48. Harga yang Mahal
Setelah beberapa jam nangis, Luna Viviana akhirnya berhenti nangis.
Mia merasa lega. Denger tangisan temennya yang menyedihkan bikin dia stres karena dia udah keabisan ide buat bantuin. "Lo udah okean sekarang?" tanyanya.
Luna Viviana ngangguk. "Iya. Setelah nangis banjir, gue ngerasa lebih baik, makasih ya," katanya sambil senyum bersyukur.
"Bagus! Gue bener-bener khawatir sama keadaan lo. Lo gak bisa terus-terusan nangis. Sekarang pernikahan lo udah selesai, lo harus *move on* demi anak lo yang belum lahir. Walaupun lo udah gak pengen hidup lagi, lo harus tetep hidup karena lo lagi hamil. Ngerti gak?"
Luna Viviana ngangguk. "Tentu aja ngerti," jawabnya, sambil ngelus-ngelus perutnya dengan lembut. "Gue bakal jadi ibu dan orang yang lebih baik buat bayi gue." Suaranya penuh tanggung jawab.
Mia seneng banget sama omongan temennya itu, penuh semangat. "Terus, rencana lo apa? Keputusan lo gimana?"
Luna Viviana narik napas panjang. "Gue bakal terima perceraian dan *move on*," katanya dengan nada pasti.
Kaget, Mia ngeliatin temennya, kaget sama keputusannya yang tiba-tiba. "Wah, lo yakin? Cepet banget!"
Luna Viviana senyum. "Iya. Lo bener, gue udah gak bisa lagi nyelametin pernikahan gue karena suami gue udah ninggalin gue demi cewek lain. Kenapa harus memperpanjang sakit hati? Walaupun gue nangis kayak banjir, dia gak bakal balik lagi ke sisi gue. Pernikahan gue udah selesai, dan gue harus mulai mikirin masa depan gue sama anak gue. Ini bukan akhir dunia. Siapa tau nanti gue ketemu cowok yang bakal nemenin gue selamanya," katanya optimis.
"Wah! Gue seneng banget buat lo, sahabat!" Mia tepuk tangan kegirangan, seneng banget sama temennya yang cepet nerima takdirnya. Dia meluk dan bilang lembut, "Lo pasti baik-baik aja."
"Gue pastiin gue baik-baik aja," kata Luna Viviana dengan suara penuh kekuatan baru.
"Terus, setelah cerai, rencana lo apa?" tanya Mia.
"Sebelum gue tanda tangan surat cerai, gue pastiin anak gue dan gue bakal dicukupi secara finansial sama suami gue seumur hidup. Gue bakal dapet tunjangan bulanan dari mantan suami gue selama gue hidup. Gue bakal minta uang penyelesaian cerai yang gede. Gue bakal beli rumah deket pantai dan nikmatin kehamilan gue. Gue bakal jaga diri gue dan bayi gue. Gue bakal jauhin stres dan hal-hal negatif dan nikmatin hidup gue dikelilingi alam. Itu rencana gue," kata Luna Viviana sambil senyum.
"Itu dia, sayang! Semangatnya, sahabatku!" Mia heboh kegirangan, seneng banget sama semangat temennya. "Gue bakal bantu lo cari rumah yang bagus deket pantai," katanya dengan suara bersemangat.
"Iya. Rumah pantai yang keren emang pilihan pertama gue," pikir Luna Viviana.
"Gue punya Teman agen real estat yang ngurusin website. Kita bisa nemuin banyak banget properti yang dijual di sana. Lo mau cari properti sekarang? Kita bisa buka websitenya dan liat-liat properti yang ada di sana," saran Mia.
"Boleh banget, kenapa enggak? Ayo!" kata Luna Viviana dengan semangat. Dia pergi ke meja rias dan ngambil tabletnya dan mulai buka-buka website bareng Mia.
Situs web itu punya banyak banget daftar properti, mulai dari kondominium, rumah pantai, kantor, rumah peternakan, dan lain-lain.
Beberapa menit kemudian.
"Rumah bungalow modern tiga kamar ini bagus banget. Gue suka! Cocok banget buat lo dan bayi lo," Mia heboh senang.
"Iya, rumahnya keliatan imut dan nyaman, gak terlalu besar dan gak terlalu kecil buat gue dan bayi gue," Luna Viviana setuju.
"Dan ini ada lagi. Rumah modern dua lantai dan punya balkon dan beranda yang bagus banget yang menghadap pantai yang indah. Tempat yang sempurna buat liat matahari terbit di laut," kata Mia, ngeliatin rumah bergaya modern yang terletak di properti pantai pribadi.
