Bab 38
PULANG LAGI TAPI KOSONG
Udah 6 bulan sejak kecelakaan dan serangan pada Riley. Rosita masih koma dan Mad. Flora masih berjuang dengan masalah kesehatannya. Riley duduk di samping ranjang ibunya menunggu Lian dan Lionel balik dari kantor dokter. Dia ambil tangan ibunya, genggam, dan menghela napas.
"Kamu tahu sesuatu, mum.., aku udah fit sekarang dan mau keluar hari ini. Aku balik rumah tapi kamu dan ayah gak ada di sana. Aku kangen banget sama kamu, mum," gumamnya ke ibunya.
Tiba-tiba, dia dengar pintu pelan-pelan kebuka; matanya langsung ke arah sana dan lihat Lionel dan Lian.
"Ayo pergi sekarang, sayang.." ucap Lian.
"Oke... Paman," ucapnya lesu dan bangun dari kursinya. Dia lirik mum-nya saat dia pelan-pelan jalan ke pintu.
"Dia bakal baik-baik aja, sayang.." gumam Lionel sambil merangkul bahunya dan mereka keluar dari pintu.
Lionel pergi ke bangsal Riley buat ambil barang-barangnya sementara Lian bawa Riley ke mobil. Kate, Loretta, dan Nancy udah di sana pas mereka sampai.
"Riley..." seru mereka serentak dan langsung meluk rame-rame pas Riley dan Lian sampai di mobil.
"Kami kangen kamu, Riley...Aku senang banget kamu udah sehat sekarang. Kita kangen sekolah bareng," gumam Loretta.
"Bener banget, Riley, sekolah tuh bosen banget tanpa kamu," tambah Nancy.
Rosita senyum tipis dan meluk mereka lagi.
"Aku juga kangen kalian, girls," gumamnya.
Lian lihat dan senyum.
Saat itu, Lionel keluar dari rumah sakit bawa barang-barang Riley.
"Oh, kalian udah di sini. Kupikir mau nelpon kalian setelah kirim Riley pulang," ucapnya saat mendekat.
Mereka lepas pelukan dan balik ke arahnya, senyum.
"Wah.., Paman Lian nelpon kita dan kita gak sabar ketemu Riley jadi kita langsung ke sini," gumam Nancy saat Lionel lewat buat naruh barang-barang Riley di mobil.
"Iya..., aku bisa lihat sendiri," gumamnya sambil nyengir.
"Kita bisa pergi sekarang, girls?" tanya Lian sambil jalan ke kursi pengemudi.
"Bisa..." ucap mereka serentak.
Mereka semua masuk mobil dan pergi.
**********
Setelah beberapa menit nyetir, mobil berhenti di apartemen Clifford.
"Kamu yakin gak mau ke rumahku buat nginep sama kita?" tanya Lian dengan tatapan khawatir.
"Gak, Paman..., aku bakal baik-baik aja di sini. Aku selalu mau cium bau orang tua ku dan cuma ada satu tempat aku bisa nemuin mereka," ucapnya, natap rumah itu.
Lian lihat dan menghela napas sementara teman-temannya menepuk dan sedikit membelai punggungnya.
"Kamu yakin, sayang?" tanya Lionel sambil pegang tangannya.
"Iya," dia ngangguk, sedikit senyum.
"Oke deh..." gumam Lian sambil turun dari mobil. Nancy yang duduk di samping Lian juga turun diikuti yang lain.
Riley menghela napas berat saat dia berdiri natap rumah itu. Lionel pergi ke dia dan merangkul bahunya.
"Yakin kamu bakal baik-baik aja?" tanyanya, nyari di wajahnya.
"Iya...." jawabnya sambil menghela napas.
"Oke deh, ayo masuk," gumam Lian dan mereka langsung masuk rumah.
Lian bawa barang-barang Riley ke kamarnya sementara Lionel dan teman-temannya duduk bareng dia di ruang tamu. Dia duduk lihat-lihat sekeliling rumah.
"Gak banyak yang berubah di sini. Cuma mum dan ayah gak ada," ucapnya sambil nengok ke teman-temannya.
