Bab 118 Permintaan Maaf
Fans dengan spontan ngejelasin di kolom komentar: Setiap konten siaran langsung udah dijadwalin jauh-jauh hari, jadi gak bisa kalau mau bikin sekarang.
Saat itu, Laura akhirnya ngeh sama kolom komentar.
Di headset, kayaknya dia senyum. "Para pemilik emas udah ngasih hadiah, ya jelas aja, pemilik emas yang nomor satu."
Selesai ngomong gitu, dia langsung nge-summarize topik yang lagi dia omongin, terus mulai ngejelasin topik Bu Wilson pelan-pelan.
Bu Wilson dengerinnya serius banget, makin lama dengerin, makin familiar suaranya.
Suara ini...denger dari mana, ya? ... Kelas delapan, koridor, Lin... Laura!
Pikiran Bu Wilson langsung kaget, masih agak ragu, tapi tiba-tiba dia inget kalau dia gak sengaja ngelihat Laura lagi siaran langsung dari luar jendela.
Jadi...
Bu Wilson penasaran, apa iya Laura punya level ngajar yang setinggi itu?
Belum sempat mikir lebih jauh tentang kebenarannya, tiba-tiba dia dapet telepon.
Dari dosen kuliahnya.
"Xiao Deng, bukan aku gak ngingetin kamu, kamu harus lulus ujian yang udah ditetapkan kampus secepatnya biar bisa dapet ijazah!"
Bu Wilson agak panik. "Iya, Bu, saya usahain secepatnya!"
Setelah matiin telepon, dia ragu-ragu, tapi akhirnya dia nyari info kontak Laura dari daftar kontaknya.
"Laura, ini Bu Wilson. Bisa bantu saya ngerjain soal?" Soal-soal buat kelulusan saya terlampir di belakang.
Yakin gak ada yang salah, Bu Wilson ngirim pesan singkat dengan perasaan takut.
...
Setelah pulang sekolah, Laura balik ke rumah lamanya.
Di ruang utama, Kakek Lin, Bu Taylor, dan Lily semua ada di sana.
"Kakek, aku pulang."
Gak peduli sama dua orang lainnya, Laura nyapa Kakek Lin sambil senyum.
Bu Taylor kesel ngelihat dia santai banget. "Laura, kok kamu bisa jahat gitu sih!"
Belum selesai Bu Taylor nyalahin, Kakek Lin megang tangan Laura terus bilang, "Sheng Sheng, sini, kamu ikut aku."
Setelah Laura ngelakuin apa yang Kakek bilang, dia ngelihat Lily. "Kamu juga, sini."
Ngelihat pemandangan itu, Bu Taylor seneng banget dalam hatinya. Akhirnya Laura mau ditanya soal kesalahannya, nih?!
Detik berikutnya, wajah Kakek Lin jadi serius banget.
Dia bilang, "Kamu, minta maaf sama dia!"
Lily yang disebut namanya kaget. Dia nunjuk dirinya sendiri terus nunjuk Laura. "Aku minta maaf sama dia?"
Bu Taylor buru-buru maju buat ngejelasin, "Ayah! Apa Ayah salah denger, korbannya kan..."
"Aku gak salah denger." Kakek Lin natap Lily dengan tenang terus nanya, "Coba jelasin, kenapa kamu ngelempar babi peliharaan kakakmu ke danau!"
Lily nyebutin aturan sekolah. "Kakek, sekolah kan bilang gak boleh bawa hewan peliharaan ke sekolah!"
"Jadi? Cuma karena itu kamu ngelempar hewan hidup ke danau?" Kakek Lin makin marah dan teriak dengan nada marah, "Lily, aku rasa semua yang udah aku ajarin ke kamu selama ini udah kamu kasih makan ke anjing!"
Kakek Lin jarang marah, dan serangan tiba-tiba itu ngebuat semua orang kaget, kecuali Laura.
Bu Taylor diem-diem ngasih kode ke Lily, yang ngerti kode itu terus nundukin kepalanya dengan malu.
"Kakek, maaf. Kakak... maaf..." Beberapa kata terakhir diucapin lirih banget dan kayak susah diucapin.
Laura pura-pura gak denger. Dia senyum ke Kakek Lin terus bilang, "Kakek, aku naik dulu, mau ngerjain PR."
Terus dia gak peduli sama Lily dan langsung naik ke atas.