135. AKHIR!
Satu bulan kemudian.
Demetria udah siap buat cabut dari gunung suci. "Nervous nggak?" tanyanya.
Clarice ngangguk. "Iya, lumayan. Aku udah biasa ada kamu di sini, jadi agak susah sih kalau kamu nggak ada. Aku harap kamu mau tinggal lebih lama lagi..." katanya sambil sedih.
Demetria senyum terus nepuk-nepuk tangan penerusnya, nenangin dia. "Jangan nervous, semua bakal baik-baik aja. Aku udah cukup lama jadi penjaga gunung ini. Udah waktunya aku pensiun dan ngurus hal lain."
"Oke. Aku ngerti," jawab Clarice, matanya berkaca-kaca.
"Buku ajaib di kamarku. Kamu bisa baca buat makin ngerti kekuatanmu. Banyak banget yang bisa kamu lakuin buat ningkatin kekuatanmu. Banyak banget yang bisa dieksplorasi di setiap halaman buku itu. Kamu bakal kaget seberapa kuatnya kamu. Aku cuma ngebatasin diri ke kekuatan yang menurutku bakal berguna banget buatku, sisanya, aku pikir udah nggak penting lagi, dan aku anggap itu berlebihan. Jadi terserah kamu mau pakai semua atau nggak. Bebas aja eksplor buku itu. Buku itu bakal jadi mentor kamu setelah aku nggak ada," kata Demetria.
Clarice meluk mentornya. "Makasih banyak udah nyelamatin hidupku dan udah milih aku jadi penerusmu. Aku bener-bener beruntung banget bisa ketemu kamu dalam hidupku. Aku nggak bakal lupa kamu," katanya bersyukur, ngerasa terharu.
Demetria ngusap-ngusap punggung Clarice pelan. "Aku juga senang bisa ketemu kamu. Aku senang takdir ngirim kamu ke aku buat dilatih dan jadi penerusku. Di tanganmu, aku yakin warisanku bakal terus berlanjut, dan gunung suci ini dijaga dengan baik kalau aku nggak ada."
Mereka saling pandang dan senyum.
"Maaf ya aku akhir-akhir ini sibuk sama keluarga, dan aku nggak bisa ikut kamu dalam misi-misi buat bantu Martha dan timnya," Clarice minta maaf dengan tulus.
"Nggak papa, nggak usah minta maaf. Kalo soal Martha, telepon yang aku pakai buat komunikasi sama dia ada di laci meja di kamarku. Aku udah bilang ke dia kalo kamu beda sama aku. Kamu udah nikah, punya anak, dan suami, sibuk sama kehidupan keluarga, dan mungkin nggak tertarik buat nerusin warisanku, jadi dia nggak boleh berharap banyak dari kamu. Kalau suatu hari kamu mutusin buat bantu dia, itu terserah kamu. Kalo soal emas dan perhiasan di dalam ruang harta karun, itu semua punya kamu. Pakai aja buat kebutuhanmu," tambah Demetria.
"Oke, siap. Ada lagi?" tanya Clarice, nyatet semua di pikiran.
"Intinya butuh darahmu seminggu sekali. Kamu harus ngecek ruang hibernasi dan mastiin semuanya sama, terus abaikan penampakan yang nyoba nge-tipu kamu. Kamu harus dateng dan nginep di sini minimal dua atau tiga jam sehari buat ngecek semuanya. Penting banget inti bisa ngerasain kehadiranmu biar terus berfungsi normal setiap hari. Ingat, darahmu adalah sumber kehidupan inti yang nyatuin rumah suci dan gunung ini," Demetria mengingatkan.
"Terus gimana kalo suatu hari aku tiba-tiba mati? Apa yang bakal terjadi sama rumah ini dan monster-monster vampir di dalam ruang hibernasi mereka?" tanya Clarice penasaran.
"Nggak ada penjaga yang pernah mati sebelumnya. Sebagai vampir, kamu bisa hidup lama, sampe kamu milih penerusmu selanjutnya buat nerusin warisanmu," jawab Demetria.
"Tapi gimana kalo suatu hari aku nggak sengaja mati? Apa yang bakal terjadi?" Clarice nge-desak buat dapet jawaban.
"Rumah dan gunung ini bakal hancur sendiri dan beberapa monster juga bakal mati bareng kamu, tapi yang lain mungkin selamat. Aku nggak tau berapa banyak yang bakal selamat, tapi mayoritas dari mereka bakal mati bareng kamu," Demetria akhirnya ngasih jawaban yang jelas.
"Jadi, kalau suatu hari aku ngerasa bakal mati, apa aku harus milih penerusku selanjutnya sebelum kematianku datang?" tanya Clarice.