"Dan ada kolam renang yang bagus di belakang rumah! Sempurna! Ada semua yang gue butuhin. Kayak rumah liburan. Gue suka banget!" kata Luna Viviana dengan ceria.
"Iya, yang ini keliatan lebih bagus dari yang pertama," Mia setuju. "Coba kita liat properti lain, siapa tau kita bisa nemuin yang terbaik dari yang terbaik."
"Iya, gue cuma mau yang terbaik buat gue dan anak gue," kata Luna Viviana, matanya berbinar-binar.
Mereka buka-buka website properti dan nemuin 6 properti pantai yang menakjubkan lainnya yang sesuai sama selera Luna Viviana.
"Gue mau liat properti ini besok! Gue gak sabar pengen tinggal di sana secepatnya," kata Luna Viviana. "Minta Teman agen real estat lo buat mastiin semua properti ini masih dijual. Gue pengen liat enam properti dalam tiga hari. Gue pengen ganti suasana SECEPATNYA! Gue gak mau lagi tinggal di rumah ini yang penuh kenangan menyakitkan tentang gue dan suami gue. Gue pengen mulai hidup baru," tambahnya, suaranya penuh tekad dan semangat buat mulai hidup baru.
Kaget, Mia ngeliatin temennya dengan seksama. Kagum sama perubahan cepetnya dari cewek yang nangis tersiksa jadi orang yang sama sekali baru, matanya berbinar-binar penuh tujuan. "Um, lo yakin mau langsung pergi dari rumah ini?"
Luna Viviana senyum, terhibur sama ekspresi kaget di wajah temennya. "Kenapa? Ada apa sama keputusan spontan gue? Emang susah dipercaya cuma dalam beberapa jam nangis kejer, gue bisa yakinin diri gue buat *move on* dengan cepet. Ini yang dari awal lo coba bilang, buat ngelepas Mantan suami gue dan mulai ngerencanain masa depan gue. Gue harus lakuin ini, biar gue gak gila mikirin patah hati dan kehilangan gue. Pindah ke rumah pantai, bebas dari kenangan masa lalu gue yang menyakitkan, adalah hal terbaik yang harus dilakuin. Ini dia! Gue *move forward*!" katanya, suaranya bergetar dengan energi.
"Wah, lo *move on* cepet banget, bro. Gue *mind-blown*!" Mia menjerit senang karena ngeliat ketulusan di mata temennya. Tapi dia merasa agak gak nyata juga.
Mia langsung nelpon Teman agen real estat-nya dan nanya apa mereka bisa tur ke enam properti itu dalam beberapa hari ke depan. "Apa semua propertinya masih dijual?" tanyanya di telepon.
"Iya, semuanya. Gue bisa kasih tur kapan aja. Kasih aja jadwalnya," jawab agen itu.
"Oke. Kita bakal liat properti pantai besok pagi. Apa lo bisa?" tanyanya.
"Bisa banget! Gue tunggu di kafe Lazzie besok jam 9:00 pagi. Lo bisa?" tanya agen itu.
Mia ngeliat temennya yang lagi dengerin di sebelahnya, yang udah ngasih jempol. "Oke, jam 9:00 deh..."
"Oke. Sampai jumpa besok. Bye," agen itu mengakhiri percakapan teleponnya.
Mia menghadap temennya. "Kita udah jadwal buat jalan-jalan besok di pantai. Gue gak sabar pengen liat properti keren itu!" katanya bersemangat. Dia seneng banget, bahagia bisa mendukung temennya dan memulai fase baru dalam hidupnya.
Luna Viviana senyum. "Gue juga!" Dia pergi ke meja rias, ngambil buku catatan dari lacinya dan nulis sesuatu di sana.
"Lo lagi ngapain?" tanya Mia.
"Gue mau bikin perjanjian penyelesaian perceraian. Suami kesayangan gue harus nurutin tiga keinginan gue sebelum gue kasih dia cerai," jawab Luna Viviana dengan nakal.
Penasaran, Mia nanya, "Boleh gue liat daftarnya?"
"Boleh!" Luna Viviana nyerahin daftar itu ke dia.
Mata Mia membelalak kaget setelah baca daftar itu. Mulutnya kebuka lebar. "Ya ampun! Daftar lo gila banget!"
Luna Viviana nyengir. "Itu harga yang harus dibayar suami gue karena cerai dari gue."
Kaget, Mia geleng-geleng kepala saat temennya menuju pintu. Dia yakin banget Alpha Callum bakal nolak daftar itu. Gak masuk akal!
Luna Viviana berhenti di depan pintu dan ngeliatin Mia. "Gue mau ke kantor suami gue buat ngasih dia daftar gue. Jangan keluar dari kamar. Gue balik lagi sebentar," katanya, megang gagang pintu dan keluar dari kamar.