Bab 43 Panggilan Telepon
"Gak!" sahut Nora. Matanya yang merah melebar sambil terus ngomel, "Lo gak punya malu. Lo bikin tuduhan palsu! Gue gak ngapa-ngapain, jalang! ..." sambil ngomel, air matanya berlinangan, "Lepasin gue. Kalo gak, gue lapor guru nanti, dan lo bakal dikeluarin..."
Laura ngendus dan pelan-pelan melepaskannya. Tapi, dia bukannya takut Nora bakal ngadu, tapi takut air mata Nora netes ke tangannya dan bikin tangannya kotor.
"Umur lo berapa, masih suka lapor-lapor. Gak mau ngaku, ya?" Laura pelan-pelan berdiri dan balik ke tempat duduknya, "Cepat atau lambat, gue bakal bikin lo ngaku sendiri."
Nora nutupin lehernya, yang ada bekas merah-merahnya, dan gak bilang apa-apa, natap Laura dengan air mata dan kebencian di matanya.
Lihat pertengkaran selesai, seseorang keluar buat jadi penengah, "Udah mau mulai kelas nih, dan bau kelas gak enak. Bersihin sampah dulu, yuk."
"Ini kan yang harusnya Laura yang lakuin..." seseorang bergumam gak puas. Tapi setelah lihat kelakuan Laura sebelumnya, gak ada yang berani ngomong apa-apa.
Ruang kelas dibersihin bareng-bareng sampe baunya ilang, baru deh mereka mulai siap-siap buat kelas. Gak lama setelah kelas mulai, instruktur tiba-tiba dateng dan ngetok pintu kelas.
"Laura, ikut saya ke kantor."
Tiba-tiba kelas jadi rame, yang langsung hening. Laura bangun dengan tenang di tengah banyak mata yang ngelihatin. Tangannya tiba-tiba dipegang dan dia nengok ke bawah, ngelihat Lucy yang nelen ludah dan nenangin dia.
"Laura, lo gak usah takut. Gue percaya sama lo. Nanti gue minta mama gue buat bantu lo. Mereka gak bakal berani macem-macem sama lo."
Laura senyum dan pelan-pelan narik tangannya, "Santai aja, gue gak apa-apa."
...
Kantor.
Laura berdiri tenang di meja. Instruktur ngelirik dia dan naikin kacamatanya. Dia nyari nomor teleponnya Bu Taylor dan nelpon.
"Ini mamanya Laura? Dia diduga berantem di sekolah. Kira-kira kapan bisa datang ke sekolah buat ngomong?"
Bu Taylor kaget pas pertama kali dapet telepon. Setelah denger alasannya, dia senyum meremehkan tanpa sadar. Dia emang gak mau ngurusin Laura, jadi dia langsung nolak tanpa mikir. "Laura? Anak ini emang liar banget. Saya gak bisa ngontrol dia. Kalo ada masalah, bisa telepon bapaknya aja."
"Bu Taylor, seperti yang Ibu tahu, suami Ibu sangat sibuk. Dia gak ada waktu..."
"Ya udah saya gak bisa apa-apa." Bu Taylor langsung matiin teleponnya. Setelah percakapan itu, dia gak bisa nahan diri buat gak bersyukur Laura bukan anak kandungnya. Berapa tahun hidup yang bakal dia hilangin kalo punya anak kayak gitu?
Instruktur naruh tangannya di meja, diem, dan ngelihat Laura.
"Laura, itu... Kamu denger sendiri tadi."
Laura tetap tenang, "Iya."
"Kalo orang tua kamu gak mau dateng ke sekolah, masalah ini, gimana kamu mau selesain?"
"Gue..."