36. Hari Baru
Keesokan harinya, pagi-pagi, Alpha Callum kelihatan ngantuk di kursi. Dia membuka matanya lebar-lebar, nolak buat tidur. Beberapa menit lagi dan semua orang bakal bangun. Akhirnya dia bisa tidur. Dia ngucek matanya pelan-pelan pake tangannya, berusaha tetep melek.
Dia mulai nguap sambil ngelirik jendela. Sinar matahari pertama udah nembus masuk kamar.
Hari baru baru aja mulai.
Beberapa menit kemudian, Clarice menggeliat dalam tidurnya dan membuka mata. Dia ngeliatin anaknya yang masih tidur nyenyak di sampingnya. Dia naruh tangannya di jidat anaknya. Suhu tubuhnya udah normal pas dia pegang. Kayaknya demamnya udah bener-bener ilang. Dia ngerasa lega banget.
Dia ngelirik Callum yang lagi duduk di kursi di deket situ. "Selamat pagi," katanya pelan.
"Selamat pagi, sayang," jawabnya, sambil nguap.
Dia bangun dari tempat tidur. "Bangun dan tidur di kasur di samping anak kita, biar pas dia buka mata, kamu orang pertama yang dia liat pas bangun."
Alpha Callum senyum. "Ide bagus banget!" Dia berdiri dan tiduran di kasur di samping anaknya. Dia nyium kening Caden dan merem buat tidur. Dia langsung tidur.
Clarice jalan ke lemari dan ngambil beberapa baju, terus masuk kamar mandi buat nyiram air ke mukanya dan mulai hari.
Beberapa menit kemudian dia keluar kamar dan turun ke bawah buat ngambil kopi. Dia lagi mikirin mau nyiapin apa buat sarapan. Caden suka banget waffle, jadi dia bakal bikin waffle buat sarapan.
Lorey udah bangun dan lagi nyiapin sarapan di dapur. "Selamat pagi Luna!"
"Pagi, Lorey. Sarapan hari ini apa?" tanyanya.
"Waffle, ham, sama telur orak-arik. Semoga Caden suka waffle," kata Lorey, nyampur adonan waffle di mangkuk mixer dan nambahin dua telur ke campurannya.
"Dia suka banget waffle, apalagi pake sirup stroberi dan cokelat di atasnya," jawab Clarice.
"Keren! Aku lagi bikin waffle pake sirup stroberi buat si kecil," kata Lorey dengan riang.
"Aku bantuin kamu nyiapin masaknya," katanya, dan mulai kerja.
Mereka sibuk di dapur.
Beberapa menit kemudian, Kakek Eliezer masuk ke dapur. "Selamat pagi, semuanya," dia nyapa mereka dengan ceria.
"Selamat pagi, Kakek!" jawab para wanita serentak.
Kakek Eliezer ngambil cangkir dan sendok terus bikin kopi buat dirinya sendiri. "Gimana Caden hari ini?" tanyanya.
"Suhu tubuhnya udah normal sekarang. Callum lagi tidur di kasur di samping anak kita. Dia melek semalaman buat ngawasin suhu tubuh Caden," jawab Clarice.
"Aku seneng anak kecil kita udah mendingan sekarang," kata Kakek Eliezer, sambil nyruput kopinya. Dia keluar dari dapur dan naik ke atas buat ngecek pasien kesayangannya.
Pas dia sampe di kamar Clarice, ayah dan anak itu lagi tidur di kasur. Dia ngeliatin mereka dengan kelembutan yang terpancar di matanya.
Callum akhirnya punya anaknya dan belahan jiwanya lagi dalam hidupnya. Keluarganya sekarang udah lengkap.
Sayangnya, Luna Viviana gak bisa dibuang gitu aja. Dia pasti bakal ngelawan habis-habisan buat mastiin dia tetep jadi satu-satunya istri dan Luna Callum.
Bakalan jadi cinta segitiga yang berantakan pas Luna Viviana akhirnya balik dari liburannya di luar negeri. Dia gak bisa berhenti ngerasa khawatir tentang apa yang bakal terjadi di masa depan buat Clarice dan Caden. Mereka gak bisa terus-terusan hidup dalam bayang-bayang kayak gini.
Cepat atau lambat, Luna Viviana bakal tau rahasia yang suaminya coba sembunyiin di belakangnya.
Dia nurunin dirinya ke kursi dan terus nyruput kopinya, khawatir tentang badai yang lagi datang.
