Bab 84 Kambing Hitam
Sekelompok orang bergegas ke kolom komentar dari cuitan terbaru Kimberly untuk berbagi perasaan sakit hati mereka.
"Gue dulu bela-belain lo di mana-mana pas lo kecelakaan. Penampilan lo selama ini palsu semua, lo pembohong!"
"..."
Dari semua umpatan itu, masih ada banyak banget fans yang tulus mencoba untuk membelanya.
"Iya, gue akuin Kim emang gak bener kali ini. Tapi emang lo gak bakal marah sama cewek yang ngerampas tunangan lo? Kim udah baik banget gak marahin dia langsung."
"Gue rasa audio ini pasti diedit dengan jahat. Siapa sih yang mau nyakitin Kim? Gue cuma bisa bilang Kim terlalu baik dan punya banyak musuh..."
Saat Twitter jadi heboh gara-gara audio itu, Kimberly menggigit bibirnya karena cemas mendengar berita itu ---- siapa sih... Siapa coba yang merekam omongannya dan sengaja nyebarin di internet?!
Manajernya, yang terus memantau Internet, menyadari masih banyak yang membela Kimberly, dan berkata, "Kim, jangan khawatir. Tapi jangan dateng ke acara dulu beberapa hari ini. Gue bakal kerja sama sama perusahaan buat nyari solusinya."
Meskipun, pertama kali manajer itu tahu beritanya, dia juga kaget banget. Soalnya, penyamaran Kimberly emang jago banget sampai dia yang selalu di sampingnya aja gak ngeh ada yang beda. Tapi dia lega mikir betapa sedikit orang yang bersih di lingkungan mereka. Setelah nenangin Kimberly, dia berbalik dan nelpon perusahaan.
Kimberly nunggu dengan cemas untuk waktu yang lama sebelum manajernya menutup telepon.
"Perusahaan bilang apa?" tanyanya gugup seketika.
"Gak papa kok." Manajer itu terus meyakinkannya, "Perusahaan bilang, nanti tinggal cari kambing hitam, lo gak bakal kenapa-kenapa."
"Bagus deh." Kimberly merasa lega.
Manajer itu tersenyum -- Kimberly masih berharga bagi perusahaan mereka, jadi dia akan diselamatkan. Tapi susah ngomong kalau dia udah gak berguna.
....
Laura ngajak Marcus makan siang buat berterima kasih atas videonya.
Di restoran, makanannya wangi banget sampai bikin orang pada laper.
Mereka duduk berhadapan dan ngobrol dengan gembira.
"Oh ya." Tiba-tiba Laura teringat sesuatu dan jadi agak serius.
Dia meletakkan gelasnya dan melihat sekeliling buat mastiin gak ada orang di sekitar. Terus, dengan suara pelan, dia bilang ke Marcus yang bingung, "Lo harus jaga rahasia kalau kakek lo udah diracun!"
Kata-kata itu berdering seperti guntur di telinga Marcus. Dia menggoyangkan tangannya, dan anggur di gelasnya tumpah semua ke meja.
"Lo bilang... Beneran?" Pada akhirnya, kata-kata itu terdengar marah.
Laura tampak serius. "Pasti bener, gue udah perhatiin baik-baik. Lo tahu kan... Kesehatan kakek lo emang makin memburuk akhir-akhir ini..." Dan alasan di baliknya udah jelas banget.