Bab 346 Hidup
Zuo Yiliang natap dengan galak, terus dia ngomong serius ke Meng Yang: "Gue nggak pernah bercanda. Buku kerja yang ada nama Laura kebetulan ada di sini. Mau lihat nggak?"
Si Meng Yang langsung bungkem.
Malu, dia ngepalin tinju, balik badan terus pergi: "Gue sibuk, nggak butuh."
Lihat Meng Yang kayak ayam jago yang kalah lesu gitu pergi, si Left malah senyum-senyum, terus masuk ke kelas khusus buat pelatihan.
"Profesor Zuo."
"Profesor Zuo."
Waktu ngeliat Li Yunmeng sama Fengyu, mereka nyapa dia dengan hormat.
Si Left cuma jawab santai, nggak peduli sama tatapan kaget dari dua orang itu, dia nyamperin Laura yang lagi beresin barang di sebelahnya.
"Neng, itu..." Kayaknya susah ngomong, dan suara si Left lirih banget. "Masih jualan tonik rambut nggak?"
Laura bergerak, terus dia ngeliat ke atas rambutnya.
Zuo Yilian nyadar arah pandangnya, terus dia senyum sambil ngerapiin akar rambut di dahinya, yang tebal dan hitam, lebih bagus beberapa kali dari sebelumnya.
Laura ngerti, terus dia nunduk lagi: "Nanti gue kasih link-nya."
...
Malemnya.
Xiu Yan dandan cantik dan anggun, terus dia ngangkat tongkat selfie yang ada senyum cerah di atasnya.
"Oke, semua udah selesai lihat kamar gue. Mau lihat apa lagi?"
Komentar di ruang siaran langsung banjir satu per satu. Xiu Yan deketin layar, pura-pura mikir sebentar, terus teriak, "Ah! Biar semua lihat temen sekamar gue!"
Selesai ngomong gitu, dia nyamber kamar lain terus langsung jalan ke pintu Li Yunmeng.
"Tok tok."
Pintunya kebuka.
"Siapa?" Suara dari dalem bukan suara Li Yunmeng.
Xiu Yan ngeliat Li Yunmeng di depannya terus nyapa sambil senyum: "Selamat malam, Yunmeng! Siapa lagi di dalem?"
"Ada Laura." Li Yunmeng ngomong gitu tapi badannya tetep berdiri di depan pintu, nggak mau geser. Dia nanya dengan sabar, "Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa, cuma lagi siaran langsung, terus fans gue pengen tau lo..." Xiu Yan nunjuk ke handphone, terus deketin satu langkah dengan cara yang rahasia banget dan berbisik, "Masa nggak mau kasih muka ke gue?"
Muka Li Yunmeng langsung jelek sebentar terus ketutup sama aksinya yang langsung buka pintu: "...silakan masuk."
Xiu Yan masuk dengan seneng. Dia pegang handphone terus muter-muter di kamar: "Udah lihat, kan? Kayak yang gue bilang, tata letak tiap kamar persis sama, nggak ada yang menarik."
Kayaknya dia baru nyadar ada Laura di ruang tamu. Dia nyapa yang terakhir dengan senyum: "Hai! Ini temen sekamar gue yang lain, Laura."
"Cantik banget. Beneran, bidadari cuma temenan sama bidadari!"
"Dia lagi ngapain? Latihan kaligrafi ya?"
"Yeon-yeon, kameranya bisa deketan lagi nggak!"
Xiu Yan nyadar komentar-komentar itu, terus dia nengok penasaran: "Laura, lagi ngapain?"
Gue ngeliat Laura nunduk, megang kuas di tangan, terus terus-terusan ngegambar di atas kertas nasi. Beneran lagi latihan kaligrafi.
Denger pertanyaan Xiu Yan, dia nggak ngangkat kepala, dan suaranya ada nada nyinyir: "Masa nggak punya tangan nggak punya mata?"
Hati Xiu Yan langsung deg-degan, dan refleksnya ngeliat ke komentar.
"Kok orang ini gitu banget sih? Nggak ada sopan santunnya sama sekali."
"Bisa ngomong bahasa manusia nggak sih?"
"Yeon-yeon, jangan takut, kita di sini, balik aja!"
Huh-Xiu Yan ngehela napas lega.
Gue hampir lupa nggak ada yang tau tentang dia ngancem Laura buat bawa barang-barangnya dulu.