Bab 8 Fitnah
"Ada apa sih? Gak pantes banget kan?" Laura hampir gak bisa nahan senyum, apalagi lihat ekspresi Lily yang lucu, kayak abis makan tai.
"Enggak. Cepetan deh." Sikap Lily jauh lebih dingin dari sebelumnya.
Ngikutin rasa kesel sepanjang jalan, Lily ngerasa lega pas nyampe di pesta. Lily kan emang anak kesayangan keluarga, gede dengan penuh cinta. Di kalangan atas sosialita New York, dia emang paling jago deh kalau urusan pesta.
Sebaliknya, Laura dilupain gitu aja.
"Yang dateng bareng lo itu, adek lo ya?" Sahabat terbaik Lily, Henna, merhatiin sosok merah yang gak jauh dari mereka.
"Adek, adek apaan?" Orang-orang di sekeliling langsung pada pasang telinga.
Mereka gak pernah denger kalau Tuan Taylor punya anak cewek lagi!
Lily nyeruput anggur merahnya dengan malu-malu dan bilang dingin, "Laura, karena kesehatannya kurang bagus, dibesarin di kampung. Dia baru balik kemarin, gara-gara perjodohan sama keluarga Browns."
Semua orang langsung gak tertarik dengerin. Walaupun keluarga Browns di New York emang berkuasa, tapi nikah sama Marcus, si sakit-sakitan itu, jelas banget nunjukkin statusnya. Keluarga Browns kayaknya juga gak peduli sama Laura. Lily kan selalu tumbuh dengan cinta, mana mungkin orang tuanya mau nikahin dia sama orang sakit?
Dylan, anak bungsu Tuan Smith, langsung nyela, "Terus, kenapa lo bawa dia kesini hari ini?"
Pertanyaan ini bisa dibilang pas banget sama yang Lily mau, dan dia senyum sedih ke Dylan, "Dia cuma kesini, penasaran banget sama semuanya. Dia maksa ikut gue ke pesta. Baju yang dia pake juga punya gue. Dia ngamuk-ngamuk sebelum pergi."
Nada suaranya yang lembut, ditambah air mata di matanya, bener-bener bikin kasihan. Perut Dylan langsung gak enak.
Henna juga buru-buru nenangin Lily, 'Udah, Lily, lo gak perlu kesel gara-gara kelakuannya yang gak bener."
"Keluarga gue berutang budi sama dia... Gue... gak apa-apa kok."
Lily berusaha bersikap baik, tapi tersirat banget kalau dia diganggu sama Laura. Orang-orang di sekelilingnya langsung pada khawatir dan kompak nyuruh buat nenangin. Kesan mereka sama Laura, yang baru mereka temuin sekali, langsung jelek banget.
...
Di sisi lain, gak ada satu pun orang yang Laura kenal. Satu-satunya yang bisa dia lakuin cuma nyari tempat yang sepi buat nikmatin makanan penutup. Walaupun pestanya gak asik, makanan penutupnya beneran enak.
Pas dia baru mau duduk dengan piring kecil yang cantik, dia denger suara tawa yang nyinyir dan pedes dari belakangnya, "Lo tau apa sih tentang tata krama sosial? Lo udah bikin malu keluarga Taylor."
Laura nengok dan ngeliat orang yang ngomong - orang asing dengan muka jutek. Kayaknya dia temennya Lily, yang suka pake temennya buat nunjukkin kalau dia itu polos dan gak berbahaya. Laura manyunin mulutnya, dan bilang bingung, "Apaan sih?"
"Gue bilang..."
"Apa sih?" Laura masih kelihatan gak ngerti. Obrolan yang diulang-ulang bikin Henna kesel dan meninggiin suaranya. Lily bener. Laura emang gak sopan dan nyebelin banget, pikirnya.
Laura senyum, duduk dengan elegan, megangin dagunya, dan ngeliatin Henna yang lagi marah, "Oh, teriak-teriak itu yang namanya etika menurut lo?"