Bab 54 Penolakan
Gimana bisa dia? Kepala sekolahnya malu. "Ehm... Aku khawatir agak susah buat Laura masuk Kelas 2, berdasarkan nilai akademiknya."
Dia coba mencegah Pak Taylor tua, "Pak Taylor, bukan berarti saya nggak mau bantu. Aku takut dia bakal diremehin sama murid-murid lain kalau dia nggak bagus di Kelas 2..."
Pak Taylor tua minum teh lagi dan kelihatan santai, "Aku tahu cucuku baik. Nilai jeleknya cuma karena dia nggak dapet pendidikan yang bagus di desa dulu. Dia bakal bisa ngejar Kelas 2 kok, nanti."
"Ini..." Kepala sekolah mau lanjut nolak, tapi dia tiba-tiba inget Pak Taylor tua udah mensponsori sekolah mereka...
Dia tiba-tiba ganti kata, "Baiklah, oke. Pak Taylor, demi Bapak, aku bakal pindahin Laura ke Kelas 2."
...
"Apa? Aku nggak mau!"
Laura denger kata-kata itu dari Bu Wilson pas dia masuk kantor sambil bawa kertas ujiannya yang udah selesai. Lihat orang yang jadi pusat pembicaraan di depannya, Bu Wilson berhenti beberapa detik dan lanjut.
"Aku nggak mau nerima dia. Kalau Laura beneran pindah ke kelasku, aku bakal mundur!"
Laura keliatan tenang, jalan ke Bu Davis, dan nyerahin kertas ujiannya, "Bu Davis, ada soal yang menurutku salah."
Bu Davis nerima kertas itu dengan muka malu dan ngeliatin beberapa detik. Tapi bukannya ngejawab pertanyaan Laura, dia malah nenangin dia. "Laura, Bu Wilson lulusan dari universitas nomor satu di dunia. Dia punya kemampuan, jadi dia agak sombong. Jangan masukin kata-katanya tadi ke hati ya."
"Ehm, iya tau."
Laura ngangguk dan tiba-tiba nanya, "Bu Davis, kenapa tiba-tiba aku dimasukin ke Kelas 2?"
Bu Davis garuk-garuk kepala, "Ah... Kayaknya itu saran kakekmu deh."
Laura langsung ngerti kalau orang tua itu ngelakuin itu buat kebaikannya sendiri. Walaupun dia agak seneng, dia nolak.
"Bu Davis, nggak usah. Aku nyaman kok di Kelas 8. Lagian," dia ngelirik Bu Wilson, "aku nggak mau bikin masalah."
Bu Davis agak kaget. Walaupun dia suka Kelas 8, dia tahu kalau Kelas 2 bakal jadi pilihan yang lebih bagus.
"Laura, mau dipikirin lagi nggak..." Bu Davis menghela napas setelah lihat tatapan yakin di mukanya.
"Oke deh, nanti aku ngomong sama kepala sekolah soal ini."
Laura tetap di Kelas 8.
...
Itu akhir pekan.
Laura berencana buat di rumah dan santai. Tapi pas siang, Marcus ngirim dia pesan singkat.
[Sibuk nggak? Kamu udah lama di New York, tapi belum jalan-jalan. Gimana kalau aku ajak kamu ke Pasar Bawah Tanah?]
Laura agak penasaran dan nelpon dia. "Pasar Bawah Tanah? Tempat apaan tuh?"
Marcus sabar ngejelasin ke dia, "Pasar Bawah Tanah itu lengkap banget. Kamu bisa beli apa aja di sana."
Dia sengaja nekenin kata "apa aja".
Laura jadi makin tertarik, "Kapan mau berangkat? Sekarang?"
"Malam. Lebih rame dan seru kalau malam."
"Oke deh."