Bab 26
Gue ngangguk, gak yakin kenapa gue ngelakuin itu. Kayaknya tubuh gue yang ngendaliin diri sendiri. "Ayo, gue antar ke kamar." Dia lepasin kepalanya dari leher gue dan dorong pintu di samping kita. Dia genggam tangan gue sambil narik gue ke kamar. Dia nutup pintu di belakangnya, "Gue gak mau ada delapan anjing di kamar ini. Satu aja udah cukup."
Dia berdiri dari gue dan lepas kemejanya, bikin dia telanjang kayak pas dia lahir. "Bagus. Sekarang gue bisa ngerasain payudara lo yang indah neken dada gue."
Dia narik gue lebih deket dan nempelin mulutnya ke mulut gue dan nyium gue penuh gairah.
Gue menghela napas dalam ciuman itu, nyerah. Gue mau dia, dan itu sesuatu yang tubuh gue gak siap buat nolak.
.....
Gue kucek mata gue dan pelan-pelan ngebuka mata. Gue ngerasain tubuh telanjang gue di bawah kemeja, bikin gue inget semua yang terjadi semalem.
Gue menghela napas dan ngumpatin diri sendiri.
Gue berhubungan seks sama **Seth** lagi setelah gue bilang ke dia dan diri gue sendiri kalau itu gak bakal terjadi lagi. Gue ingkar janji, semua karena si **Adonis** itu.
Gue usap rambut gue dan menghela napas. Untung banget dia pergi setelah kedua kalinya, atau gue gak tau gimana cara gue buat ketemu dia. Dia bilang dia ada rapat pagi dan sidang pertama di pengadilan hari ini.
Dia noleh ke gue dan senyum. "Andai gue bisa tetep di sini dan nikmatin lo sekali lagi, tapi gue ada rapat pagi dan harus di pengadilan seharian." Dia ngedorong dirinya ke tepi ranjang dan berdiri, nunjukkin semua keindahan tubuhnya.
Gue alihin pandangan gue ke wajahnya dan bukan ke tubuh telanjangnya, "**Seth**. Kita gak bisa ngelakuin ini lagi."
Dia nunduk dan senyum ke gue. Jalan ke pintu, dia ngambil kemejanya. Gue narik selimut nutupin tubuh gue dan duduk di ranjang. "**Seth**, gue serius. Kita gak bisa ngelakuin ini lagi."
Dia jalan ke pintu dan noleh ke gue dengan senyum di wajahnya. "Selamat malam, **Kari**. Sampai jumpa lagi." Terus dia nutup pintu di belakangnya.
Gue menghela napas frustasi terus nutupin wajah gue pake selimut. Gimana bisa dia setenang itu? Kenapa dia malah senyum? Gue baru aja bilang gak lagi, dia harusnya marah kayak waktu pertama kali.
Gue denger dia jalan-jalan di apartemen sampe pintu depan kebuka dan ketutup.
Gue guling ke sisi ranjang gue dan liat jam weker gue yang belum bunyi. Gak percaya gue bangun kepagian bukannya kesiangan. Setelah tubuh gue kerja keras semalem, gue kira gue gak bakal bisa bangun pagi ini, tapi sekarang gue udah bangun pagi dan bahkan gak ngerasa males buat tetep di ranjang.
Gue duduk dari ranjang gue dan meraih ke iPad gue yang ada di meja samping tempat tidur.
Waktunya buat nyari-nyari tentang **Seth Parker**. Kemana aja dia selama delapan tahun terakhir dan siapa sih yang ngasih dia Porsche. Hal pertama yang gue lakuin adalah ngetik namanya di google, yang ngasih gue daftar situs web. Situs web pertama yang gue cek adalah Facebook, tapi gak nemu apa-apa. Terus gue cek LinkedIn, tapi masih gak ada data tentang **Seth Parker** yang spesifik ini. Gue bahkan coba Twitter dan Instagram.
Mungkin dia benci Media Sosial, atau dia nyembunyiin sesuatu, tapi gimana pun caranya, gue bakal tau apa yang dia sembunyiin kalau dia emang nyembunyiin sesuatu.
Gue harus tau semua tentang pria yang baru aja gue abisin waktu berjam-jam di ranjang bareng.
Gue harus tau semua tentang **Seth Parker**.
Gue jedotin kepala gue ke meja tiga kali. Gue punya banyak banget berkas kasus buat diurus, capek banget. Gue bahkan gak tau harus mulai dari mana. Telepon gue bunyi, jadi gue angkat kepala dan ngangkatnya, "Ya, **Claire**."
"**Ms. Webb** ada di sini. Dia bilang penting banget." Gue menghela napas, **Carla Webb** tuh emang lain, dia selalu punya orang yang harus dia tuntut atau orang yang harus dia ceraiin.
"Suruh dia masuk." Gue taruh lagi telepon di tempatnya dan duduk tegak. Gak peduli betapa capeknya gue, gue berusaha buat keliatan seprofesional mungkin.
Pintunya kebuka, wanita di awal limapuluhan keliatan. Gue perhatiin perubahan warna rambutnya. Terakhir kali dia di sini, ada beberapa helai abu-abu di rambut coklatnya, tapi sekarang rambutnya item, dan tanda-tanda usia tua udah gak keliatan lagi.
Gue dorong kursi gue ke belakang dan berdiri, jalan ke sisi meja gue. Dia jalan ke pelukan gue dan meluk gue, "Gimana pengacara kesukaan gue?"
Gue satu-satunya pengacaranya. Gak peduli sebanyak apa uang wanita itu, gak ada yang mau ngurus masalah yang datang sama dia. Gue pengacara muda waktu gue ambil dia dalam naungan gue dan dia tetep di situ, masih belum dewasa.
Gue senyum waktu dia ngelepasin gue dari pelukan, "Gue baik-baik aja. Gimana klien kesukaan gue?" Gue gak punya klien kesukaan. Gue cuma bilang gitu biar dia seneng.
"Yah, selain fakta kalau salah satu pekerja gue lagi coba buat nuntut gue, gue sempurna." **Carla** lahir di Australia dan pindah ke Amerika waktu dia dua belas tahun, tapi bahkan di usia limapuluhan dia masih punya sedikit aksennya.
"Jadi, meja udah berbalik." Kata gue.
"Kayaknya gitu." Katanya tanpa peduli.
Gue geleng-geleng kepala dan balik ke tempat duduk gue, "Dia/Mereka nuntut lo karena apa?"
"Stres di tempat kerja." Jawabnya, "Lo percaya gak? Cewek itu bilang gue kerja keras sampe dia keguguran dan sekarang dia mau nuntut gue."