21. Hidup Itu Indah!
Pintu kebuka, dan Kakek Eliezer keluar. "Nak, akhirnya balik," dia komentar santai.
"Yup. Mau kemana, Kakek?" dia nanya.
"Ke danau, ngecek istrimu. Dia udah di sana dari pagi. Dia kesel soalnya pas bangun pagi kamu udah gak ada," Kakek Eliezer jelasin. "Kayak lupa kalau kamu punya istri yang nungguin di sini," dia bilang sinis.
Alpha Callum nghela napas, garuk-garuk kepala, ngerasa bersalah. "Gue kesana deh, ngecek dia," jawabnya.
"Yaudah sana. Gue harus ingetin, dia lagi ngamuk, jadi jangan bikin makin parah sama dia," Kakek Eliezer memperingati.
"Siap, Kakek. Gue berangkat sekarang," Alpha Callum jawab terus balik badan, jalan ke arah danau.
Setelah jalan beberapa menit, akhirnya dia sampe di danau dan ngeliat istrinya lagi duduk di selimut piknik, natap kosong pegunungan yang megah di kejauhan. "Maaf telat," dia minta maaf pas nyamperin dia.
Dia ngeliatin dia, kaget akhirnya dia dateng ke danau. Dia gak nyangka...
Dia jongkok di selimut.
"Darimana aja?" dia nanya murung.
"Ngecek korban longsor di desa," dia bohong dengan muka datar.
Dia nghela napas pelan, gak percaya sama dia. Dia tau dia bohong. Tapi dia lagi gak mood buat berantem.
"Kamu mau di sini sebentar setelah ngecek aku atau mau pergi lagi?" dia nanya, merhatiin mukanya, siap nampar kalo dia pergi lagi.
"Gue bakal di sini sama kamu sampe sore dan malem," dia jawab santai, ngeliatin danau. "Seneng sekarang?" dia nanya, gak terlalu peduli gimana perasaan dia karena dia tau apa yang dia mau, waktu dan perhatiannya. Mungkin kalo dia kasih apa yang dia mau, dia gak bakal gangguin dia lagi.
Luna Viviana akhirnya senyum. "Aku seneng, dong!" dia bilang dan nyenderin kepalanya di pangkuannya, senyum bahagia.
Alpha Callum nurutin istrinya, karena dia nyenderin kepalanya di pangkuannya selama beberapa menit, nikmatin pemandangan tenang di sekitar mereka. "Airnya keliatan enak. Gue pengen berenang," akhirnya dia bilang.
"Oke, ayo berenang," dia bilang semangat, berdiri, seneng dia gak kemana-mana dan milih buat tetep sama dia sampe sore dan malem.
Pasangan itu nyebur ke danau bareng, nikmatin air kayak yang selalu mereka lakuin sebelum Clarice dateng.
Pas mereka lagi asik di air, badai ngumpul di kejauhan.
Alpha Callum lakuin tugasnya dengan baik, tujuannya bikin istrinya seneng karena dia udah capek sama drama queen-nya.
Malem itu, pas istrinya minta intim, dia turutin, bikin dia klimaks cuma dalam beberapa menit dorongan tanpa henti ke inti basahnya. Dia pengen urusannya cepet selesai. Makin cepet, makin bagus.
Memuaskan istrinya jauh lebih gampang sekarang karena dia ngebayangin Clarice, jodohnya, yang lagi dia cintai.
Luna Viviana tidur nyenyak malem itu, dengan ekspresi puas di bibirnya.
Di sisi lain, Alpha Callum gak sabar ketemu Clarice lagi dan bersatu lagi besoknya.
Hidupnya yang rumit baru mulai. Sayangnya, dia gak berdaya buat berentiin itu.
...
Besoknya, pas Alpha Callum bangun jam 7:00 pagi, dia gak langsung keluar rumah. Dia turun ke bawah dan bantu Kakek nyiapin sarapan di dapur.
"Aku bikin roti isi sama wafelnya, Nak," Kakek Eliezer bilang semangat.
"Aku bantu, Kakek," dia bilang dan duduk di kursi, ngolesin mayones madu di roti yang udah diiris.
Kakek mulai nyampur adonan wafel yang siap pakai dan masaknya di pembuat wafel. Dia ngeliatin Callum. "Gimana istrimu, Nak? Semoga dia gak marah lagi sama kamu. Semoga kalian udah selesaiin masalah kalian malem tadi."
"Kita udah selesaiin semuanya, Kakek. Kayaknya kita udah baik-baik aja sekarang," Alpha Callum jawab santai, nambahin mayones di rotinya.
