Bab 241 Kembali ke China
Awalnya, Nyonya Wilson bisa jawab banyak pertanyaan dari profesor. Tapi setelah dua atau tiga pertanyaan, dia jadi gak nyaman, ragu-ragu, keseleo lidah, dan ngeles mulu. Akhirnya, dia nahan lama banget dan gak bisa ngomong sepatah kata pun.
"Oke deh, sampai sini dulu."
Si profesor benerin kacamatanya, dan mata di balik lensa itu nunjukkin sorot yang jelas.
Nyonya Wilson berdiri dengan lesu, tanpa sadar ngelirik ke arah Shen Pu di sampingnya, cuma buat ngelihat orang itu geleng-geleng kepala sambil menghela napas, dan bilang ke dia, "Kamu keluar dulu sana."
Nyonya Wilson gak berani nolak. Kayak orang kehilangan jiwa, dia keluar dari pintu.
Hasil wawancara keluar cepet, dan banyak guru yang langsung nyari nama mereka di papan pengumuman.
Nyonya Wilson, sih, gak berani ngelihat. Dia ngejauh dari papan pengumuman dan balik ke asrama, terus tiduran di kasur.
Sampe ada ketukan di pintu, dia buru-buru bangun dan buka pintu: "Guru, silakan masuk."
Shen Pu berdiri di depan pintu dan gak masuk. Dia cuma nyodorin buku kecil warna merah ke dia: "Ini sertifikat kelulusanmu. Jaga baik-baik ya."
"Oh."
Nyonya Wilson nerima buku itu, megangin pintu, dan bingung sesaat. "Guru... mau masuk?"
"Enggak." Shen Pu natap dia, dan matanya nunjukkin kekecewaan yang jelas. "Xiao Deng, kamu itu terlalu egois. Guru harap kamu bisa perbaiki itu di masa depan, bisa?"
Mata Nyonya Wilson nunduk dan dia gak tau mau ngomong apa.
Shen Pu menghela napas dan mau pergi.
"Tunggu, guru! Aku bisa berubah!" Nyonya Wilson buru-buru narik dia, tapi dengan tarikan itu, tanpa sengaja dia ngelirik dokumen di tangan Shen Pu.
Orang yang mewawancarai: Zhao Yuan Su Yue Wen Qingye...
Nyonya Wilson gak bisa lihat nama di belakangnya dengan jelas. Dia kayak orang linglung dan ngelepasin tangan Shen Pu. "Guru, maaf, aku salah..."
Kenapa, gimana bisa nama Wen Qingye masuk di daftar wawancara selanjutnya?
Shen Pu baru nyadar kalau mata Nyonya Wilson kosong. Dia menghela napas lagi: "Semoga aja."
Ngomong gitu, langsung narik tangannya dan pergi.
Setelah hasil wawancara Universitas Notting keluar, mereka langsung dikirim ke semua letnan kolonel secepat mungkin.
Dekan nge-scroll daftar kelulusan dan nemuin kalau nama Nyonya Wilson gak muncul di situ.
Dia kaget sedikit, tapi pas dia ngerti sesuatu, dia ngangguk tanda paham.
"Iya, kalau Nyonya Wilson bisa lulus dengan lancar, berarti kualitas pendidikan di Universitas Notting udah gak ada harapan..."
...
Laura selesai makan siang di restoran pinggir jalan. Dia ngelihat tanggal yang muncul di layar hapenya dan bergumam, "Lima hari lagi, waktunya pergi."
Dia ngelap mulutnya pake tisu. Dia mainin hapenya beberapa kali dan langsung ngirim pesan ke Hu Hefa: "Wakil Presiden, aku bantu sekolahmu perkuat firewall. Aku harus pergi."
Hu Hesi bales: "Terima kasih, terima kasih!"
"Ngomong-ngomong, masih inget tawaran terakhirku? Aku nunggu kamu di Universitas Notting kapan aja!"
Laura gak bales, mesen tiket pesawat, dan siap-siap balik ke tempat tinggalnya buat nge-packing tas.
Langit nyebrang garis jalur air putih salju, dan pesawat dari Eropa mendarat pelan-pelan. Laura narik koper dan dengan tenang turun dari pesawat.
Pas dia ngelihat penumpang yang lalu lalang di depannya semua berambut hitam dan bermata hitam, dia narik napas dalam-dalam dan cukup terharu: "Enakan balik kampung."
Laura nge-packing beberapa cemilan di bandara dan mutusin buat balik ke rumah tua buat ketemu Kakek duluan.
Rumah tua.
"Cewek bau, jadi kamu masih inget aku sebagai Charlie yang jahat!" Kakek Lin ngomel, tapi nerima cemilan dengan jujur di tangannya.