89. Awal yang Baik
Beberapa jam kemudian, jam 9:00 pagi, Viviana akhirnya bangun, rasanya seger banget. Bayi Alpha Callum udah bangun dan mulai nangis. Dia nyusuin beberapa menit, terus naruh bantal di sekeliling badannya yang kecil biar gak jatuh dari kasur.
Dia bangun dari kasur dan masuk kamar mandi dengan semangat. Akhirnya pulang!
Setelah selesai di kamar mandi, dia ngambil anak Alpha Callum dan keluar kamar buat nyari Mantan suami-nya buat ngucapin selamat pagi.
Dia disambut oleh Pembantu di luar pintu. "Selamat pagi, Nyonya."
"Aku bangun kesiangan. Laper nih. Sarapan udah siap?" tanya Viviana.
"Sudah, Nyonya. Alpha Callum udah di ruang makan, lagi sarapan sama anak-nya Caden," jawab Pembantu.
"Ah, oke. Ikut aku," kata Viviana, jalan ke tangga, gendong Bayi Alpha Callum di tangannya, semangat banget mau gabung sama Mantan suami-nya di ruang makan.
Waktu dia nyampe sana, ayah dan anak itu baru selesai makan dan mau pergi dari ruang makan. Viviana kecewa. "Selamat pagi, guys! Maaf ya aku bangun kesiangan, gak bisa gabung sarapan bareng kalian," dia minta maaf malu-malu.
Alpha Callum ngelihat dia dan ngangguk. "Makan dulu. Aku bawa Putri Alpha Callum ke ruang keluarga," katanya.
Dia ngambil Bayi Alpha Callum dari gendongan Viviana dan keluar dari ruangan bareng anak-nya.
Viviana menghela napas berat begitu Mantan suami-nya keluar dari ruang makan. Dia bersikap dingin ke dia. Jelas banget dia gak suka kehadiran dia di rumah. Dia ngejeburin diri ke kursi, ngambil alat makan dan mulai makan.
Pembantu masuk ke ruang makan. "Nyonya, mau kopi panas yang biasa?" tawar dia.
"Iya," jawab Viviana, ngangguk.
Pembantu pergi dan Viviana lanjut makan. Dia deg-degan mikirin apa yang bakal diomongin Mantan suami-nya nanti. Yang paling parah sih dia maksa nyewain rumah buat dia biar gak kelihatan. Dia harap dia salah.
Beberapa menit kemudian, Pembantu balik lagi bawa kopi dan dia selesai sarapan dengan perut kenyang.
Dia keluar dari ruang makan dan gabung sama Mantan suami-nya di sofa di ruang keluarga. Caden lagi main sama saudara perempuannya di dekat situ, diawasi sama pengasuh.
"Kita bahas tentang kamu tinggal di sini," Alpha Callum ngomong ke Mantan istri-nya.
Viviana menghela napas khawatir, gelisah di kursinya sambil ketemu tatapan tajamnya. "Um, iya..."
"Apa rencanamu dengan rumah tepi pantai yang kamu bakar secara gak sengaja?" Alpha Callum nanya, nadanya ada kesan nuduh.
Viviana gigit bibirnya, nahan diri biar gak ngomong sesuatu yang bakal dia sesali nanti. "Itu kecelakaan. Aku gak sengaja ngebakar rumahku," katanya, merasa bersalah.
"Oke, seperti yang kamu bilang. Jadi apa rencanamu? Kamu mau bangun rumah lagi di properti yang sama? Atau kamu mau jual tanahnya dan beli rumah lain di tempat lain?" dia nanya langsung, berusaha ke intinya, menghindari percakapan yang panjang dengan dia.
Viviana garuk-garuk kepala. Dia pengen banget bilang dia gak bakal beli properti lain. Dia gak bakal bangun rumah baru di properti tepi pantainya karena dia pengen tinggal di mansion buat bareng dia. Tapi dia yakin dia gak bakal suka denger tentang mereka.
