13. Apakah Kamu Masih Mencintainya?
Seminggu kemudian.
Beta Amir masuk kantor, naruh buku catatannya di meja, terus siapin kopi buat Alpha-nya. Beberapa menit kemudian, Alpha Callum masuk kantor.
"Selamat pagi, Alpha," kata Beta Amir sambil menyapa. "Ini kopi hitamnya," katanya, naruh cangkir sama tatakannya di meja.
"Selamat pagi," jawab Alpha Callum, nyeruput kopinya. "Udah pilih tempat buat nyewa beberapa hari?" tanyanya.
"Udah, Alpha. Rumahnya pribadi dan aman," jawab Beta Amir, nunjukin foto rumah yang lokasinya terpencil di luar kota, beberapa kilometer dari peternakan. "Rumah buat liburan yang bisa disewa beberapa hari, minggu, bahkan bulan. Saya udah bayar sewa buat seminggu di muka," tambahnya.
"Mantap. Gue pengen liat tempatnya langsung," kata Alpha Callum.
"Kita bisa ke sana setelah selesai ngecek daerah longsor," saran Beta Amir.
"Oke. Ada berapa rumah yang kena longsor di Desa Torringway?" tanya Alpha Callum.
"Dua puluh keluarga, Alpha," jawab Beta Amir. "Saya udah suruh anak buah kita buat muat truk pengangkut sama bahan pokok buat bantu rumah yang kena," tambahnya.
"Oke deh, ayo berangkat sekarang." Alpha Callum berdiri dan keluar dari kantor bareng asistennya.
Keluar dari rumah megah itu, mereka naik mobil pikap off-road, terus diikuti mobil lain yang bawa bantuan buat desa yang kena longsor.
Setelah perjalanan dua jam yang berat di tengah hujan deras, akhirnya mereka nyampe di daerah yang kena. Keluarga-keluarga yang basah kuyup nyambut mereka dengan semangat.
Alpha Callum dan anak buahnya bagi-bagi bantuan sama bahan pokok, terus mereka janji sama keluarga yang kena kalau pas kunjungan berikutnya mereka bakal bawa bahan bangunan, biar korban yang gak punya rumah bisa bangun rumah mereka di tempat yang lebih aman.
"Makasih banyak udah mau dateng langsung liat kondisi kita, Alpha. Kami sangat menghargainya," kata salah satu wanita sambil nangis kejer sambil gendong anaknya.
"Saya turut berduka kalian kehilangan rumah, tapi saya juga bersyukur gak ada yang meninggal karena longsor. Saya bakal lakuin apa aja buat bantu kalian bangun rumah secepatnya," kata Alpha Callum dengan tulus.
"Makasih atas perhatian dan bantuannya, Alpha Callum. Kamu Alpha terbaik!" Kerumunan orang bersorak gembira, bersyukur pemimpin mereka mau bantu mereka pulih dengan cepat dari tragedi yang menimpa mereka.
Setelah ngobrol sama keluarga yang kena satu per satu dan ngeyakinin mereka kalau dia dan anak buahnya bakal balik buat bantu mereka bangun lagi rumahnya, Alpha Callum dan anak buahnya akhirnya ninggalin desa.
Alpha Callum nyuruh sopir truk dan anak buahnya buat pulang, sementara dia dan asistennya pergi ke rumah liburan yang disewa.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya mereka nyampe di tempat itu. Rumah liburan yang ada di lahan seluas satu hektar, dikelilingi pepohonan.
Beta Amir ngambil kunci dari sakunya, buka gerbang, terus parkir mobil di jalan masuk. Mereka keluar dari mobil dan jalan ke rumah dua lantai.
Mereka masuk ke rumah. Mereka cek kamar, kamar mandi, dapur, sama ruang tamu.
"Gimana menurut Alpha soal rumahnya?" tanya Beta Amir.
"Cukup bagus buat tinggal sebentar," jawab Alpha Callum.
"Yuk, kita cek kolam renang di belakang rumah," kata Beta Amir.
