68. Rencana Balas Dendam
Aurelia geleng-geleng. Ekspresi di wajahnya serius. "Gue nggak bercanda, sayang. Gue ngomong yang sebenarnya. Gue ada di sana pas pernikahan Alpha Callum sama istrinya yang baru. Pengantinnya pake kerudung nutupin wajahnya selama upacara pernikahan dan resepsi. Dan pas gue minta foto bareng dia, dia nolak dan ngasih alibi palsu. Dan yang bikin gue kaget dan heran, suaranya sama kayak Clarice, mantan sahabat gue," jelasnya.
"Kadang orang suaranya mirip-mirip. Nggak ada yang baru," Viviana mengoreksi.
"Gue tahu, tapi gue 100% yakin pengantin itu sama Clarice suaranya sama. Dan gue tahu dari lubuk hati gue yang paling dalam, Clarice dan Charice itu orang yang sama," kata Aurelia dengan nada final.
Dahi Viviana berkerut. "Jadi, coba cerita, apa yang terjadi sama Luna Clarice? Kenapa dia sakit dan dinyatakan meninggal di hari yang sama lo nikah sama suaminya? Gue penasaran pengen denger langsung dari mulut lo."
Aurelia menghela napas panjang. "Sebenarnya, Luna Clarice selingkuh sama cowok manusia yang udah nikah dan nyembunyiin hubungan terlarangnya dari suaminya. Terus suatu hari, Alpha Bruce tahu perselingkuhan itu dan minta cerai dari istrinya. Luna Clarice nolak cerai dan putus sama pacar manusianya. Suaminya nggak peduli, nggak tidur di kamar yang sama lagi sama dia, terus dia sakit, depresi, dan patah hati." Dia berhenti sejenak.
"Menarik. Gue nggak nyangka Luna Clarice bakal mengkhianati suaminya," komentar Viviana, kaget. "Lanjutin..."
"Selama masa-masa itu, pas pasangan itu lagi nggak baik-baik aja dan pernikahan mereka hancur, Alpha Bruce merhatiin gue dan naksir gue. Awalnya gue nolak, tapi susah buat ngehindarinya. Pas Luna Clarice sadar suaminya bener-bener suka sama gue, dia ngusir gue dari rumah mewah itu dan gue harus tinggal di jalanan, nggak punya uang dan nggak punya rumah, tapi Alpha Bruce nyelamatin gue dan nyewain rumah buat gue," kata Aurelia muram.
"Wow, Alpha Bruce beneran sayang sama lo karena dia ngejar lo buat mastiin lo aman dan nggak tinggal di jalanan," Viviana memuji.
Aurelia tersenyum. "Alpha Bruce baik sama gue dan nyewain rumah buat gue tinggal. Kami lanjutin hubungan kami. Terus suatu hari, Alpha Bruce bilang ke istrinya kalau dia mau nikah sama gue, dan dia bakal ngusir istrinya dari rumah mewah itu. Kondisi Luna Clarice makin memburuk, dan akhirnya dia setuju gue nikah sama suaminya asalkan kami rahasiain perselingkuhannya, dan kami nggak bakal ngasih tahu siapa pun. Dan di hari pernikahan kami, Clarice menghilang tanpa jejak, jadi kami nggak punya pilihan selain menyatakan dia meninggal dan mengubur peti mati kosong dengan namanya di kuburan."
"Wah, cerita lo seru banget..." kata Viviana. Rasa penasarannya membuncah.
"Kalo Luna Clarice nggak mengkhianati suaminya, pernikahan mereka pasti masih baik-baik aja sampai sekarang. Ini bukan salah gue, Clarice yang bikin kesalahan pertama. Dia nggak bisa nyalahin gue dan suaminya karena saling jatuh cinta," kata Aurelia, membela diri, mulutnya penuh dengan kebohongan.
Viviana diam.
"Apa lo bisa nyalahin gue kalau gue jatuh cinta sama suami sahabat gue?" tanya Aurelia.
Viviana menggeleng. "Nggak juga. Luna Clarice yang mengkhianati suaminya duluan, dan hancurnya pernikahannya sepenuhnya salah dia."
Aurelia tersenyum, senang dengan jawaban Viviana. "Dan sekarang Clarice udah berhasil menggoda suami lo juga. Dia ngerebut Alpha Callum dari lo, dari bayi lo. Gimana perasaan lo sekarang?"
