117. Darurat!
Lima bulan kemudian.
**Clarice** ngobrol serius sama **Demetria** di ruang tamu, pagi-pagi banget.
"**Sayang**, kasih tahu aku. Kamu udah siap belum ditinggal sendiri?" tanya **Demetria**.
"Kenapa?" Alis **Clarice** berkerut, kayak khawatir gitu.
"Kamu udah bagus latihannya. Udah waktunya aku menghilang. Aku bakal pergi bulan depan. Tapi sebelum pergi, aku janji sama **Martha** buat bantuin dia dan timnya. Mereka lagi kesulitan nyari pemimpin sindikat bawah tanah ilegal yang bikin kota jadi kacau. Aku bakal bantu mereka sebelum aku menghilang," kata **Demetria** dengan santai.
**Clarice** jadi sedih. Dia udah biasa banget ada **Demetria** di sampingnya, jadi kesepian deh kalau mentornya pergi. "Oke. Aku ngerti. Aku bakal nemenin kamu dalam misi-misi kamu. Sekarang waktunya buat latihan aku dipraktekin," katanya semangat.
"Bagus. Ayo kita lakuin barengan kalau gitu," **Demetria** senyum. "Tapi sebelum itu, kita bahas dulu Asosiasi Vampir Midnight Wanderers. Karena malam ini aku berencana buat bawa kamu ke markas buat ketemu tim dan **Magnus**, penerusku. Malam ini, kamu bakal ketemu mereka dengan identitas **Supreme Punisher** kamu. Kamu siap buat malam ini?" tanyanya.
**Clarice** senyum. "Ya, aku semangat banget mau ketemu **Magnus** dan tim!" jawabnya antusias.
"Keren! Sekarang kita siap-siap buat nanti malam. Kamu harus kasih kesan yang membekas di hati mereka. Sesuatu yang bikin mereka takut, biar mereka kerja dengan bener dan nggak nyalahgunakan jabatan mereka," kata **Demetria**.
"Oke. Aku siap banget. Gas pol!" **Clarice** nyengir, suaranya penuh percaya diri.
Kedua wanita itu diskusi tentang apa yang harus **Clarice** lakuin buat bikin semua orang terkesan. Pokoknya, dia kan **Supreme Punisher**. Dia harus kelihatan dan bertindak dengan kuat di depan anak buahnya.
Setelah beberapa jam ngobrol serius, mereka selesai diskusi.
"Kamu siap buat malam ini?" tanya **Demetria**.
"Aku siap 100%!" kata **Clarice** dengan semangat.
"Bagus." **Demetria** ngasih jempol, senang sama jawabannya. Dia berdiri. "Aku mau ke markas buat nyiapin semuanya buat pertemuan malam ini. Aku harus kasih tahu anak buah kalau kamu bakal datang ketemu mereka semua."
"Oke." **Clarice** ngangguk.
**Demetria** jalan ke arah pintu utama dan menghilang di luar.
**Clarice** pergi ke kamarnya dan bikin persiapan mental buat malam ini.
Waktu cepet banget berlalu.
**Clarice** baru aja selesai makan cemilan sorenya pas **Demetria** tiba-tiba muncul di depannya.
"Kamu balik cepet banget? Kenapa?" tanya **Clarice**.
"Ada sesuatu. Darurat!" kata **Demetria** dengan cemas.
"Apaan?" **Clarice** langsung nanya.
"**Martha** nge-text aku, tadi malam, keponakannya bareng temen baiknya dan beberapa temen kerja pergi dugem buat ngerayain ulang tahun temennya. Tapi dia dan temennya nggak pernah pulang. Mereka nggak bales telepon dan text dari keluarga, singkatnya, mereka hilang," jelas **Demetria**.
"Oh, turut prihatin. Semoga cewek-cewek itu baik-baik aja dan pulang dengan selamat hari ini," kata **Clarice** optimis.
"Aku bakal tunda pertemuan kamu sama **Magnus** dan yang lain sampai aku nemuin keponakannya **Martha**," kata **Demetria** dengan nada serius.