Kate dan teman-temannya sedikit elus punggungnya dan meluk dia.
"Kamu punya kita, Riley, selalu ingat itu," gumam Kate.
Riley senyum dan seka air mata dari matanya. Tiba-tiba, Lian balik dari kamar Riley.
"Kamu oke?" tanyanya.
"Iya, Paman," jawabnya sambil senyum.
"Oke deh, aku mau pamit sekarang. Aku harus ke FBI buat lihat perkembangan penyelidikan kecelakaan ayahmu," gumamnya.
"Oke..." jawabnya sambil ngangguk.
"Oke.., love you, little princess. Aku ketemu kamu lagi," ucapnya, nyium pipi Riley.
"Kalian harus bantu aku jagain dia, oke?" tambahnya.
"Siap, Paman," ucap mereka serentak dan dia langsung keluar rumah.
"Sekarang, biar aku bikinin sesuatu buat kamu," ucap Nancy sambil berdiri ke dapur.
Riley senyum sambil ngangguk dan Nancy langsung pergi bareng Kate. Setelah beberapa saat, mereka balik bawa beberapa hidangan dan mereka semua makan.
Mereka tinggal beberapa saat bareng dia, nyemangatin dia.
Udah jam 6 sore sekarang; Kate, Loretta, dan Nancy pamit.
"Kita ke sini besok," gumam Loretta dan mereka pergi.
Lionel tinggal sebentar bareng Riley dan gak lama waktunya dia juga harus pergi.
"Kamu yakin kamu bakal baik-baik aja sendiri?" tanyanya khawatir.
"Kenapa gak biar aku bawa kamu ke rumah Pamanmu. Aku khawatir banget sama kamu, Riley," tambahnya, berusaha yakinin dia.
"Gak usah, Lio, aku bakal baik-baik aja," jawabnya yakin.
"Oke..." dia ragu-ragu jawab dan Riley antar dia pergi.
Sekarang, rumah kosong cuma ada Riley. Dia banting diri di sofa dan menghela napas. Dia lihat sekeliling buat lihat rumah yang dulu bahagia dengan tawa sekarang begitu sepi. Dia pelan-pelan berdiri dari kursinya dan jalan ke dapur.
Dia natap dapur dengan tatapan kosong saat kilas balik tentang dirinya bareng ibunya muncul di pikirannya. dia sedikit cekikikan dengan air mata di matanya. Dia pelan-pelan pindah ke meja makan dan berdiri tenang natapnya saat gambar tentang waktunya bareng orang tuanya muncul di depan matanya. Dia senyum dengan air mata mengalir di pipinya. Setelah lama lihat rumah itu, dia pergi ke kamarnya. Dia pelan-pelan jalan ke pintu mau buka tapi tiba-tiba berhenti saat dia lihat pintu kamar orang tuanya sedikit kebuka.
Dalam keadaan linglung, dia jalan ke pintu itu. Dia pelan-pelan buka dan masuk. Kelihatannya utuh dengan ranjang tertata sempurna. Dia lihat-lihat kamar yang penuh dengan foto orang tuanya tergantung di dinding. Dia pelan-pelan arahkan pandangannya ke meja di samping ranjang dan lihat foto dirinya dan orang tuanya ada di atasnya. Dia pergi dan ambil itu. Dia pelan-pelan duduk di ranjang natap foto itu.
"Mum..., ayah..., aku pulang tapi aku gak bisa nemuin kalian. Aku merasa kesepian banget, kamu tahu? Ayah..? Kenapa kamu ninggalin mum dan aku kayak gini? Dia bahkan gak mau lihat aku atau ngomong sama aku. Apa yang harus aku lakuin, ayah...? Seluruh rumah terasa begitu kosong tanpa kalian. Aku kangen banget sama kalian," gumamnya ke foto di tangannya di tengah air mata saat dia memeluknya.
"Kenapa Ayah..., kenapa kamu harus ninggalin kita kayak gini?" serunya (terisak pilu) saat dia pelan-pelan duduk di lantai.