Bab 319 Keren
Media Cahaya Pagi.
Laura jalan ke markas: "Lapor perjalanan terbaru."
"Siap, Bu Bos!" Sekretarisnya ngikutin dia sambil buru-buru buka buku catatannya. "Jam 2:30, berarti, ada rapat di ruang konferensi dalam lima belas menit lagi..."
Waktu Laura lagi makan, dia belok ke arah yang bener. "Pergi sekarang."
Ruang konferensi.
Seorang bapak-bapak paruh baya dengan punggung aneh sekarang lagi ngebelakangin pintu dan ngamuk.
"Gue mau lo kasih penjelasan!"
Selesai ngomong gitu langsung ngasih dokumen, tepat di muka asisten kecil.
"Pak Jiang, jangan marah-marah. Kalau ada yang mau diomongin, jangan langsung mulai kerja dulu."
Yang Chenyang, direktur departemen pemasaran, ngejagain asistennya di belakang dia dan dengan sungguh-sungguh menasehati: "Dia kan asisten kecil. Gak ada gunanya Bapak nyari masalah sama dia. Bapak bisa cari saya kalau ada apa-apa..."
Jiang Tao ngelihat dua orang yang lagi ngegeng di seberang jalan. Dia nyindir: "Ngapain nyari lo? Lo kan cuma direktur. Mau ngomong apa ke lo yang gak punya hak apa-apa? Mana bosnya, mana bos lo? Panggil bos lo keluar!"
Waktu sekretaris ngelihat ini, dia secara gak sadar pengen maju: "Bu Bos, biar saya yang ngomong sama dia."
"Gak usah."
Laura ngulurin tangan dan ngehentiin dia.
Dia natap Jiang Tao, dan ada sorot minat yang muncul di matanya.
Baru beberapa hari ini dia ngerasa bosen, jadi mending nyari masalah, biar bisa olahraga otot dan tulang.
Laura jalan pelan-pelan: "Gue yang bakal selesaiin masalah ini."
Yang Chenyang matanya jeli. Dia nemuin dua orang tambahan di ruang konferensi pertama kali. Dia teriak ke Laura kaget: "Mbak Lin!"
Selain itu, kecuali sekretaris, Laura hampir gak pernah ngaku sebagai bosnya Media Cahaya Pagi.
Makanya, staf internal cuma tau kalau Laura mewakili maksud dari kalangan atas, dan untuk lebih lanjutnya, mereka gak punya cara buat nyari tau, jadi mereka cuma hormat manggil Laura "Mbak Lin".
Jiang Tao ngelihat gaya Laura yang megangin lengan waktu jalan. Dia tau kalau ini orang yang bisa ambil alih. Dia ngelihat dia dengan hati-hati saat ini.
Matanya berhenti lama di wajah Laura yang cantik dan lembut. Wajah Jiang Tao aneh, terus dia ketawa: "Gak ada orang di media pagi lo? Masa bintang kecil ikut campur urusan penting!"
Dia salah ngira Laura sebagai bintang kecil yang bakal dikirim sama Media Cahaya Pagi.
Untuk ini, Laura gak ngejelasin apa-apa. Dia nunduk dan natap berkasnya si asisten kecil beberapa detik.
Ngelihat ke atas lagi, dia natap Jiang Tao, dan nada bicaranya gak bisa dibantah: "Ambil itu buat gue!"
Jiang Tao ngeh maksudnya, dan dia nunjukin rasa gak suka: "Masa gue disuruh ambil? Emang lo siapa? Jangan mentang-mentang lo lumayan cantik, lo bisa seenaknya sama gue, lo gak punya hak!"
Laura tanpa ekspresi dan ngomong jelas kata demi kata: "Ambil itu."
"Gue gak bakal ambil, lo mau apa?!"
Ngelihat suasana makin tegang, sekretaris di samping ragu-ragu sebentar, dan dia nunduk buat ngambil dokumennya cepet-cepet.
"Ini, Mbak."
Laura ngambil dokumennya, dan dia ngehadap Jiang Tao, yang sombong dan angkuh, dan ngelempar dokumen itu ke mukanya.
Tanda merah terang muncul di wajah Jiang Tao.
Dia gak percaya. Dia ngerasa sakit. Dia nutupin mukanya dan bilang, "Lo cewek brengsek, berani ngelempar gue pake dokumen?!"
"Iya, gue lakuin. Lo mau apa?" Laura ngambil omongan Jiang Tao buat dia sendiri.
Dia ngegenggam tangannya di udara dan bikin gerakan "gatel tangan". "Gue gak cuma ngelempar, tapi ngelemparnya juga bagus. Ada masalah?"