"Iya, pilih salah satu dari anakmu, atau bisa juga siapa aja yang menurutmu pantas jadi penerusmu. Kita bener-bener orang asing satu sama lain, tapi aku tetep milih kamu jadi penerusku. Siapa aja bisa jadi penjaga gunung ini selama mereka dipilih oleh takdir dan dikirim ke kamu buat dilatih. Kamu bakal tau kalau kamu ketemu orang itu," jelas Demetria.
"Ah, oke, aku ngerti," kata Clarice, ngangguk.
"Aku bikin daftar utama dari semua hal yang harus kamu lakuin buat rumah ini dan semua tanggung jawabmu biar kamu nggak ketinggalan satu pun. Aku taruh di laci di samping telepon. Bebas baca setiap hari. Perbedaan kita adalah kamu udah nikah, dan kamu punya banyak hal yang harus dikerjain dan dipikirin, jadi kamu butuh daftar itu lebih dari aku. Kalo aku, aku jomblo, jadi aku lebih fokus sama pekerjaanku sebagai penjaga. Daftar utama itu penting buat mengingatkan kamu tentang tanggung jawabmu terhadap tempat ini. Kamu ngerti?" kata Demetria.
"Iya, aku ngerti," jawab Clarice sambil senyum.
"Oke, aku bakal pergi satu jam lagi. Sampai jumpa sebelum aku pergi. Aku mau ke kamar dulu buat ambil barang-barangku dan pamit sama inti," kata Demetria.
"Oke. Santai aja," jawab Clarice.
Demetria naik tangga dan pergi ke kamarnya di lantai tiga.
Satu jam kemudian, kedua wanita itu terlihat berdiri di luar rumah sambil mengucapkan selamat tinggal satu sama lain.
"Aku pergi sekarang. Jaga diri baik-baik dan jaga gunung ini buatku," kata Demetria, matanya berbinar, semangat mau ketemu keluarganya lagi.
Kesedihan terlihat di mata Clarice. "Sekarang kamu mau ninggalin aku, aku jadi takut. Aku mulai ragu apa aku bisa," katanya, air mata menggenang di matanya.
Demetria nepuk pundaknya. "Tentu aja kamu bisa. Percaya sama diri sendiri."
"Makasih," jawab Clarice sambil senyum.
"Aku pergi dulu. Takutnya kalo aku nggak pergi sekarang kamu bakal mohon aku buat tinggal," Demetria bercanda.
Clarice nyengir. "Nikmatin masa pensiunmu."
"Aku bakal. Dah!" Demetria melambaikan tangannya ke Clarice dan menghilang di malam hari.
"Byeeee!" Clarice masih melambaikan tangan meski Demetria udah lama pergi.
Clarice balik ke rumah dan ngunci pintu. Dia melihat-lihat sekeliling rumah yang jadi rumah keduanya.
Dia pergi ke kamar Demetria dan ngecek daftar utama semua hal yang harus dia lakukan di dalam rumah. Besok dia bakal ngasih makan inti dengan darahnya. Hari Kamis dia bakal ngecek para vampir di ruang hibernasi. Hari Sabtu dia bakal mengunjungi markas vampir dalam wujud tak kasat mata buat memata-matai orang di sana.
Mata dia tertuju pada telepon, menatapnya selama beberapa menit. Alat komunikasi yang menghubungkan Demetria ke Martha akan membuatnya makin sibuk.
Haruskah dia menelepon Martha buat memperkenalkan diri sebagai penerus Demetria? Dia menggelengkan kepalanya. Nggak, dia belum siap jadi pahlawan.
Nggak sekarang, mungkin nanti.
Keluarga dulu sebelum yang lain!
Dia menutup laci dan mau keluar dari kamar. Telepon tiba-tiba berdering. Dia mengangkatnya dan langsung baca pesan teks dari Martha. Isinya mendesak.
'Tolong kami. Seluruh Sekolah Umum St. Patrick lagi disandera ratusan teroris. Mereka masang bom di semua ruang kelas. Mereka bakal meledakkan seluruh sekolah beserta anak-anak, guru, dan staf sekolah kalo presiden negara saat ini nggak meledakkan kepalanya di depan televisi. Total jumlah orang di dalam sekolah lebih dari tiga ribu. Sisa waktu cuma satu jam buat menjinakkan bom. Diperkirakan ada seratus teroris di dalam sekolah. Penembak jitu kita nggak bisa dapet tembakan yang jelas. Begitu semua bom meledak, korbannya mengerikan.'
Pesan kedua berisi lokasi sekolah yang tepat.
Sialan! Dia nggak butuh ini!