Wajah Viviana jadi gelap. "Gue benci banget sama cewek itu. Dia ngambil suami gue dari gue!" katanya dengan marah.
"Tuh kan? Kita punya musuh yang sama. Gue benci Clarice pas dia ngusir gue dari rumah mewah itu, bikin gue nggak punya rumah. Dan lo benci dia karena menggoda suami lo. Karena kita sama-sama benci orang yang sama, sudah sepantasnya kita saling bantu buat balas dendam sama cewek itu. Dengan kekuatan dan sumber daya kita yang digabung, pasti kita bisa balas dendam!" kata Aurelia meyakinkan, matanya berkilauan dengan niat jahat.
"Jadi apa yang ada di pikiran lo? Apa yang bisa lo saranin?" tanya Viviana.
Aurelia tersenyum, suka banget gimana kooperatifnya Viviana. "Ini yang bakal kita lakuin..."
"Sst, pelanin suara lo karena penjaga itu dipasang sama mantan suami gue buat ngelindungin gue dan bayi kita. Kalo mereka denger dan curiga sesuatu, mereka bakal langsung ngasih tahu mantan suami gue," kata Viviana hati-hati.
"Oke, gue denger. Ayo kita sewa pembunuh buat ngehabisin Clarice, alias Charice," kata Aurelia berbisik.
Viviana berdiri setelah nyadar dua penjaga itu lagi ngeliatin mereka. "Ayo kita jalan-jalan di pantai. Penjaga itu penasaran sama kita, mereka mungkin udah curiga sama kita," katanya.
"Oke deh!" kata Aurelia dan melirik para penjaga. Mereka memang lagi merhatiin mereka dari kejauhan.
Kedua cewek itu jalan mendekati air dan ngelanjutin ngobrol di sana, terus mereka jalan-jalan di sepanjang pantai.
Salah satu penjaga ngikutin mereka.
"Nggak aman lagi buat diskusiin hal-hal sensitif kayak gini di sini. Kita lanjutin aja diskusi ini di telepon atau ruang obrolan pribadi online," kata Viviana cemas.
"Oke, gue ngerti kekhawatiran lo," Aurelia setuju.
"Kita chat aja nanti malam dan lanjutin diskusi kita tanpa gangguan," kata Viviana. "Balik ke rumah yuk, minum minuman segar sebelum lo pulang," tambahnya.
Aurelia mengangguk. "Oke, ayo jalan."
Kedua cewek itu balik ke rumah, makan beberapa minuman segar yang disiapin sama Pembantu dan ngobrol dengan riang.
Beberapa menit kemudian, Aurelia pamit ke Viviana. Dia masuk ke mobilnya dan melambai selamat tinggal ke cewek hamil yang berdiri beberapa meter dari kendaraannya.
"Dah!" kata Aurelia dan mengendarai mobilnya keluar dari properti tepi pantai Viviana.
Saat mengendarai mobilnya di jalan, Aurelia nggak bisa berhenti buat tersenyum lebar. Dia berhasil meyakinkan Viviana buat berpihak padanya. Dia merasa kebencian Viviana pada Charice bakal bikin dia jadi sekutu yang tangguh.
Dan dia 100% yakin sekarang, Charice itu Clarice, nggak ada lagi keraguan.
Sekarang langkah selanjutnya dalam rencananya adalah mencari pembunuh bayaran. Mungkin Viviana kenal siapa aja yang bisa nemuin orang yang mau nyariin mereka pembunuh bayaran.
Dia semangat buat pulang dan lanjut chat sama Viviana buat memfasilitasi rencana mereka buat pembunuhan Clarice.
Ini adalah awal dari kejatuhan Clarice, alias Charice!
Aurelia merasa senang.
Sementara itu...
Kembali di rumah pantai, Viviana lagi istirahat di kamarnya, tiduran di kasur, natap langit-langit dan mikirin rencana balas dendam Aurelia.
Dia udah ngebatalin rencana balas dendamnya terhadap mantan suaminya dan istri barunya. Dia sebenarnya udah mulai lupa tentang itu.
Dia udah nerima nasibnya, tapi setelah ketemu Aurelia hari ini, keinginan buat balas dendam tiba-tiba bangkit lagi di hatinya. Kali ini keinginan buat balas dendam makin kuat, mendesak buat diselesaikan.
Harusnya dia mulai rencanain balas dendam lagi?
Atau lupa aja dan ngasih tahu Aurelia kalo dia udah nggak tertarik sama rencana balas dendamnya?
Yang mana nih?