"Bagus deh, Nak. Yang dibutuhkan istrimu adalah waktu dan cinta manis darimu. Semua istri pengen perhatian kayak gitu dari suaminya. Selalu bikin dia ngerasa berharga dan dicintai, jadi pernikahanmu bakal damai dan harmonis."
Alpha Callum nghela napas dalam hati. "Kamu bener, Kakek."
Kakek selesai masak enam potong wafel enak dan naruhnya di piring saji. "Aku mau masak telur orak-arik sama banyak bawang bombay dan bawang putih. Kesukaan aku," dia bilang, nyengir karena bener-bener nikmatin masak.
"Yummy!" Suara Luna Viviana bergetar di udara, gabung sama mereka di dapur. "Selamat pagi, semuanya!"
Alpha Callum ngeliat muka istrinya yang senyum dan jawab, "Selamat pagi."
"Selamat pagi, sayang," Kakek jawab sambil senyum.
Luna Viviana ngeliatin suaminya. Matanya bersinar bahagia. "Sayang, rasanya enak banget ngeliat kamu masih di rumah, nyiapin sarapan sama Kakek. Aku suka banget!" dia bilang dan nyium mesra muka suaminya.
Kakek senyum. Kayaknya pasangan itu akhirnya udah baikan. Seneng ngeliat mereka baik-baik aja lagi. Dia seneng buat mereka meskipun tau kebenarannya, kalau Callum cuma akting baik di depan istrinya, tapi kenyataannya, Callum kangen sama jodohnya. Situasi yang sulit buat terjebak, kebagi antara dua orang yang dicintai dan ngerasa kayak orang bodoh.
Dia selesai masak telur orak-arik di penggorengan anti lengket dan mindahinnya ke piring saji. "Aku udah selesai masak, ayo makan!" dia bilang semangat.
"Kalian duluan aja, aku balik ke atas dan minum obat penyubur dulu sebelum makan," Luna Viviana bilang, ngedipin mata ke suaminya.
Kedua pria itu saling pandang pas Luna Viviana udah gak ada di dapur.
"Semoga obat penyuburku akhirnya berhasil kali ini. Aku kasihan sama Luna Viviana," Kakek bilang. "Akan jadi keajaiban besar kalau istrimu hamil suatu hari nanti."
Alpha Callum gak jawab.
Kakek udah merhatiin muka Callum dari tadi. "Kenapa kamu gak bilang apa-apa? Kamu udah gak semangat punya anak sama istrimu?" dia nanya dengan suara pelan.
"Aku udah punya anak sama Clarice, Kakek," Alpha Callum jawab berbisik.
Kakek senyum. "Ah, oke. Aku ngerti."
Mereka berenti ngobrol pas denger langkah kaki Luna Viviana yang berat turun dari tangga. Mereka mulai naruh makanan di piring mereka.
Luna Viviana gabung sama para pria di meja. "Aku udah minum obat penyubur. Semoga aku cepet hamil!" dia bilang dengan semangat, natap mata suaminya dengan penuh kasih.
Alpha Callum senyum ke istrinya, nyadar semangatnya. Dia gak mau ngerusak pagi yang damai di antara mereka, jadi dia harus terus ngejaga aktingnya sebagai suami yang penyayang buat dia.
Dia berharap, di hari-hari mendatang, semuanya bakal lebih gampang dan lebih baik buat dia dalam hal ngatur dua wanita dalam hidupnya. Sekarang situasinya lumayan sulit. Dia berusaha kasih perhatian yang sama dan ngebagi waktunya buat memenuhi kebutuhan mereka bukan pekerjaan yang gampang. Dan dia juga punya tugas Alpha, yang nyita banyak waktunya juga.
Satu hal yang pasti, dia makin sibuk...
Dia nghela napas dalam hati dan makan besar roti isi enak yang lagi dia pegang.
Sambil makan sarapan enak mereka, mereka bertiga ngobrol seru, diskusiin kegiatan di peternakan.
Setelah makan, pasangan itu pergi ke danau buat berenang di air dan nikmatin cuaca bagus, sempurna buat piknik.
Bersenang-senang sama suaminya di danau, Luna Viviana keliatan seneng dan damai dengan dirinya sendiri. Dateng ke danau ternyata bukan keputusan yang buruk. Dia seneng suaminya akhirnya luluh, ketemu di tengah-tengah dan mau balikin kedamaian dan keharmonisan dalam pernikahan mereka.
"Hidup itu indah," Luna Viviana bergumam senang sambil natap langit biru di atas, bersyukur atas momen indah yang dia habiskan sama suaminya di danau yang indah ini.