia nggak punya tatapan genit dan itu bagus.
"Jadi kenapa lo disini sendirian aja?" dia nanya.
"Gue dateng sama beberapa temen yang orang bisnis. Gue nggak suka bisnis." Gue ngeliat ke dia, "Kenapa lo disini?"