Bab 154 Perhatikan Makan
Lagi ngobrol, ada yang ngetok pintu terus nanya pelan, "Permisi, Den, dokter ajaibnya ada di rumah sakitmu?"
Muka Den, dia reflek ngelirik Laura. Setelah dapet bahu acuh tak acuh dari dia, Den langsung jawab, "Ada! Masuk."
Pintunya dibuka, orang itu nunduk. Abis masuk dan nutup pintu, dia ngangkat kepala dan buka topeng sama topinya.
Muka Zhang Junmei yang luar biasa kebuka, terus dia senyum lebar ke Den. "Kalo nggak sibuk, bisa nggak aku minta dianter buat ketemu dokter ajaibnya?"
Abis liat mukanya jelas, Den saking semangatnya sampe nggak bisa ngomong, terus mukanya merah sebelum akhirnya berusaha ngerendahin suara dan bilang, "Shadow, aktor film? Gimana kabarnya! Anakku ngefans banget sama kamu, bisa minta tanda tangan nggak?"
Denger omongan gitu, Laura lumayan kaget, terus matanya ngeliat penampilan orang itu.
Rambut keriting, kulit putih kayak salju, dan bibir tipis emang idola Lucy-Shang Yao.
Shang Yao punya penampilan yang lembut dan nggak bahaya, dia ramah banget.
Dia inisiatif ngeluarin pulpen sama kertas dari kantong jaketnya. "Tanda tangan? Nama anakmu siapa?"
Abis Den ngasih nama, dia nulis tanda tangan keren dengan rapi dan ngasihnya.
Den hati-hati nyimpen kertasnya, inget sesuatu, terus buru-buru ngenalin ke Shang Yao, "Ini Laura, dokter ajaib yang kamu cari."
Oh? Dokter ajaibnya masih muda banget?
Shang Yao ngerasa nggak percaya, tapi dia nggak protes. Dia ngeliat Laura dan siap ngejelasin keadaannya. "Halo, Dok, saya..."
"Jangan ngomong dulu." Laura langsung motong. "Kamu ada masalah sama suara kamu - nggak bisa ngomong dialog dengan jelas, kan?"
Shang Yao kaget dan heran. Di saat yang sama, dia percaya sama kemampuan medis Laura. "Dokter ajaib emang pantas dapet gelar dokter ajaib, beneran."
Suaranya merendah. "Aku udah minum banyak obat buat nyembuhin suara aku, tapi nggak sembuh-sembuh. Aku harus minta bantuan ke kamu..."
Laura bilang, "Obat-obatan itu, seharusnya nggak kamu minum."
Muka Shang Yao nunjukkin kecemasan. "Tapi aku udah minum. Apa aku masih bisa nyembuhinnya sekarang?"
"Kenapa nggak bisa sembuh? Bukan penyakit yang aneh-aneh kok."
Laura ngomong santai, nyobek kertas, nulis resep, dan ngasihnya. "Kamu pergi ke apotek buat nebus obat, masak sopnya sesuai cara yang di atas, pake sekali sehari, dan aku bakal balik lagi kesini tujuh hari lagi."
Shang Yaozhen nerima dengan serius dan ngangguk serius. "Hmm."
...
Shang Yao keluar dari rumah sakit bawa kantong obat yang diikat pake dua tali goni.
Pas agennya yang nyender di mobil van ngeliat dia, dia langsung tegak dan buka pintu. "Gimana?"
Shang Yao neken jakunnya sambil duduk di mobil, suaranya serak. "Kalo nggak ada apa-apa, sekitar sebulan lagi sembuh."
Agennya duduk di kursi pengemudi dan liat kegembiraan di mata Shang Yao di kaca spion. Dia nggak bisa nahan buat nggak senyum. "Dokter ajaib Rumah Sakit Gouverneur beneran pantes dapet reputasinya, beneran hebat!"
Shang Yao ngangkat bibirnya. "Hmm."
Pas agennya liat dia lagi semangat, dia ragu pas nyebut topik lain. "Ngomong-ngomong, kamu inget nggak apa yang kamu makan sebulan lalu?"
Lengungan bibir Shang Yao langsung rata, dan dia geleng kepala.
Agennya nggak nanya lagi. Dia nyalain mesin dengan sangat cemas dan nggak lupa bilang ke dia, "Kamu harus hati-hati akhir-akhir ini dan lebih perhatiin makanan kamu."