42. Identitas Baru
Beberapa hari kemudian, **Clarice** dan **Caden** lagi main di luar rumah pas mobil **Alpha Callum** datang.
"**Ayah**!" **Caden** melambai senang, semangat banget mau ketemu **ayah**-nya lagi.
**Alpha Callum** keluar dari mobil, ngecup kepala **Clarice**, terus nyamperin anaknya. "**Ayah** punya kejutan buat kamu, **anak**ku."
"Apa, **Ayah**? Mainan lagi?" tanyanya semangat.
Sambil senyum, **Alpha Callum** geleng-geleng. "Enggak. Sesuatu yang beda." Dia ngasih kode ke arah mobil.
**Marina** dan **Carlos** keluar dari mobil.
"Hore! Ada **Tante** sama **Om**!" **Caden** teriak kegirangan sambil lari ke arah mereka.
**Carlos** ngangkat **Caden** ke gendongannya dengan sayang. "Gimana kabarnya, **bayi** laki-laki?"
"Aku baik, **Om**. **Mommy** sama **Daddy** beliin aku banyak mainan!" **Caden** nyerocos senang.
**Marina** senyum. "Mau cium, **bayi** laki-laki?"
**Caden** dengan semangat ngecup pipi tantenya.
**Marina** dan **Clarice** duduk di bangku kayu, ngobrol seru, sementara para cowok ngomongin soal kebun setelah **Kakek Eliezer** gabung.
"Aku mau cerita sesuatu, sepupu," kata **Marina**, naruh tangannya di perut.
"Apaan?" tanya **Clarice**. "Kamu kenapa?"
**Marina** geleng. "Aku hamil dua bulan. Akhirnya!" dia nyerocos ngasih tau kabar gembira, senyumnya merekah.
"Wow! Keren banget! Selamat ya!" **Clarice** senyum lebar.
Para cowok ngelirik mereka, penasaran apa yang diobrolin.
"Guys, **Marina** hamil dua bulan!" **Clarice** ngumumin kabar baiknya.
"Kabar bagus!"
"Selamat ya!"
"Berkah dari **Dewi Bulan**!"
Pasangan itu dapat ucapan selamat dari semua orang.
Buat ngerayain acara bahagia ini, **Alpha Callum** balik ke kota dan beli makanan enak dari restoran katering favoritnya.
Mereka ngadain pesta makan malam malam itu di rumah kebun.
Dengan tangan terbuka, **Kakek Eliezer** resmi nyambut pasangan itu di kebun. "Guys, selamat datang di rumah kami! Kita keluarga di sini."
"Makasih banyak, **Kakek**! Makasih buat semua bantuannya," kata **Carlos** bersyukur.
Air mata bahagia dan syukur bersinar di mata **Marina**."Makasih buat sambutannya yang hangat, **Kakek**. Makasih, guys, buat cinta dan penerimaannya. Kami hargai kebaikan kalian."
**Clarice** meluk sepupunya, terharu. Mata mereka berkaca-kaca.
Malam itu, **Marina** dan **Carlos** masuk kamar mereka di lantai atas dan istirahat lebih awal.
Sementara itu, di kamar **Clarice**, setelah nidurin **Caden**, pasangan itu lagi diskusi soal rencana masa depan mereka.
"Lebih gampang buat ceraiin istriku kalau gak ada pihak ketiga yang terlibat. Dia gak boleh tau soal kamu dan **Caden**," kata **Alpha Callum** murung.
**Clarice** tersentak dalam hati. Tentu aja, dia pihak ketiga dalam pernikahan mereka. Dia perusak hubungan, sama kayak **Aurelia**. Julukan jelek yang gak dia banggain. Tapi karena dia udah dinyatakan mati sama **Mantan suami**-nya, dia cuma bisa ngandelin cinta dan perlindungan **Callum**.
"Maaf ya, **sayang**," **Alpha Callum** minta maaf dengan tulus, ngecup lembut kepalanya.
"Aku gak papa kok. Gak usah khawatir," **Clarice** senyum meyakinkan, nyoba nutupin sakit di dalam. Satu-satunya waktu dia bisa bener-bener bahagia cuma pas **Callum** dan istrinya resmi cerai.
Satu-satunya hal yang bisa dia lakuin sekarang adalah ikutin alur dan dukung rencana **Callum** dari A sampai Z, apalagi sekarang dia akhirnya ketemu lagi sama **anak** kesayangannya.
