37. Beri Aku Istirahat!
Pasangan itu pengen ajak Caden ke danau buat piknik keluarga, pengen banget kasih dia pengalaman ikatan keluarga yang belum pernah dia rasain seumur hidupnya.
Kakek Eliezer geleng-geleng kepala. "Nggak dulu deh. Tunggu besok aja. Kalau demamnya nggak balik lagi hari ini, baru deh kita bisa bilang dia udah sembuh total. Sekarang, main aja sama anak kamu di rumah kita yang aman ini."
"Siap, Dok!" Alpha Callum nyengir lebar sambil kasih jempol.
"Makasih udah nyembuhin anak kita, Kakek. Kakek emang dokter paling top deh!" Clarice senyum bersyukur.
Kakek Eliezer ketawa kecil. "Santai aja, guys. Seneng bisa bantu orang-orang yang aku sayang. Aku kan penyembuh, ya kayak gitu deh kerjanya."
Pasangan itu balik lagi ke kamar di lantai atas dan asik main bareng anak mereka, ngobrol, main, nikmatin kebersamaan.
Hati Clarice meluap sama kebahagiaan pas dia liat ayah dan anak itu akrab banget, mainan bareng di lantai kayu. Setelah ngalamin siksaan parah dari dukun jahat dan Mantan sahabatnya yang nyebelin Aurelia, Dewi Bulan akhirnya ngasih dia kebahagiaan sejati karena dia sekarang udah bersatu lagi sama keluarga tercinta.
Dia berharap mereka bakal selalu bahagia. Hari-hari mereka bakal penuh tawa, berharap momen ini bakal abadi meski tau kalau Callum itu udah punya istri, dan dia cuma minjem dia dari istrinya.
Begitu Luna Viviana balik dari liburan di luar negeri, pasti bakal ada perubahan, dan dia nggak tau gimana ngejelasin ke anaknya kalau ayahnya udah nikah sama cewek lain. Dia narik napas dalam hati. Sial, dia nggak seharusnya mikirin istri Callum sekarang. Dia harusnya nikmatin momen indah ini bareng keluarganya.
Dia singkirin pikiran tentang Luna Viviana dari pikirannya buat fokus sama kebahagiaan yang dia dapetin sekarang. Dia bakal khawatir sama masalahnya nanti kalau udah ada di depan mata. Sekarang, mereka bebas ngelakuin apa aja yang mereka mau.
Alpha Callum ngasih tatapan heran, mikirin kenapa dia tiba-tiba diem dan kayak nggak ada di tempat beberapa saat.
Dia ngasih dia senyum cerah dan gabung lagi main bareng mereka, mainan bareng.
Sekali lagi, kamar itu penuh sama celotehan Caden dan tawa riang pasangan itu.
Jam berlalu.
Siang hari, keluarga bahagia itu makan siang di meja makan bareng Kakek dan Lorey.
Setelah makan siang, Kakek Eliezer akhirnya ngebolehin pasangan itu bawa anaknya keluar rumah pas mereka duduk nyaman di kursi kayu yang dibangun ngelilingin batang pohon. Mereka nikmatin angin sepoi-sepoi, membelai kulit mereka saat mereka terus mengagumi hijaunya pepohonan yang menyegarkan sejauh mata memandang.
"Anak, mau liat danau nggak? Kita bisa piknik di sana, berenang, dan nangkap ikan buat dimasak buat makan malam," saran Alpha Callum, ngeliatin wajah anaknya dengan sayang.
Wajah gemuk Caden bersinar. "Wah, ayo berenang di danau dan nangkap ikan. Ayo kesana sekarang, Ayah!" katanya semangat.
Alpha Callum senyum. "Gimana kalau besok aja, anak? Kakek bilang kamu belum boleh pergi jauh. Kita jelajahi ladang setelah kamu sembuh total. Kalau demam kamu nggak balik lagi hari ini, baru deh kita ke danau besok dan piknik keluarga di sana. Sekarang, main aja di luar rumah dulu. Ngerti nggak, anak?"
Caden ngangguk. "Oke, Ayah," jawabnya nurut. "Main sama mainan aku aja ya," sarannya.
"Nanti, anak. Nikmatin udara segar dulu, baru main sama mainan kamu nanti," kata Alpha Callum lembut, ngacak rambut coklat anaknya.
Clarice dan Alpha Callum saling pandang, sama-sama seneng kalau keluarga mereka sekarang udah lengkap, dan itu perasaan terbaik yang pernah ada buat mereka berdua. Hati mereka meluap sama kebahagiaan.
Alpha Callum geli-gelin pinggang anaknya dan Caden mulai teriak, ketawa ngakak. Halaman depan penuh sama tawa riuh.
Air mata kebahagiaan memenuhi mata Clarice, nyoba ngukir kenangan berharga ini di pikirannya.
Waktu berlalu.
Pas Caden mulai nguap, Clarice tau udah waktunya dia tidur siang. Beberapa saat kemudian, Caden ketiduran di gendongan ayahnya.
"Aduh, bocah kecil udah ketiduran," kata Alpha Callum geli.
"Ayo kita bawa dia ke kamar biar tidurnya nyenyak," kata Clarice.
"Oke." Alpha Callum berdiri dan gendong anaknya ke rumah.
