28. Bersama Lagi
Siang itu, Clarice bosen di dalem kamar, jadi dia keluar, duduk di kursi di bawah pohon rindang, nikmatin angin sepoi-sepoi sambil baca buku.
Lorey lagi nyuci di belakang rumah, sementara Kakek Eliezer lagi tidur siang di kamarnya.
Dia merem sebentar, nikmatin suasana yang tenang, diiringi suara burung berkicau di dahan-dahan pohon.
Waktu dia buka mata, dia disambut pemandangan orang yang dia sayang, berdiri di depannya, bawa kantong makanan take-out restoran, senyum ke arahnya.
"Gimana sorenya, sayang?" tanyanya, duduk di bangku kayu di sampingnya dan ngecup keningnya penuh kasih.
Dia senyum. "Bagus kok sejauh ini."
"Aku beliin pai apel kesukaanmu pake cheddar sama soda buat cemilan soremu," katanya, ngasih hadiah itu ke dia.
"Wah, enak banget!" Dia senyum bahagia, ngeliatin kantong makanan take-out restoran itu. "Makasih banyak, sayang," katanya, ngecup pipinya penuh sayang.
"Gimana pengalamanmu di mall kemarin? Kalian seneng gak?" tanyanya.
"Iya, seneng banget!" jawabnya, terhibur, apalagi waktu dia inget gimana Aurelia dan Kaspar jatuh dengan parahnya di eskalator.
"Emang ada apa di mall?" tanyanya, pengen tau informasi. "George bilang ada sesuatu yang terjadi di mall, tapi dia gak bisa cerita karena dia gak tau cerita aslinya, dan dia malu nanya."
Clarice nyengir. "Ah, dia pasti ngomongin soal Aurelia dan dukun Kaspar, mereka kesandung di eskalator karena Kakek pake sihirnya buat hukum mereka atas namaku," jelasnya sambil terhibur.
"Oh, mereka beneran di sana? Di mall yang sama kayak kalian?" tanyanya kaget.
"Yup. Dunia emang kecil banget. Tapi mereka gak liat kita dan walaupun liat, mereka gak bakal bisa kenalin kita karena Lorey sama aku pake wig sama kacamata item gede, nutupin mata kita," jelasnya.
"Oh, jadi, kamu sendiri yang nyuruh Pops buat hukum musuhmu?" tanyanya.
Clarice geleng kepala. "Enggak. Soalnya aku gak mau bikin masalah di dalem mall. Lagian, Kakek yang mulai duluan. Sebelum aku suruh dia berhenti, dia udah ngikutin mereka. Aku gak tau Kakek ngapain, tapi aku cuma liat Aurelia dan Kaspar jatuh di eskalator, ketiban satu sama lain, muka mereka kena lantai. Kayaknya hak tinggi Aurelia patah karena berat badannya, makanya dia kehilangan keseimbangan, narik Kaspar ikut jatuh. Selebihnya sih sejarah."
Alpha Callum nyengir. "Bagus buat mereka. Aku gak kasihan sama mereka," katanya.
"Aku juga, aku gak bisa kasihan sama mereka. Malah, aku seneng ngeliat mereka jatuh ke lantai. Aku sama sekali gak kasihan sama mereka. Aku malah kesel," katanya sambil nahan gigi.
"Oke, udah, gak usah ngomongin mereka lagi. Mereka cuma bakal ngerusak mood bagusmu," katanya nenangin, ngusap punggungnya pelan. "Udah beli semuanya?"
Clarice ngangguk. "Udah, kita udah beli semuanya termasuk anggaran belanjaan buat pertanian buat seminggu."
"Bagus." Alpha Callum senang. "Mau makan cemilan enakmu sekarang?" tanyanya.
"Yup, aroma pai apel yang lezat masuk ke hidungku, bikin aku laper," jawabnya sambil senyum.
"Ngomong-ngomong, pada kemana sih?" tanyanya, ngeliatin sekeliling.
"Kakek lagi tidur di kamarnya sementara Lorey lagi nyuci di belakang rumah," jawabnya.
"Oke, ayo ke rumah dan taro pai apelnya di piring," katanya, berdiri.
"Oke." Dia berdiri. "Ngomong-ngomong, aku balikin kartu yang kamu kasih," katanya.
"Gak usah. Itu buat kamu simpen dari sekarang jadi kamu punya uang buat beli semua yang kamu butuhin buat kamu sama Caden. Kamu juga bisa belanja lagi di mall buat bahan makanan dan hal-hal lain yang mau dipake di sini di pertanian. Hindarin aja dua monster itu kalau kamu liat mereka lagi di mall demi keselamatanmu," katanya dengan nada serius.