Pas masuk halaman belakang, mereka disambut sama pemandangan air berkilauan di kolam renang yang bentuknya kayak ginjal.
"Kolamnya bagus," komentar Alpha Callum.
"Apa saya harus ke peternakan hari ini dan bawa para wanita ke sini?" tanya Beta Amir.
"Gak usah." Alpha Callum geleng-geleng kepala. "Gue sendiri yang bakal bawa mereka ke sini."
"Kapan? Malam ini atau besok pagi?" tanya Beta Amir.
"Sekarang. Soalnya istri gue sama gue mau ke peternakan besok. Viviana pengen mulai jalan pagi-pagi," jelas Alpha Callum. "Tunggu di sini, gue mau teleport ke peternakan dan bawa para wanita ke sini," perintahnya.
"Siap, Alpha," jawab Beta Amir sambil ngangguk.
Alpha Callum mulai teleportasi di pikirannya dan menghilang dari ruang tamu dalam sekejap.
Beta Amir pergi ke dapur, nyolokin dispenser air panas dan dingin, terus bikin kopi. Selesai bikin kopi, dia pergi ke area kolam, dan duduk di kursi santai. Dia nyeruput kopinya, ngagumin air kolam yang berkilauan.
Dia mikir gimana reaksi Luna Viviana kalau dia tahu suaminya punya wanita di peternakan? Dan suaminya punya anak dari wanita itu? Luna Viviana udah bilang lama buat ngejaga suaminya dan ngasih tau dia kalau suaminya mulai main belakang.
Urusan bakal ribet nanti karena Clarice bukan cuma wanita biasa buat Alpha. Dia ibu dari anak Alpha Callum, dia juga jodohnya.
Bakal rusuh kalau Luna Viviana tahu yang sebenarnya.
Walaupun Alpha Callum cowok cakep, dia bukan playboy dan setia sama Luna Viviana selama ini. Ini pertama kalinya Alpha terlibat sama wanita lain, dan dia gak bisa laporin hal ini ke Luna Viviana karena kesetiaannya selalu buat Alpha-nya.
Dia bakal nyebrang jembatan kalau semuanya udah kacau balau.
Saat ini, belum ada yang serius terjadi. Mendingan dia nikmatin kopinya, kolam, sama suasana yang tenang sebelum badai datang.
Sementara itu, balik lagi ke peternakan.
Alpha Callum lagi ngobrol sama Kakek Eliezer di ruang tamu, sementara Lorey lagi beresin pakaian mereka dan barang-barang lain di kamar atas.
"Saya udah kasih tau Clarice soal obatnya," kata Kakek Eliezer.
"Makasih, Pops. Cewek-cewek bakal balik ke sini seminggu lagi," jawab Alpha Callum.
Kakek Eliezer menghela napas. "Istrimu bakal gangguin saya lagi soal bikin obat kesuburan biar dia bisa ngasih kamu anak."
"Maaf soal itu, Pops. Kamu bisa abaikan dia atau turutin aja, terserah kamu," kata Alpha Callum.
"Kasihan Viviana, dia masih belum bisa terima kalau dia gak subur," kata Kakek Eliezer dengan muram.
"Iya. Saya udah bilang sama dia buat nyerah aja, tapi dia gak mau dengerin saya. Saya capek bilang sama dia gak papa kalau kita gak punya anak," kata Alpha Callum dengan tenang.
"Sekarang kamu udah tahu kamu punya anak sama Clarice, hidupmu udah lengkap. Bener kan, Nak?" tanya Kakek Eliezer sambil senyum.
"Iya, gitu deh," Alpha Callum nyengir lebar.
"Dan akhirnya kamu ketemu lagi sama jodohmu. Gimana rasanya liat Clarice lagi setelah sekian lama?" tanya Kakek penasaran.
Alpha Callum mengangkat bahu, belum siap ngomongin perasaannya ke Clarice. Dia diem aja, milih buat gak jawab pertanyaan yang ditanyain ke dia.
Kakek Eliezer ngamatin wajah Callum dengan seksama dan nanya, "Kamu masih punya perasaan romantis sama Clarice?"