Bab 287 Melindungimu
Ngelihat tampang kronik lokal kayak ayam enak, ketua tim puas pasang pistol ke pinggangnya terus nindih dia ke tanah: "Mantap."
Kronik lokal nyengir kecut. Mana mungkin dia nyangka cewek ini bisa ngerobohin lebih dari 20 penjaga sendirian dan akhirnya nahan dia jadi sandera?
...
"Nona, nona, bangun, bangun cepetan. Bangun dan operasi!" Dokter itu dengan lembut mendorong Fang Ruonan yang lagi tidur di kasur.
Fang Ruonan buka kelopak matanya. Dia secara nggak sadar ngeliat jam weker di meja samping tempat tidur, terus ngeliat ke atas dan menyipitkan mata ke langit di luar jendela.
"Duh, baru jam enam. Perlu banget ya secepet ini?....." Dia selesai ngomong dengan lemes, ngejepit selimut dan balik badan.
Dokter khawatir: "Nona, bangun cepetan! Ada kecelakaan, kalau nggak operasi keburu telat!"
"Hah?!" Fang Ruonan kebangun. Dia buru-buru duduk dan turun dari kasur buat pake sepatu. "Maksudnya apa nih?"
"Nggak ada waktu buat jelasin, ikut saya dulu." Kata dokter sambil megang pergelangan tangan Fang Ruonan dan lari balik ke aula.
Fang Ruonan udah turun dari kasur, tapi sekarang dia keluar tanpa sebab yang jelas, bikin dia makin kesel: "Apaan sih, nggak jelas banget..."
Dokter nemuin Wen Qingye.
Wen Qingye masih diikat di kursi. Seharian penuh, dia nggak minum air. Sekarang, mukanya pucet, bibirnya ngelotok, dia ngangkat kelopak matanya dan ngeliatin mereka dengan dingin.
Dokter jongkok di depannya dan buka kotak obat yang dia bawa.
"Maaf ya." Kata dokter, terus dia cepet-cepet ngeluarin palu kecil dan ngetok lutut Wen Qingye beberapa kali.
"Ugh." Wen Qingye jelas ngerasain tulang di lututnya patah.
Keringat dingin keluar dari dahinya, bibirnya gemetar, dan matanya yang merah padam natap lurus ke dokter tanpa ngomong sepatah kata pun dari awal sampai akhir.
Sebenernya, dokter pengen dia nangis, setidaknya dengan begitu, beban psikologisnya bisa berkurang sedikit.
Tapi, Wen Qingye udah mau mati-matian ngejepit bibirnya dan nolak buat bersuara.
Dokter keringetan banyak banget, dan tangannya yang megang palu kecil sedikit gemetar.
Mau gimana lagi. Ini yang disuruh sama tuan rumah khusus buat dia. Dia harus ngelakuinnya...
Nggak usah ngomong seberapa grogi dokternya, Fang Ruonan, yang cuma nonton, juga ngerasa nggak tega: "Lo... ngapain sih?"
Dokter baru mau jelasin, dan dengan "brak", pintu aula belakang ditendang dan ambruk ke tanah.
Beberapa orang ngeliatin pintu, cuma ngeliat Laura berdiri di depan pintu dengan sosok tinggi dan tatapan dingin, dengan kaki panjang dan dateng dengan marah.
Pas tangan dokter goyang, palu kecil itu jatuh ke tanah, dan dia nunduk secara nggak sadar buat ngambilnya.
Baru deh dia nunduk, "dug", dan satu kaki ditendang keras di perutnya, dan tubuh dokter itu ditendang sejauh tiga meter.
Teriakan "ah", tubuh itu melewati busur di udara, dan akhirnya jatuh ke tanah dengan cara yang nggak enak.
Kepala dokter mendarat, kepalanya miring ke Fang Ruonan, dan genangan darah yang banyak ngalir pelan-pelan. Hidup dan matinya nggak jelas.
"Ah-" Fang Ruonan ketakutan setengah mati sama pemandangan ini. Dia teriak dan meluk kepalanya terus ngecilin diri jadi gumpalan.
"Kak Sheng Sheng," Wen Qingye akhirnya bersuara, suaranya pelan banget, juga mendesak banget, "kamu pergi! Ada banyak orang di sini, kamu nggak bisa ngatasinnya sendirian!"
Suhu di mata Laura turun ke titik beku, dan pas dia ngeliat Wen Qingye, dia cuma sedikit anget.
"Jangan takut." Dia pelan-pelan maju dan hati-hati ngelepas tali di Wen Qingye. "Karena aku di sini, aku bakal lindungin kamu."
"Kak Sheng Sheng..."
Mata Wen Qingye merah.