"Kamu yakin soal kartu itu?" tanyanya gak percaya.
"Yakin," jawabnya. "Kalau kamu butuh mobil rental dan George buat nyetir kamu ke kota, aku aturin," tambahnya.
"Wah, makasih banyak, sayang!" serunya senang, bersyukur atas kemurahan hatinya.
"Apapun buat kamu, cintaku," katanya lembut, nyium keningnya. Hatinya penuh cinta buat dia.
Mereka masuk rumah, ke dapur dan naruh pai apel di piring.
Kakek Eliezer keluar dari kamarnya dan gabung sama pasangan itu di meja, makan cemilan enak.
Mereka ngobrol riang dan diskusi soal kelompok.
"Gimana kelompoknya, anakku?" tanya Kakek. Dia mau nanya gimana istrinya, tapi dia langsung berhenti pas waktu buat ngomongin kata-kata itu karena Clarice ada sama mereka.
Alpha Callum narik napas dalam-dalam. "Kita lagi sibuk karena hujan deras terus turun di desa-desa dan tanah longsor berbahaya terjadi sporadis. Jadi kita sibuk bawa bantuan ke daerah yang kena dampak. Aku harus ada di sana secara langsung buat nilai situasi dengan mata kepalaku sendiri. Karena hujan terus turun, kerusakan pada kehidupan dan properti orang-orang juga meningkat. Jadi aku harus ada di sana buat nyemangatin semangat orang-orang dan bantu mereka pulih dengan cepat," dia menjelaskan lebih lanjut.
"Kamu pemimpin yang baik dan penyayang, anakku. Aku bangga banget sama kamu," kata Kakek Eliezer dengan jempol ke atas. Matanya bersinar dengan kebanggaan dan cinta buat cicitnya. "Kalau kamu butuh lebih banyak relawan buat nyiapin paket bantuan, aku bersedia jadi relawan," katanya.
"Aku juga. Aku bersedia jadi relawan," kata Clarice bersemangat.
"Makasih, guys. Saat ini, kita punya banyak relawan yang ngepak bantuan siang dan malam. Jadi gak ada kekurangan relawan buat sekarang. Tapi kalau hujan terus turun dan lebih banyak daerah yang kena dampak tanah longsor dan banjir, kita mungkin butuh lebih banyak relawan. Aku kabarin kalian, guys," jawab Alpha Callum sambil senyum.
Setelah mereka selesai makan cemilan enak mereka, Clarice nunjukin truk-truk mainan ke Alpha Callum. "Menurutmu anak kita bakal suka gak?" dia nanya pendapatnya.
Alpha Callum ngambil mainan itu dan meriksa satu per satu. "Bagus kok kelihatannya dan kualitasnya bagus. Aku yakin anak kita bakal suka," komentarnya dengan apresiasi.
Clarice berseri-seri setelah denger persetujuannya.
Setelah mereka masukin lagi mainan itu ke kantong belanja, mereka saling liat, mata mereka berkomunikasi diam-diam. Terus mereka berdua senyum.
Alpha Callum ngeliatin Kakek. "Pops, Clarice sama aku mau ke danau buat berenang," dia ngasih tau.
"Oke. Selamat berenang, guys," jawab Kakek Eliezer.
"Aku mau ke atas ke kamar buat ambil ranselku," kata Clarice bersemangat, pengen banget ngabisin waktu berkualitas sama Alpha Callum. Dia masuk kamarnya dan ganti baju pake rashguard hitam putih. Terus dia masukin lotion, tabir surya, cermin dan sisir rambut ke tas.
Beberapa menit kemudian, Clarice turun dan keluar rumah bareng Alpha Callum.
"Mereka udah gak bisa dipisahin lagi," gumam Kakek Eliezer sambil ngeliatin pasangan itu menghilang dari pandangannya. Sambil geleng-geleng kepala, dia balik ke rumah buat ngambil alat berkebunnya.
Sementara itu...
Pasangan bahagia itu keliatan jalan santai di jalan menuju danau, gandengan tangan, sesekali ngeliatin mata satu sama lain penuh sayang. Mereka bakal bisikin kata-kata manis ke telinga masing-masing dan ketawa cekikikan terhibur.
Pasangan itu sampe di danau. Mereka naro tas di bawah pohon rindang dan lompat ke danau, bikin cipratan besar di air yang tenang, ketawa berisik.