50. Identitas Baru
Setelah dapat batangan emas dari tempat rahasia, Alpha Callum langsung teleport buat nemuin Clarice sama anaknya di rumah kontrakan.
Dia mendarat di kamar Clarice. Dia lagi mandi pas dia dateng. "Sayang, aku dateng!" Dia ngasih tau kehadirannya dengan riang.
"Tunggu bentar ya," jawab dia dari kamar mandi.
"Santai aja, nggak usah buru-buru," kata dia, nyantai di sofa, mikirin anaknya ada di mana.
Beberapa menit kemudian, Clarice keluar dari pintu kamar mandi pake jubah mandi. "Gimana kabarnya?" tanyanya, sambil ke lemari dan pake baju.
"Aku punya kabar bagus buat kamu," kata dia, senyum lebar. Dia udah nggak sabar pengen liat reaksi dia.
"Kabar bagus? Aku suka banget!" kata dia semangat, nyamperin dia, duduk di sofa di sampingnya. Dia natap matanya, senyum cerah. "Ceritain kabar bagusnya sekarang!"
Dia cium kepalanya. "Viviana udah setuju buat cerai," dia ngasih tau beritanya, berseri-seri.
Mata Clarice membelalak kaget dan terkejut. "Wow! Beneran?" tanyanya nggak percaya. Dia nggak nyangka Viviana bakal gampang gitu aja ngelepas suaminya. Pasti ada apa-apanya. "Coba ceritain, dia minta syarat yang nggak mungkin buat kamu bebas?"
Alpha Callum narik napas panjang. "Iya, sih. Tapi nggak papa kok. Aku bakal lakuin apa aja demi kamu dan anak kita," katanya sayang, meluk dia erat.
"Syaratnya apa? Ceritain," tanyanya, pengen tau apa yang bikin Viviana ngelepas suaminya. Soalnya, dulu dia nggak mau ngelepas suaminya karena dia diracun sampe mati. Dia nggak punya pilihan. Situasi Luna Viviana beda banget sama dia.
"Nggak usah bahas syaratnya deh, nanti kamu malah kepikiran," jawabnya, nggak pengen nyeritain soal kesepakatan gede yang diminta istrinya dari dia buat ngasih kebebasan yang dia cari.
Dia cemberut banget. "Please ceritain," mohonnya, nggak mau ketinggalan. "Aku nggak bisa tenang kalo aku nggak tau apa aja yang dia minta dari kamu," mohonnya ke matanya.
Alpha Callum menghela napas. "Oke deh, aku ceritain, tapi jangan dibawa hati ya. Jangan kepikiran sama apa yang kamu denger. Oke?"
"Oke." Clarice ngangguk, siap-siap denger kabar buruk.
"Dia minta uang cerai tunai $100 juta, rumah pantai atas namanya, sama uang bulanan $300 ribu buat dia dan bayi kita," jelasnya.
"Whaaaat!?" Mata Clarice hampir keluar dari soketnya, kaget banget sama jumlahnya yang gede. "Itu kebanyakan! Kamu bisa bangkrut kalo kamu setuju sama semua permintaannya!" protesnya, kaget, bingung nggak bisa ngomong apa-apa.
Alpha Callum senyum, nggak lepas pandangan dari dia. "Nggak usah khawatir, sayang. Aku nggak bakal bangkrut setelah semua omong kosong ini selesai, karena aku bisa kasih semua permintaan uangnya dengan mudah," yakinin dia, nggak khawatir sama sekali.
"Kamu yakin?" tanyanya cemas. Jumlahnya terlalu gede buat otaknya.
"Yep!" Dia ngangguk yakin, nggak khawatir sama sekali.
"Kamu dapet uangnya dari mana?" Dia terus nanya, karena jumlah uang yang Viviana minta dari Callum bikin dia khawatir banget. Itu bikin dia ngerasa bersalah karena dia yang bikin Callum jadi stres sekarang.
Alpha Callum senyum. "Beberapa jam yang lalu, Kakek dan aku nemuin gua rahasia penuh harta dan batangan emas, jadi kita ambil beberapa batang dan aku jual buat bayar Viviana. Aku mau bayar dia karena anakku juga bakal dapet manfaat dari uang yang dia dapet dari aku."
Clarice mencerna kata-katanya pelan-pelan, masih kaget.
"Ini sama-sama untung buat kita semua. Viviana dapet uang dan keamanan yang dia mau buat dirinya dan anakku dari dia. Mereka keurus, itu ngilangin rasa bersalah dari aku. Yang paling penting, kita juga dapet kebebasan buat jadi keluarga. Jadi semuanya baik-baik aja, kan? Tolong jangan khawatir soal uang lagi," kata dia, megang wajahnya sayang. Dia nggak mau dia ngerasa sedih soal proses perceraian ini.