Beberapa menit kemudian, dia abis ngopi dan berdiri mau keluar kamar. Pas dari sudut matanya dia ngeliat Caden pelan-pelan buka matanya dan ngeliat orang asing tidur di sampingnya di kasur. Mata anak itu membelalak kaget.
Kakek Eliezer buru-buru ke kasur, biar anak itu gak kaget. "Selamat pagi, si kecil."
"Selamat pagi, Kakek," Caden jawab sambil senyum. Dia nunjuk tangannya ke cowok yang lagi tidur di sampingnya. "Dan siapa orang ini?" tanyanya polos.
Kakek Eliezer senyum. "Dia ayahmu, Daddy-mu. Namanya Callum. Mulai sekarang, kamu bisa panggil dia Daddy atau Ayah, oke?"
"Oke." Caden ngangguk-ngangguk. "Daddy..." katanya, nyolek-nyolek lengan Callum berulang kali.
Alpha Callum menggeliat dalam tidurnya dan terus tidur.
"Kenapa Daddy gak bangun, Kakek?" Caden nanya penasaran.
"Karena dia gak tidur semalem buat ngejagain kamu, dia mastiin demamnya ilang biar kamu bisa tidur nyenyak di malam hari," jelas Kakek Eliezer.
"Oh, oke, aku ngerti." Caden ngangguk-ngangguk.
"Sopan ya, oke? Jangan ganggu ayahmu pas dia lagi tidur," Kakek Eliezer ngingetin dia.
"Oke. Boleh aku mainin mainan aku sekarang?" tanya Caden.
"Nanti, setelah kamu selesai makan sarapan," jawab Kakek Eliezer sambil ngangguk.
Caden duduk tegak dan mau keluar dari kasur pas Alpha Callum tiba-tiba buka mata dan meluk anaknya. "Mau kemana, jagoan?" tanyanya, meluk dia dengan sayang, ngecengin mukanya dengan ciuman.
Caden menjerit kegirangan dan keheranan, terus ngeliatin dia. Mukanya berubah serius. "Kamu beneran ayahku? Daddy-ku?" tanyanya dengan takjub.
"Iya, anakku," jawab Alpha Callum dengan air mata di matanya. Rasanya enak banget pas akhirnya dia denger anaknya manggil dia Daddy. Dia gak bisa deskripsiin perasaan yang dia rasain saat itu. Jadi ayah bener-bener bikin hidupnya berarti dan luar biasa. Dia meluk anaknya erat-erat, ngebiarin dia tau kalo mulai saat itu dia bakal ngejagain dia, dan dia bakal selalu ada buat dia.
Pintu kebuka dan Clarice masuk kamar. Dia senyum ngeliat momen-momen yang indah antara ayah dan anak. Mereka nyatu dengan indah. "Sarapan udah siap, guys. Ayo sekarang ke meja makan buat makan," dia ngumumkannya dengan riang.
"Mommy, aku mau liat mainan aku!" pinta Caden.
Clarice menggelengkan kepalanya. "Nanti, sayang. Kamu harus makan dulu. Nanny Lorey masak waffle kesukaanmu pake sirup stroberi."
Muka Caden berseri-seri. "Wah! Aku suka banget waffle pake sirup stroberi! Kesukaan aku!" teriaknya dengan gembira.
"Oke, ayo sarapan sekarang, guys," kata Kakek Eliezer, menuju ke pintu.
Alpha Callum ngangkat anaknya dalam gendongannya dan keluar dari kamar, diikutin sama Clarice.
Mereka kumpul di ruang makan dan mulai makan sarapan mereka yang enak.
"Waffle enak!" Caden berseri-seri gembira.
"Semua waffle buat kamu, baby boy!" Lorey cekikikan.
Orang dewasa senyum dan terus makan makanan mereka. Caden makan empat waffle dan sisanya dimakan Kakek Eliezer. Setelah makan selesai, mereka keluar dari meja makan dan pergi ke ruang keluarga.
Alpha Callum ngambil mainan dari bagasi mobil dan ngebawa mereka ke ruang keluarga. "Anakku, ini mainan yang kita beli buat kamu. Semoga kamu suka," katanya. Satu per satu, dia ngeluarin mainan dari kantong belanja.
Mata Caden bersinar bahagia pas dia ngambil mainannya. "Wah, mainan aku banyak banget!" Dia kagum, senang tak terhingga. "Mommy, Daddy, ayo main!"
Clarice dan Alpha Callum senyum satu sama lain. "Tentu, sayang," jawab mereka serentak.
Kakek Eliezer ikut bersenang-senang. Selama tiga jam berikutnya, tawa riang mereka memenuhi ruang keluarga.