"Apa yang ada di pikiranmu, Viviana? Apa yang kamu pikirkan?" dia nanya, kesel karena dia diem aja.
Mending dia kasih tau dia yang sebenarnya, pake keamanan dan kesejahteraan Putri Alpha Callum. "Um, boleh gak Putri Alpha Callum dan aku tinggal di sini di mansion beberapa bulan sambil aku bangun rumah lagi? Aku gak ada rencana buat beli rumah lain di kota lain. Aku mau bangun rumahku lagi dari nol, dengan desain baru," tambahnya.
"Oke. Kamu dan Putri Alpha Callum boleh tinggal di sini beberapa bulan selama rumah lagi dibangun," akhirnya kata Alpha Callum. Dia ngelihat cara anak-nya berinteraksi dengan adik perempuannya.
Kayaknya Caden bakal dapet banyak banget manfaat kalau dia bisa ngelihat saudara kandungnya setiap hari. Itu bakal bikin ikatan yang erat antara kedua anak itu dalam jangka panjang. Anak-nya bakal tumbuh jadi pelindung adiknya.
Kalo buat Viviana, hubungan mereka bakal tetap sama kayak Mantan pasangan seumur hidup. Gak perlu ubah apa pun dalam hubungan mereka. Lagian, mereka bakal tinggal di rumah yang sama cuma beberapa bulan aja. Gak ada yang lebih.
Setup mereka sekarang gak buruk sama sekali.
Viviana senyum sambil ngikutin tatapan Mantan suami-nya. Caden lagi seneng main sama saudara perempuannya. Itu pertanda bagus; dia bisa gunain itu buat keuntungannya sendiri. Kalo dia kerja keras buat ngebangun kepercayaan dan persahabatan Caden, dia bisa dengan mudah masuk ke peran Ibu tiri yang penyayang, ngasih cinta keibuan yang tulus buat dia.
Waktu dia dan Caden udah deket satu sama lain, Mantan suami-nya mungkin gak bakal ngejauhkan dia dari mansion lagi kalo dia ngelihat pengaruh baik yang dia punya ke anak-nya. Gak bisa dipungkiri kalo Caden masih butuh cinta seorang ibu pas dia tumbuh, dan dia mau ngasih itu selama dia bisa tinggal di mansion dalam waktu yang lama.
Akhirnya, dia bakal masuk ke hati Mantan suami-nya dalam jangka panjang.
Dia gak rugi apa pun tapi semuanya untung pada akhirnya.
Alpha Callum berdiri. "Aku mau ke kantor buat kerja sesuatu. Temenin anak-anak," katanya.
"Siap, Alpha," jawab Viviana riang. Hatinya seneng banget waktu dia nyuruh dia buat nemenin anak-anak, yang berarti dia udah mempercayakan anak-anaknya yang paling berharga ke perawatannya.
Alpha Callum berdiri, keluar dari ruang keluarga dan pergi ke kantornya di lantai atas buat mulai hari-nya.
Balik lagi di ruang keluarga, Viviana nyamperin Caden. "Halo Caden," katanya dengan nada sayang.
Caden ngelihat ke arah dia dan senyum. "Halo Tante," jawabnya riang.
"Kamu suka main sama saudara perempuanmu?" Viviana nanya, ngacak-ngacak rambut Caden.
"Iya, dia lucu dan imut banget! Aku suka nyentuh kaki dan tangannya yang gemuk," jawab Caden girang, matanya berbinar dengan kegembiraan yang polos.
Viviana senyum cerah. Seneng banget Caden punya ketertarikan alami sama adiknya. Dia bisa gunain kasih sayang Caden buat ngebentuk ikatan yang kuat antara mereka.
Begitu Caden udah biasa dengan kehadiran mereka, Alpha Callum gak punya pilihan selain ngijinin mereka tinggal di mansion selama dia suka.