Clarice menggerutu. Dia cuma punya beberapa menit buat mikirin apa yang harus dilakuin. Dia cuma punya waktu satu jam sebelum semuanya meledak. Dia mengangkat telepon, bikin dirinya nggak kelihatan, dan berteleportasi ke lokasi sekolah yang berada di kota.
Saat dia tiba di Sekolah St. Patrick melayang di udara, gerbangnya udah dipenuhi petugas polisi, media yang meliput situasi penyanderaan, orang-orang yang penasaran, dan keluarga anak-anak serta staf sekolah.
Dia harus bertindak cepat kalo mau nyelametin nyawa.
Dia melesat menuju pintu masuk sekolah dan masuk ke ruangan pertama. Dia nemuin bom yang terus berdetak dan ngebekuin semua orang di dalamnya, termasuk terorisnya. Dia lakuin hal yang sama di semua ruangan. Akhirnya, dia tiba di ruangan staf.
Di dalam, dia ngelihat lima teroris bersenjata pakai topeng dan sepuluh staf ketakutan di lantai. Orang-orang bersenjata itu menghadap televisi, nonton presiden negara itu ngomong ke media.
Dia ngebekuin semua orang di ruangan dan nemuin bomnya. Dia nggak berani nyopot bomnya karena dia nggak tau apa-apa tentang itu. Nyopot satu bom bisa bikin seluruh sekolah meledak. Terorisnya siap mati.
Satu kesalahan dari pihaknya bakal memicu ledakan.
Dia mengaktifkan kekuatannya, memakai kostum hitam lengkap dengan topeng yang menutupi seluruh wajahnya. Dia masuk ke ruangan dan bikin dirinya kelihatan sama staf yang terlihat gemetar. "Guys, dengerin baik-baik! Waktu hampir habis. Aku mau kalian masuk ke setiap ruang kelas dan suruh anak-anak keluar ruangan dengan tenang. Jangan khawatir soal teroris, mereka beku. Aku bekuin mereka biar mereka nggak bisa nyakitin siapa pun. Sekarang, gerak!" perintahnya dengan mendesak.
Kepala sekolah nyolek kaki orang bersenjata yang berdiri di sampingnya. Dia nggak merespons, beku dalam waktu seperti patung. "Terorisnya nggak bergerak!" serunya. Dia menyapa staf yang ketakutan, menatap mata mereka. "Oke, ayo kita lakuin dengan cepat. Ayo kita bawa banyak anak ke tempat aman secepat mungkin sebelum bomnya meledak!" dia membentak perintahnya.
Anggota staf yang ketakutan bergegas keluar dari ruangan dan berlari ke ruang kelas, memerintahkan anak-anak buat mengikuti mereka dengan tenang keluar dari ruangan, sementara Clarice udah di depan mereka, mencairkan anak-anak di setiap ruangan, hati-hati jangan sampai mencairkan teroris dan bomnya atau kekacauan akan terjadi.
Di luar, para penonton terkejut melihat anak-anak keluar dari pintu masuk sekolah dan berlari menuju gerbang, terlihat gemetar dengan air mata di mata mereka. Pihak berwenang polisi segera bertindak, menempatkan anak-anak ke tempat yang aman.
Yang terakhir meninggalkan sekolah adalah kepala sekolah, staf sekolah, dan penjaga.
Clarice menelepon Martha dan ngasih tau kalo dia udah ngebekuin teroris sekitar seratusan dari mereka tersebar di sekitar sekolah.
Martha memerintahkan unit penjinak bom buat masuk ke dalam sekolah buat memulai tugas mereka mencari bom. Dia dan timnya masuk ke ruang kelas buat menangkap terorisnya.
Clarice belum bisa pergi, takut satu kesalahan bisa mengakhiri segalanya. Dia mengikuti tim Martha saat mereka masuk ke setiap ruangan, memborgol teroris yang beku dan mencopot senjata mereka.
Setelah satu jam kebuntuan yang menegangkan antara teroris dan personel polisi, situasi mematikan akhirnya dinyatakan terkendali oleh Kpt. Martha Hunskinson.
Clarice mengirim pesan ke Martha dan menyuruhnya buat ngasih tau kepala sekolah dan staf buat nggak ngungkapin identitasnya atau dia nggak akan muncul lagi buat bantu. Martha meyakinkannya kalo identitasnya nggak akan diungkapkan oleh staf.
Puas dengan hasil aman dari krisis penyanderaan, Clarice bangga sama dirinya sendiri karena bertindak cepat. Dia meninggalkan area dengan semangat tinggi, pulang buat bersama keluarganya.
Perjalanan kepahlawanannya baru aja dimulai.
~~~Akhir~~~