Dia butuh cinta dan perlindungan **Callum** lebih dari sebelumnya, demi **Caden** dan **Lorey** juga.
"Kamu pikir istrimu bakal nyerah gitu aja soal pernikahan kalian?" tanyanya.
**Alpha Callum** geleng. "Jujur, jawabannya enggak."
"Kayaknya jalan menuju kebahagiaan kita bakal berliku-liku. Bener gak sih?" tanyanya, padahal udah tau jawabannya.
"Iya, kayaknya," dia ngaku lesu. "Tapi jangan khawatir, pada akhirnya kita bakal punya akhir yang bahagia," dia ngeyakinin.
"Aku percaya sama kamu, **sayang**. Pada akhirnya, cinta kita bakal menang," katanya sambil mikir, natap dia dengan cinta yang bersinar di matanya.
"Sementara itu... Kamu, **Lorey** dan **Caden** harus pindah ke rumah yang dulu aku sewa buat kamu, yang ada kolam renangnya di halaman belakang. Aku yakin **Caden** bakal suka tempat itu," katanya percaya diri. "Cuma sementara kok. Aku bakal cari tempat yang lebih bagus segera."
"Gak usah cari properti lain, aku suka tempat itu. Aku ngerasa nyaman di sana. **Anak** kita pasti suka rumah itu begitu dia lihat kolam renangnya," kata **Clarice** percaya diri.
"Oke, aku senang kamu suka tempat itu. Dekat sekolah. Aku udah suruh **Asisten**ku nanya ke **Pemilik**nya kalau dia mau jual propertinya, biar aku bisa beli dan atas nama kamu. Terus aku juga berencana beli mobil baru biar kamu bisa belajar nyetir. Aku bakal ajarin kamu nyetir biar kamu bisa nganter **Caden** ke sekolah," tambahnya.
"Keren. Tapi gak usah ajarin aku nyetir. Aku bisa nyetir," katanya sambil senyum.
"Mantap! Aku bakal biarin kamu milih mobil sendiri," katanya.
**Clarice** senyum, bersyukur atas kebaikannya. "Jadi kapan kita pindah ke rumahnya?" tanyanya.
"Minggu depan, Minggu sore," jawabnya.
"Oke. Catat," katanya, nguap, nutupin mulutnya.
"Kamu ngantuk ya?" tanyanya.
"Iya, ngantuk," jawabnya.
"Oke, tidur yuk," katanya.
"Tunggu," dia tiba-tiba inget satu hal penting. "Ada sesuatu yang penting banget yang mau aku kasih tau..."
"Lanjut, cerita aja, aku dengerin," desaknya.
"Karena aku udah dianggap mati di pikiran semua orang, mungkin udah waktunya buat bikin nama baru buat diriku. Aku mau bikin identitas baru, biar aku bisa ninggalin masa lalu yang bergejolak ini. Aku mau hidup baru sama kamu dan **anak** kita dengan identitas baruku," katanya sedih. Masih ada sebagian besar dirinya yang nolak buat nyerahin identitas lamanya, tapi demi hidup bahagia dan damai sama **Callum** dan anaknya, dia harus bikin identitas baru, bebas dari bayang-bayang masa lalunya.
"Kamu yakin?" tanyanya, merhatiin wajahnya dengan seksama, ngelihat emosi yang bertentangan terpancar di matanya.
"Iya. Aku udah mutusin. Aku mau punya identitas baru," katanya dengan kepastian di suaranya.
"Oke, bikin daftar detail identitas apa yang mau kamu bikin. Aku bakal suruh **Asisten**ku buat cari tau mekanismenya gimana cara bikin identitas baru kamu secara legal," katanya tenang.
"Oke, aku bakal bikin daftar," katanya dan mulai nguap lagi.
"**Sayang**, kamu ngantuk banget. Tidur yuk sekarang," katanya dan ngecup kepalanya.
"Oke." **Clarice** jalan ke lemari, ngambil piyamanya, terus masuk kamar mandi. Dia sikat gigi dan cuci muka kilat. Dia keluar dari pintu kamar mandi beberapa saat kemudian, udah pake piyamanya.
**Alpha Callum** udah tiduran di kasur.
Dia matiin lampu dan rebahan di sisi kasurnya. "Selamat malam, **sayang**. Aku cinta kamu."
"Aku lebih cinta kamu, **sayang**," jawabnya dengan nada ngantuk.
**Clarice** ngecup kening **Caden** dan nutup mata buat tidur.
Pasangan itu terlelap beberapa menit kemudian.