Pasangan itu masuk rumah dan naik tangga ke kamar Clarice.
Pas mereka nyampe kamar, Alpha Callum nurunin badan anaknya yang lagi tidur ke kasur, hati-hati biar nggak bangunin dia. Dia natap wajah Caden, takjub gimana kerennya punya anak kayak dia. Hatinya membengkak sama cinta dan kebanggaan karena dia udah punya anak yang hebat. Dia ngerasa bangga banget sama dirinya sendiri.
Dia meluk Clarice dan nyium keningnya. "Makasih banyak udah ngasih aku anak yang luar biasa, sayang. Aku seneng banget sekarang. Kata-kata nggak cukup buat ungkapin gimana perasaan aku sekarang. Aku udah pengen banget punya anak sendiri. Itu salah satu harapan terbesarku dan sekarang udah dikasih, aku nggak bisa minta lebih."
"Kamu pantes dapetin anak yang baik dan luar biasa karena kamu ayah yang hebat," kata Clarice, nyium bibirnya dengan sayang.
Pasangan itu berciuman mesra yang berlangsung beberapa menit.
Setelah ciuman yang bikin jantung berhenti dari pasangan itu selesai, Alpha Callum harus balik ke mansion. "Aku harus ngecek orang-orang di sana. Kamu baik-baik aja kan di sini sama anak kita?" tanyanya.
"Iya, pasti. Aku sama anak kamu baik-baik aja. Aku punya semua yang aku butuhin di sini. Kamu bebas pergi, kamu kan punya kawanan yang harus diurus," katanya, matanya penuh sama pengertian dan cinta buat dia.
Alpha Callum nyium kepalanya. "Aku beruntung banget punya kamu dan anak kita dalam hidupku. Aku nggak mau momen bahagia ini berakhir," katanya dengan nada serius, terus berdeham buat ngasih pengumuman. "Sayang, akhirnya aku mutusin buat cerai sama istriku setelah dia balik dari liburan. Aku harus ngelakuin ini, biar aku bisa ngasih kamu dan Caden rumah yang bahagia. Aku mau kita bertiga hidup di bawah satu atap sebagai satu keluarga bahagia. Aku mau bangun setiap hari di kasur yang sama kayak kamu," katanya tulus. Matanya berbicara banyak.
Pernyataan dari hatinya itu bikin Clarice kaget. "A-apa kamu yakin sama keputusan kamu?" akhirnya dia nanya. Dia belum bisa bahagia meski pengen.
Alpha Callum ngangguk. "Iya, ini semua yang aku pengen sejak aku tau keberadaan anak kita. Aku mau kita bersama sebagai satu keluarga bahagia. Gimana sama kamu? Apa yang kamu mau?"
Clarice senyum. "Sama kayak yang diinginkan hati kamu. Oke deh, ayo kita lakukan!" katanya semangat.
Alpha Callum meluk dia erat-erat. "Tunggu sampai Viviana balik. Aku bakal akhiri pernikahan aku sama dia dan ajukan cerai," katanya dengan nada final di suaranya.
"Oke," jawabnya riang, hatinya meledak sama kebahagiaan. Dia nggak nyangka dia bakal mutusin secepat itu setelah bareng Caden cuma beberapa hari. Anaknya adalah katalis yang pada akhirnya mendorong Callum buat putusin hubungannya sama istrinya.
Meski ada kabar baik, dia juga mulai khawatir. Dia mulai ngerasa bersalah sama perannya dalam rusaknya pernikahan Luna Viviana sama Callum.
Sialan!
Kenapa dia nggak bisa bahagia sepenuhnya?
Kenapa dia ngerasa bersalah padahal dia harusnya seneng sekarang?
Grrr! Bodo amat sama khawatir dan takut! Dia juga pantes bahagia!
Mulai hari ini, dia bakal berhenti mikirin orang lain. Dia cuma bakal fokus sama kebahagiaan dia sendiri dan kebahagiaan orang-orang yang dia sayang.
Sekarang waktunya dia bahagia, dan dia pantes bahagia kayak orang lain.
"Aku pergi dulu ya, sayang. Aku bakal datang malam ini kalau aku nggak sibuk sama urusan kawanan," kata Alpha Callum, nyium kepalanya.
"Oke, pergi sana," katanya.
Setelah ngasih tau anaknya kalau dia bakal pergi ke suatu tempat dan balik malam ini buat bareng dia, Alpha Callum keluar kamar.
Clarice duduk di kasur, mikirin apa yang harus dia rasain sekarang setelah Callum bilang bakal cerai sama istrinya? Campuran antara kebahagiaan dan khawatir melayang di pikiran dan hatinya.
Sialan! Kenapa dia gelisah sekarang?
Apa yang bener-bener dia mau?
'Kebahagiaan di mana aku nggak harus nyakitin siapa pun.' Dia jujur ngejawab pertanyaannya sendiri. Tapi dia nggak bisa dapetin kebahagiaan yang sempurna kalau Callum masih nikah sama cewek lain. Luna Viviana harus ngalah buat suaminya biar dia dan anaknya bisa mulai keluarga bahagia bareng Callum.
Clarice natap jendela kosong.
Kayaknya Dewi Bulan lagi-lagi ngasih dia ujian yang berat.
Sialan! Dia natap langit dan narik napas berat.