Bab 322 Ini Tidak Adil
Ketegasan kata-kata guru itu menyengat hati Dennis sesaat.
"Pak Guru, saya hargai keputusanmu, tapi..."
Dia mengepalkan tinjunya. "Saya rasa Bapak harus kasih saya kesempatan buat bersaing secara adil, gimana menurut Bapak?"
Setelah itu, meskipun beberapa orang di sana kaget, Dennis berbalik dan keluar dari kantor.
Di belakangnya, keterkejutan beberapa guru perlahan berubah jadi perasaan tak berdaya.
"Sebenarnya, bukan berarti saya gak ngerti dia..." kata seorang guru pelan.
"Iya, iya, karena dia ranking satu di kelas, pasti agak sombong." Guru lain menimpali.
"Ditambah lagi, hubungannya sama Laura kan agak gimana gitu..."
"Itu..." suara wali kelas sangat pelan, "haruskah kuota itu dikasih ke dia?"
Kantor hening beberapa detik.
Beberapa guru saling pandang dan membaca maksud satu sama lain dari mata masing-masing.
Ketua kelompok fisika: "Enggak, kuota tetap harus dikasih ke Laura!"
"Iya, kandidat buat kuota lomba enggak boleh diubah!"
"Iya, iya."
Setelah beberapa diskusi, beberapa guru dengan suara bulat memutuskan bahwa kuota harus diberikan ke Laura.
Ketua kelompok fisika mengeluarkan ponselnya: "Kalo soal Dennis, nanti saya bisa sampaikan pendapatnya dan lihat apa kata direktur."
Setelah beberapa aksi, tak lama kemudian, direktur BK membalas pesan: "Gak perlu ada penilaian khusus buat ini, mubazir banget. Suruh aja mereka siap-siap buat ujian masuk kuliah, dan gak usah mikirin lomba."
Ketua kelompok fisika mendongak dan berkata pada sekelompok guru: "Kalian sudah lihat sendiri, ingat buat minta Dennis siap-siap buat ujian masuk kuliah."
Beberapa guru mengangguk satu per satu: "Siap."
...
Setelah direktur BK membalas pesan, dia menyimpan ponselnya dan tersenyum tak berdaya: "Hal sesederhana dan sejelas ini malah dibikin rumit..."
Berbalik untuk mencari kepala sekolah, dia berteriak: "Pak Kepala Sekolah, kandidat buat kuota lomba sudah diputuskan, cuma Laura!"
Kepala sekolah membuka mulutnya karena kaget: "Hah?"
Direktur BK bingung, "Bapak punya kandidat lain?"
"Bukan soal pantas atau enggak..." Kepala sekolah tampak masam. "Masalahnya adalah apakah Lin mau ikut. Saya pikir awalnya, saya pakai muka tua saya buat bikin dia mau-mauan ikut ujian masuk kuliah... Sekarang lomba yang katanya penting atau enggak, apakah dia mau ikut?"
Wajah direktur BK jadi serius: "... kalo gitu, Bapak telpon dan tanya aja gimana?"
Kepala sekolah terpaksa menelepon Laura.
Setelah nada sibuk, diangkat di seberang.
Kepala sekolah dengan hati-hati menceritakan lagi soal lombanya. Di akhir, dia buru-buru menambahkan: "Saya gak maksa kamu kok. Kamu bisa ikut kalo ada waktu, tapi kalo enggak ada waktu..."
"Saya ada waktu." Laura berbicara santai.
Awalnya, kepala sekolah gak percaya telinganya: "Kamu, kamu maksudnya..."
"Ya, saya ikut."
Kepala sekolah senang, dan dia buru-buru mendorong direktur BK: "Cepat, cepat, laporkan nama Laura!"
Saat direktur BK mendengar semuanya, dia juga sangat senang. Dia berlari keluar dari kantor kepala sekolah dan berlari ke Kantor Tata Usaha Akademik.
Dia mau mendaftarkan namanya, tapi saat dia mendorong pintu kantor, dia menemukan orang yang tak terduga.
"...Dennis?"
Pernapasan direktur BK perlahan stabil.
Dia menarik kursinya, duduk, dan menyalakan komputer.
Selama itu, dia dengan santai bertanya: "Lin, ada yang bisa saya bantu?"
Dennis memandangnya sebentar dan tiba-tiba bertanya, "Direktur, apa kuota lomba sudah ditentukan?"
Mata instruktur terpaku pada layar, dan tangannya memegang mouse terus bergerak: "Sudah, itu Laura."
Dennis diam.
Setelah lama, dia enggan berbicara: "Tapi, ini kan gak adil!"