"Oke, nggak masalah. Boleh tahu nama dan umur cewek-cewek yang hilang itu? Apa mereka sama pacar mereka? Sebenarnya apa yang terjadi?" **Clarice** pengen tahu lebih banyak tentang cewek-cewek yang hilang itu.
"Keponakannya **Martha** namanya **Beatrice** dan cewek satunya lagi **Leona**. Keduanya umur 22 tahun, masih single dan kerja di departemen store. Temen-temen mereka pikir mereka udah pulang dengan selamat tadi malam. Tapi keluarga mereka lapor kalau cewek-cewek itu nggak sampai rumah tadi malam, jadi pencarian cewek-cewek yang hilang itu masih terus berlangsung," jelas **Demetria**.
**Clarice** menghela napas berat. "Kalau cewek-cewek itu nggak jawab telepon dan text dari temen dan keluarga, dan nggak bisa pulang malam, itu tanda bahaya. Aku takut mereka diculik," katanya, berharap dia salah tentang dugaannya.
"Atau dibawa sama sindikat perdagangan manusia, atau berakhir di ruang bawah tanah seseorang, disiksa dan diperkosa sama laki-laki predator," **Demetria** nambahin tebakannya sendiri. "Makanya, lebih baik punya kekuatan, karena kita bisa melindungi diri dari orang jahat. Kalau orang-orang ini sampai nyulik kita, penculiknya udah mati sekarang," tambahnya.
"Iya, kamu bener," **Clarice** ngangguk sedih. Dia ngerasa beruntung karena setelah punya kekuatan super, dia udah nggak jadi orang lemah kayak dulu lagi. "Sekarang masih siang, jam 4:00 sore, dan klubnya baru buka jam 6:00 malam. Jadi rencananya gimana?" tanyanya.
**Demetria** ngejelasin rencananya. "Kita bakal ke klub, diem-diem di sekitar sana, karena kalau pelakunya sindikat perdagangan manusia, mereka biasanya nyari korban. Kita bakal nunjukin diri kita ke mereka sebagai umpan. Kita bakal pura-pura jadi turis, lihat-lihat, pura-pura jadi cewek lugu. Terus mereka bakal ngikutin kita ke klub dan ke mana-mana, dan pas kita lengah, mereka bakal langsung nyerang. Tujuan kita adalah buat bikin mereka bawa kita ke tempat persembunyian mereka. Mungkin kita bisa nemuin dua cewek yang hilang itu di sana."
"Itu rencana bagus, tapi gimana kalau pelakunya pembunuh berantai atau pemerkosa dan dia nyembunyiin cewek-cewek itu di ruang bawah tanah? Gimana caranya kita tahu identitas penculiknya?" tanya **Clarice**.
**Demetria** jawab, "Itu teori lain yang harus kita pikirin, karena apa aja bisa terjadi. Tapi karena kita menawarkan diri di tempat terbuka, kita mungkin bakal menarik perhatian berbagai jenis orang jahat. Aku cuma berharap siapa pun yang tertarik sama kita juga bakal nuntun kita ke **Beatrice** dan **Leona**, jadi kita bisa nyelametin mereka."
"Jadi, karena kita mau dugem, apa kita ngantisipasi minuman yang dicampur obat-obatan yang bisa bikin cewek lemah dan nggak sadar diri?" tanya **Clarice**.
"Iya. Itu kemungkinan besar. Jangan biarin orang lain pegang minuman kamu. Pesan langsung ke bartender dan minum langsung dari gelas," **Demetria** memperingatkan.
**Clarice** senyum. "Siap, bos!"
"Aku harap mereka masih hidup," kata **Clarice**, semakin khawatir tentang keselamatan cewek-cewek itu. "Aku harap kita bisa nemuin mereka hidup dan sehat," dia tulus berharap.
"Kalau kita bisa nemuin mereka dengan cepet, ada kemungkinan besar kita masih bisa nyelametin mereka. Siap-siap, kita berangkat satu jam lagi," jawab **Demetria**.
"Tunggu, mereka kayak gimana? Kamu punya foto kedua cewek itu?" tanya **Clarice**.
