Bab 58
"Kamu telat, apa kamu sudah menelepon?" tanya Brandon padaku. Aku bisa dengar kegugupan di suaranya.
Aku senyum, "Santai aja, dia lagi di jalan. Kamu mau nikahin sahabatku."
Dia senyum, "Kamu kelihatan cantik."
Aku senyum, "Makasih." Dalam hati aku berterima kasih pada Ibu karena udah mendandaniku.
"Kuenya mana sama bunganya?"
"Di jok belakang." Aku buka pintu, kelihatan kue Cokelat Mocha 40X40 dan seikat bunga favoritnya, Dahlia. "Ini susah banget nyarinya."
Dia senyum, "Makanya kamu sahabat terbaiknya."
Aku ketawa, "Tepat sekali."
"Ayo. Kita keluarin ini dari mobil." Dia ambil buketnya dan ninggalin aku sama kuenya. Aku menghela napas.
"Kayaknya cuma aku sama kamu, kue." Aku keluarin kuenya dan pegang pakai dua tangan, terus pakai kaki buat nutup pintu mobil. Aku mulai jalan ke area yang udah diatur, semua perhatianku ke kue. Aku emang punya kecenderungan ceroboh kalau lagi ada hal penting yang harus dikerjain dan gak mau ngejatuhinnya. Apalagi kalau itu kue favorit kami.
"Biar aku aja yang bawa." Aku dongak dan mata aku ketemu sama mata hijau yang masih nempel di memori. Sebelum aku sempat proses apa yang terjadi, Seth ambil kuenya dari tanganku dan menghilang.
Aku menghela napas dan mulai jalan ke tempat persiapan. Pas aku sampai, ada beberapa temen Brandon dan orang tua Iris, juga sekretarisnya. Brandon bilang, semakin kecil pesta kejutan itu, semakin kecil kemungkinan dia tahu kalau dia mau dilamar. Aku pikir itu ide bagus.
Aku jalan ke orang tua sahabatku, "Selamat malam, Tante Verona dan Om Justin."
Pasangan itu noleh dan kasih senyum lebar, Verona meluk aku terus suaminya salaman sama aku. "Giliran kamu nih," katanya sambil senyum.
Aku kasih senyum tipis dan geleng kepala.
Verona angkat dagu, "Kamu kan cewek cantik, masa gak ada cowok di luar sana yang buat kamu?"
Aku geleng kepala, "Aku percaya sih ada cowok buat aku."
Aku baru aja kehilangan dia.
Dia senyum, "Nanti juga ketemu."
Aku kasih dia senyum tipis. "Gimana fisioterapinya?" Empat bulan lalu, dia kecelakaan mobil. Sebuah truk nabrak samping mobilnya dan kaki kirinya cedera.
Dia lihat ke bawah ke kakinya, "Makin membaik setiap hari."
Suaminya geleng kepala, "Kari, dia gak dengerin. Aku bilang duduk, dia gak mau denger." Pasangan itu baru nikah beberapa tahun tapi jelas mereka saling cinta dan Justin cinta dan memperlakukan Iris seperti anaknya sendiri.
"Iya, Iris juga gitu. Gak pernah dengerin aku. Dia..." sebelum aku selesai ngomong, Seth mulai teriak, "Dia datang, matiin lampunya, dia datang! Kari, siap-siap."
Aku ketawa dan geleng kepala, kasihan banget cowok itu panik. Aku ngangguk ke pasangan itu dan mulai jalan ke posisi.
Lampu mati dan tempat itu hening total sampai aku mulai denger Iris manggil nama aku.
"Kari? Kari? Kamu di sini?" dia manggil.
"Iya, aku di sini. Maaf ya. Telatnya beberapa menit. Ikutin suaraku, nanti ketemu aku."
Dia ketawa, "Aku bakal baik-baik aja. Kamu yang takut gelap."
"Aku gak takut gelap." Aku membela diri.
"Coba bilang gitu sama orang yang udah kenal kamu lama." dia jeda, "Gimana kabarmu?"
"Aku baik-baik aja." Aku bisa ngerasain dia dekat, yang perlu aku lakuin cuma terus bangun percakapan.
"Gak, maksudku, gimana kamu sejak...kamu tahu kan?" Aku sebenernya tahu apa maksudnya.
Aku jeda sebentar sebelum jawab. "Aku masih napas."
"Nanti membaik kok," dia yakinin. "Kayaknya aku lihat kamu."
"Ibu bilang gitu juga tadi." Aku menghela napas, "Aku gak lihat kamu."
"Kamu pakai hitam putih?" Aku senyum, rencananya berhasil.
"Iya, aku pakai."
Dia ketawa, "Kamu kelihatan agak tinggi."
"Aku pakai sepatu hak Ibu." Aku senyum. Gak nyangka dia belum sadar kalau sosok di depannya itu cowok, bukan aku.
"Ibumu emang diva."
Aku ketawa, "Bener banget, dia yang dandanin aku malah."
"Gak sabar pengen lihat muka kamu deh." dia ketawa, "Kamu pasti kayak boneka. Hmm..Kari, kayaknya kamu bukan orang yang aku lihat deh, kamu punya lebih banyak lekuk daripada orang di depanku."
Aku pengen ketawa tapi aku tetep akting, "Makasih, aku jadi ngerasa kayak putri sekarang. Dapat pujian dari ratu."
Aku bisa tahu dia memutar bola mata sambil mendesis. "Kamu itu...Brandon!!" dia teriak kaget.
Begitu denger kata sandi, lampu langsung nyala, pas banget buat Brandon berlutut.
"Ya Tuhan! Kari! Kenapa gak bilang sih?" Aku perhatiin dia lihat sekeliling nyari aku terus matanya balik lagi ke cowok yang berlutut. Dia nyengir dan ketawa.
"Kita udah bareng selama lima tahun dan tahun-tahun itu sempurna. Aku suka pulang ke kamu, aku suka bilang ke orang kalau kamu pacarku, tapi yang paling aku pengenin di dunia ini adalah kalau aku bisa bilang ke orang kalau kamu istriku dan pas aku pulang, wanita aku, istriku, udah nunggu aku." dia pelan-pelan buka kotak perhiasan kecil, "Kayaknya yang pengen aku bilang adalah, maukah kamu menikah..?"
Dia gak selesai ngomong, dia langsung melompat ke pelukannya dan teriak 'iya' lima kali. Semua orang keluar dari tempat persembunyian mereka dan mulai tepuk tangan. Iris noleh dan lihat semua orang termasuk aku. Dia geleng kepala dan ketawa ke aku. "Kamu yang terbaik." dia bergumam. Ibunya jalan mendekat dan meluk dia.
"Putriku yang cantik mau nikah. Akhirnya, aku udah nunggu lima tahun." kata Verona.