Clarice senyum, jadi lega. "Iya, selama kamu nggak bangkrut, dan kita bisa bareng setiap hari, ya udah aku sih fine-fine aja," katanya senang. Semua kekhawatirannya hilang setelah tau kalo dia punya sumber kekayaan lain yang bisa nanggung permintaan Viviana tanpa bikin rekening banknya kering.
"Viviana bakal kosongin tempat itu setelah dia selesai nyari properti di pantai. Dia bilang kamu sama Caden bisa tinggal di mansion setelah dia pergi," tambahnya, biar dia makin yakin dan tenang.
Mata Clarice berbinar. "Baik banget dia..." gumamnya, mikirin kenapa Viviana tiba-tiba baik-baik aja sama semuanya? Dia harap Viviana jujur sama niatnya dan bakal lanjutin hidupnya dengan mudah dan anggun dan nggak jadi pendendam, diam-diam ngerencanain kejatuhannya sementara dia nikmatin hidup keluarga sama Callum dan anaknya.
Dia menghela napas dalam hati. Setelah selamat dari pengalaman hampir mati di tangan dukun jahat dan mantan sahabatnya yang kejam Aurelia, hatinya masih capek.
"Sayang, kenapa? Kamu masih kesel sama semuanya?" tanyanya cemas setelah liat ekspresinya yang murung.
Clarice geleng kepala. "Aku nggak papa, nggak usah khawatir. Aku baik-baik aja sekarang. Aku nggak kepikiran lagi setelah tau kalo kamu punya sumber uang lain buat nyediain kebutuhan Viviana tanpa bikin kamu bangkrut."
Alpha Callum senyum lega. "Bagus!"
"Ngomong-ngomong, aku udah selesai ngisi formulir pendaftaran kelahiran terlambatnya," katanya riang.
"Mana? Boleh aku liat?" tanyanya.
Clarice ke meja rias, ngambil formulir dari laci dan ngasih ke Callum. "Nih."
Dia baca formulir itu dalam diam.
"Jadi, gimana menurutmu sama nama baruku?" tanyanya, setelah dia selesai baca formulirnya.
"Nama barumu Charice Evans. Kedengerannya kayak nama lamamu," komentarnya santai.
"Iya, meskipun semua yang aku alamin dalam hidup, aku masih suka nama lamaku karena itu identitasku. Jadi aku pilih nama yang kedengerannya sama. Kenapa? Kamu nggak suka? Bisa aku ganti kok," tawarnya.
Alpha Callum senyum. "Nggak usah diganti. Aku suka nama barumu," katanya meyakinkan.
Clarice senyum. "Nama baruku cuma buat keperluan surat-surat legal aja. Di rumah aku masih mau dipanggil Clarice."
"Oke deh, sayang," katanya dan meluk dia, tau kalo dia lagi sakit hati. Ngelepas nama yang dia dapet sejak lahir pasti susah buat dihadepin.
"Kita bakal nemuin masalah nggak ya sama pendaftaran identitas terlambatnya?" tanyanya khawatir.
"Nggak kok. Aku bakal serahin formulirnya ke pihak berwenang. Aku punya koneksi di sana yang bisa ngebutin prosesnya jadi kita nggak usah nunggu lama buat hasilnya," katanya meyakinkan.
"Wow, makasih!" katanya. Kelegaan yang luar biasa menyelimutinya.
"Kamu mau nggak tinggal di mansion sama aku dan jadi istriku dan Luna?" tanyanya, natap matanya dalam-dalam.
"Yesssss!" jawabnya, senyum berseri-seri, melayang di awang-awang.
Alpha Callum meluk Clarice erat, nyium bibirnya lembut.
"Sayang, aku nggak sabar pengen nikahin kamu. Kamu harus mulai rencanain pernikahan mewah kita," sarannya.
"Oke, aku mulai bikin rencana mulai sekarang," jawabnya dengan suara bersemangat, senang bukan kepalang.
Pasangan itu ciuman mesra, menikmati cinta mereka yang memabukkan, menghangatkan hati mereka.
Ciuman mereka berlangsung beberapa menit.
Setelah ciuman manis itu, Alpha Callum nanya, "Anak kita di mana?"
"Dia di dapur sama Lorey, lagi bikin pancake," jawabnya.
"Oke, yuk kita ikut seru-seruan dan nyebur ke kolam renang abis itu," katanya, nyengir lebar.
Pasangan itu saling senyum, nggak sabar mau ngerayain fase yang seru dalam hidup mereka.
Mereka keluar kamar dengan semangat tinggi, gandengan tangan.