Bab 131 Titik
"Hah?" Tiba-tiba, Lin Fu mikir apa dia salah denger. "Maksud lo Laura?"
"Iya, lo gak liat di kompetisi kaligrafi hari ini..." wanita itu mulai jelasin.
Baru setengah jalan, eh, Nyonya Taylor nyela dengan muka ditekuk. "Bodo amat sebagus apa juga, cuma anak haram yang gak pantes dihormatin."
Si wanita itu keselek, terus natap Nyonya Taylor dengan tatapan gak percaya dan langsung pergi.
Pas dia lewat Lin Fu, dia ngomong pelan sambil gak suka, "Pak Lin, istri barunya Bapak emang gak banget deh."
Suaranya gak keras, tapi cukup buat semua orang di situ denger.
"Kamu!" Mata Nyonya Taylor melotot dan pengen nyerang.
"Udah!" Lin Fu buru-buru nahan dia. "Gak malu apa?"
Abis itu, festival seni gak diurus lagi. Dia narik Nyonya Taylor dengan muka malu dan langsung cabut dari sekolah.
...
Jam empat sore.
Pas festival seni selesai sesuai jadwal, sekolah mulai ngitung daftar pemenang dari setiap proyek.
Kepala sekolah nemuin Sheng Hongyu lagi minum teh di ruang istirahat.
"Ketua, saya dateng juga nih. Mendingan ngasih hadiah, bikin anak-anak seneng."
"Gak mau." Sheng Hongyu nolak tanpa mikir. "Nanti saya mau balik buat nanem sayur, gak ada waktu."
Lihat dia seneng banget, kepala sekolah gak punya pilihan selain nyerah. "Oke deh."
Baru mau keluar dari ruang istirahat, Sheng Hongyu tiba-tiba nyetop dia, "Tunggu dulu."
"Walaupun nanti saya mau balik. Tapi Laura difitnah dan dicurangi, kamu harus hukum berat kepala sekolahnya!" Nada bicaranya serius.
Kepala sekolah kaget terus langsung masang muka serius. "Siap, Pak."
Sebelum kepala sekolahnya pergi, ada orang lain dateng.
"Ketua, ngomong-ngomong, apa Bapak..." Ketua asosiasi seni hati-hati merhatiin mukanya dan mikir-mikir, "Mau nerima Laura jadi murid?"
"Saya nerima Laura jadi murid?" Sheng Hongyu kaget.
Terus dia nyindir, "Omong kosong apa yang kamu omongin? Level kaligrafinya anak itu udah di atas saya, dan saya nerima dia jadi murid. Kalian berdua, minggat dari hadapan saya!"
Selesai ngomong, Sheng Hongyu ngusir sekelompok orang itu tanpa basa-basi.
Akhirnya, kesabarannya bener-bener abis.
...
Juri lagi ngecek peringkat pas tiba-tiba liat sesuatu. Mereka teriak gak percaya, "Guru, guru, coba liat sini."
Guru-guru dari kelompok seni denger suara itu dan langsung mendekat ke daftar satu per satu. "Ada apa?"
Pas mereka liat hadiah pertama dari semua proyek sama semua nama, mulut mereka langsung mangap kaget.
"Siapa sih Laura ini, kok bisa dapet hadiah pertama!"
Pas kepala kelompok seni denger beritanya, dia ngibas-ngibasin tangannya kayak orang linglung. "Gak peduli, pasang aja dulu peringkatnya."
...
Sisi lain.
"Oke, oke," Kakek Lin mainin HP-nya. Dia senyum dan matanya menyipit. "Semua udah saya urus."
"Beneran?" Sampe sekolah ngirim pesan notifikasi, Wen Qingyi butuh waktu lama buat balik ke dunia nyata. "Mulai sekarang, aku beneran bisa sekolah di SMP yang sama sama kakakku?"
"Anak bodoh, ya jelas beneran dong!" Kakek Lin nepuk kepalanya.
"Aduh, sakit!" Wen Qingye juga megangin kepalanya sambil manyun.
Tapi terus dia mikir sesuatu, dan dia cekikikan. "Karena sakit, berarti beneran... Aku juga masuk SMP Swasta Linguang..."