Viviana senyum gembira. Rencananya pelan-pelan mulai berakar, dan dia bakal menuai hasilnya suatu hari nanti. Dia ngabisin sisa paginya ngobrol sama Caden dan juga ngerawat Bayi Alpha Callum. Pengasuh standby di dekat situ buat ngebantu dia.
Setelah kebakaran, akhirnya dia ngerasain kelegaan yang besar. Ngebakar rumahnya yang mahal itu sepadan banget!
Dia gak ada penyesalan.
Beberapa menit kemudian, Beta Amir masuk rumah dan lewat ruang keluarga, ngelihat Viviana ngobrol sama Caden. Jelas banget dia berusaha keras buat dapetin kasih sayang anak itu.
Viviana ngangkat kepalanya dan kena mata Beta Amir. Dia ngangguk ke dia dan senyum cerah. "Hai Amir!"
Beta Amir senyum. "Selamat pagi, Nyonya."
"Alpha kamu ada di kantornya," kata Viviana, nyuruh dia pergi cepet karena dia gak suka tatapan yang dia lihat di matanya, seolah-olah dia bisa nembus tindakannya. Mungkin dia cuma overreaksi karena dia bersalah.
"Oke, makasih atas infonya, Nyonya." Beta Amir ngangguk dan naik tangga, menuju ke lantai dua. Waktu dia nyampe di kantor, bosnya udah lagi ngecek map di mejanya. "Selamat pagi, Alpha!"
"Pagi," jawab Alpha Callum.
"Saya ngelihat Nyonya Viviana ngerawat anak-anak di bawah," Beta Amir berkomentar. "Caden kayaknya suka banget kehadiran dia di rumah," tambahnya santai.
Alpha Callum ngangkat alis. "Terus?"
Beta Amir mengangkat bahu. "Gak ada apa-apa. Saya cuma ngerasa pemandangan indah di bawah itu nyegerin banget buat dilihat. Saya pikir Caden gak bakal ngerasa sedih lagi karena dia punya saudara perempuan buat ngabisin waktu bareng dan sosok ibu buat ngasih dia cinta dan perhatian setiap hari," katanya santai.
Alpha Callum diem beberapa saat, mikirin apa yang bakal dia omongin selanjutnya. "Viviana berencana buat bangun rumah baru di properti tepi pantainya sebentar lagi. Dia gak bakal tinggal di sini dalam waktu yang lama," katanya buat ngoreksi asumsi dia yang salah.
"Alpha, gimana kalo Caden udah biasa sama kehadiran Viviana dan Putri Alpha Callum dan mohon sama Anda biar gak dipisahin dari mereka lagi? Apa yang akan Anda lakukan, Alpha?" Beta Amir nanya.
Mata Alpha Callum berkedip sesaat. Pertanyaan itu ngejutin dia. Dia gak nyangka semuanya bakal berkembang secepat itu antara Viviana dan anak-nya.
Beta Amir batuk kecil. "Um, saya sadar gak ada yang buruk tentang pengaturan saat ini karena anak laki-laki itu butuh pengalih perhatian dan kehadiran adik perempuannya di rumah pasti bakal ngebantu dia mengatasi semuanya. Kehadiran ibu dan anak perempuan di rumah bagus buat kesehatan mentalnya," katanya, nyelesaiin pernyataannya dengan nada yang bagus.
Alpha Callum ngangguk, setuju sama omongan asistennya. "Kamu benar. Sekarang ayo kita kerja.""
Beta Amir lega karena bosnya gak ngehentiin dia waktu dia kebablasan sama pernyataannya. Dia tau banget kenapa rumah Viviana kebakar tadi malam. Dia bikin itu terjadi karena suatu alasan.
Dia tau Luna Viviana balik buat ngambil kembali posisi yang seharusnya. Dia cukup cepat!
Dia udah punya awalan yang luar biasa.