"Iya, aku punya foto mereka," kata **Demetria** dan handphone muncul di tangannya.
Mata **Clarice** membelalak. "Wah, kamu punya handphone? Aku nggak nyadar," gumamnya.
**Demetria** nyengir. "Aku jarang pake. Cuma alat komunikasi antara aku dan staf di markas dan **Martha**. Aku bukan pecandu handphone yang sering ngecek handphone setiap detik atau setiap menit, ngecek apa yang lagi tren di media sosial," dia bercanda.
**Clarice** tertawa pelan, merasa lucu dengan candaan mentornya.
**Demetria** ngebuka handphonenya dan nunjukin foto kedua cewek itu yang dikirim sama **Martha**. "**Beatrice** itu yang rambutnya panjang bergelombang warna cokelat, dan cewek yang rambutnya pirang keriting sebahu ini **Leona**."
**Clarice** menghafal wajah cewek-cewek itu biar dia gampang ingetnya. "Aku udah selesai inget wajah mereka."
"Bagus. Aku mau ke kamar," kata **Demetria**, menuju tangga.
**Clarice** pergi ke kamarnya buat siap-siap buat misi mereka malam ini.
Waktu berlalu begitu cepat.
Satu jam kemudian, cewek-cewek itu udah siap berangkat, keduanya pake celana panjang model lebar yang modis dan blus lengan panjang. Mereka ninggalin gunung suci dan teleport ke kota.
Mereka masuk ke salon terdekat buat mempercantik diri, berharap bisa menarik perhatian, terutama dari orang jahat. Mereka pengen nemuin keberadaan cewek-cewek yang hilang itu secepat mungkin.
Setelah selesai di salon, cewek-cewek itu langsung pergi ke klub malam NightBlue, tempat terakhir di mana cewek-cewek itu terlihat.
**Demetria** dan **Clarice** berdiri di trotoar di luar klub, nunggu giliran.
Banyak pengunjung yang ngantri, berusaha masuk lebih awal karena ada DJ terkenal yang mau mainin musik techno malam ini.
"Tempat ini nggak punya kamera CCTV? Kok mereka nggak punya rekaman video aktivitas cewek-cewek itu di dalam klub?" **Clarice** membisikkan kekhawatirannya ke telinga mentornya.
"Mereka punya, tapi rekaman video kedua cewek itu cuma ada sedikit. Mereka hilang tanpa jejak," jawab **Demetria**.
**Clarice** melirik kamera di atas pintu. "Gimana dengan kamera di atas pintu masuk itu? Apa nggak merekam saat cewek-cewek itu keluar dari tempat itu?" tanyanya.
"Kamera itu emang merekam kedua cewek itu keluar dari gedung dan naik taksi. Tapi setelah diselidiki, nomor plat mobilnya nggak terdaftar, kemungkinan palsu, dan kendaraan itu udah nggak bisa ditemukan lagi," jawab **Demetria**.
"Apa ada kemungkinan besar kita bakal diculik sama orang yang sama yang nyulik **Beatrice** dan **Leona**?" tanya **Clarice**.
"Aku nggak yakin. Kita mungkin nggak diculik sama orang jahat sama sekali karena para penculik itu nyari korban lain di tempat lain. Mereka mungkin udah nggak di sini lagi," kata **Demetria**. "Kita cuma ngambil kesempatan dengan ada di sini."
"Oh, susah juga. Kayak kita lagi main tebak-tebakan, nunggu buat lihat apa yang terjadi dan ke mana arahnya," gumam **Clarice**.
"Iya, bener banget. Karena kita nggak punya petunjuk apa pun dan taksi yang dinaikin cewek-cewek itu udah nggak bisa ditemukan lagi, kita cuma harus nunggu. Semoga ada orang yang nuntun kita ke lokasi cewek-cewek itu sebelum terlambat," kata **Demetria** optimis.
"Nyari **Beatrice** dan **Leona** kayak nyari jarum di tumpukan jerami. Aku punya firasat kita nyari di tempat yang salah," **Clarice** mengungkapkan kekhawatirannya yang semakin besar tentang ketidakpastian situasi mereka.