Bab 48
HARUS GIMANA NIH?
Lionel kaget banget sama apa yang baru aja dia denger. Dia berdiri di balik pintu, syok dan kayak lumpuh karena pengungkapan baru ini.
"Dia bunuh ibuku?" gumamnya, air mata bercucuran di pipinya pas dia kehilangan keseimbangan, nggak sengaja ngejatuhin vas bunga yang ada di atas meja sampingnya.
"Biar aku telepon balik ya Zed..., kayaknya aku denger suara," bisiknya terus matiin teleponnya.
Dia pelan-pelan naruh teleponnya di meja belajarnya terus ngendap-ngendap ke pintu. Dibukanya pelan-pelan dan ngintip. Dia ngeliat koridornya, tapi nggak ada siapa-siapa. Dia mau nutup pintu, pas perhatiannya kealihin sama vas bunga yang pecah berserakan. Dia gigit bibirnya dan pelan-pelan ngambil salah satu serpihannya.
"Siapa ya kira-kira?" gumamnya, khawatir.
"Aku bakal nemuin kamu kok," tambahnya terus balik lagi ke kantornya.
Lionel jalan lesu di koridor menuju kamarnya dengan tatapan kosong, air mata masih netes di pipinya. Dia pelan-pelan buka pintunya terus masuk sambil nangis sesegukan, duduk di lantai.
"Kok kamu bisa lakuin ini ke aku, mum..." katanya, sedih. Tiba-tiba, teleponnya bunyi. Dia mau ngambil teleponnya, pas perhatiannya tertarik sama kain yang sedikit geser, nunjukkin kotak tua.
"Apaan tuh?" dia ngendus sambil ngedeketin, nggak peduli sama teleponnya.
Dia narik kainnya terus ngambil kotaknya.
"Emang selalu ada di sini ya?" gumamnya ke diri sendiri sambil buka lakban yang dipake buat nyegel tutupnya. Akhirnya dia bisa buka dan ngangkat tutupnya.
"Album foto?" gumamnya sambil meraihnya. Dia pergi ke meja belajarnya terus duduk sambil membalik-balik halamannya. Dia buka halaman pertama dan ngeliat ayahnya berdiri sama cewek cantik umur 30-an.
"Itu ibuku...?" gumamnya, ngambil fotonya dari album. Dia natap fotonya, matanya berkilat penuh amarah, kebencian tumbuh di hatinya.
"Gue bakal bikin lo bayar, Nichole. Gue bakal bales dendam buat ibu," gumamnya dengan marah.
***********
Mr. Dickson lagi di ruang kerjanya, sibuk ngerjain beberapa dokumen pas dia denger ada ketukan samar di pintu terus kebuka.
"Oh Lionel..., masuk," katanya sambil ngangkat matanya ke pintu dan ngeliat anaknya.
"Boleh ngobrol bentar sama ayah...?"
"Boleh, Nak..., duduk dulu," gumamnya sambil tersenyum, ngasih isyarat ke kursi di depannya.
"Makasih, Yah..." gumamnya sambil duduk.
"Ada apa, Nak, kok kayaknya ada masalah pagi ini?"
Nichole mau ngetuk pintu, pas dia denger ayah dan anak lagi ngobrol. Dia buru-buru nyender di pintu buat dengerin mereka.
"Kenapa sih Ayah lakuin ini...?" tanyanya.
"Emang ada apa sih, Nak...?" tanya Mr. Dickson, bingung.
"Soal ini nih, Yah..." serunya, sambil ngegebrak foto di meja.
"Berapa lama lagi Ayah mau rahasiain ibu!" serunya sambil air mata netes di pipinya.
"Berapa lama lagi Ayah mau terus-terusan kayak gini, Yah...?"
" Tenang dulu, Nak, kamu......"
"Kenapa Ayah nikahin cewek jahat itu sih?"
"Lionel.....!"
"Dia bunuh ibu, tau kan?"
"Berhenti ngomong ngaco, Lionel! Keluar dari ruang kerja ini," serunya.
"Tapi Ayah kan......"
"Ayah bilang keluar, Lio..." teriaknya.
Lionel natap ayahnya dengan marah besar dan ngegebrak kursinya pake kakinya sebelum meraih pintu.
Nichole buru-buru ngumpet pas dia ngeliat Lionel keluar dari ruang kerja ayahnya. Dia ngeliat dengan seringai pas dia ngeliat dia pergi.
"Lo nggak bisa nyingkirin gue semudah itu, Lionel," gumamnya dengan sombong.
Lionel lari ke mobilnya terus ngebanting dirinya ke kursi. Dia nelpon nomor Riley dan nunggu dengan sabar buat nyambung pas dia ngebut keluar rumah.
"Kenapa dia nggak jawab teleponku sih?" tanyanya, agak khawatir.
"Semoga dia baik-baik aja," tambahnya, masih nelpon nomornya tapi nggak bisa.
"Oke, coba telepon Kate aja deh," gumamnya sambil nyari nomor Kate di telepon. Dia nunggu dengan cemas pas sambungannya tersambung.
"Halo, Lionel...." jawab Kate di telepon.
"Hmm...Kate, kamu denger kabar dari Riley nggak? Aku udah coba telepon dia dari tadi, tapi dia nggak jawab. Dia baik-baik aja kan?"
"Gini..., soal itu? Dia.....ke-ketemu.....kalo kamu itu anaknya Bibi Nichole jadi....."
"Makasih ya, Kate, nanti aku telepon balik," jawabnya buru-buru, motong pembicaraan.
"Oke Lionel, kasih tau ya kalo ada apa-apa."
"Oke," jawabnya terus matiin teleponnya. Dia ngedesah dan ngelempar teleponnya ke kursi sambil ngebut ke rumah Riley. Setelah sekitar 30 menit nyetir, dia nyampe di rumah Riley. Dia keluar dari mobil menuju pintu. Dia pencet belnya beberapa kali tapi nggak ada jawaban.
"Kayaknya dia nggak ada di rumah," gumamnya, narik pintu tapi kekunci.
"Mungkin dia di rumah sakit," gumamnya terus balik ke mobilnya, ngebut pergi.
************
"Kamu yakin nggak mau ikut kita?" tanya Lian pas dia berdiri sama Riley di samping tempat tidur ibunya.
"Nggak, Om," jawabnya, lesu.
"Kamu boleh bawa ibuku, tapi aku, aku mau di sini aja."
"Aku juga nggak bakal pergi tanpa kamu, Riley. Coba ngertiin ya," kata Mrs. Rosita sambil megang tangan putrinya.
"Jangan bahas lagi kejadian yang lalu, sayang. Ayo ikut sama keluarga dan mulai hidup baru tanpa ada yang tau kita ada di mana."
"Mum..., kayaknya kita udah pernah bahas ini. Aku nggak mau denger lagi. Kamu boleh ikut Om kalau mau. Kalo aku, aku mau tetep di...sini," gumamnya dengan marah terus jalan ke pintu.
"Riley sayang, coba ngertiin kita," tangis Mrs. Rosita.
Riley berhenti di jalurnya pas denger ini dan langsung ngalihin pandangannya ke tempat tidur ibunya.
"Apa yang harus dimengerti sih, mum...?" tanyanya.
"Nggak, apa yang kamu...mau aku mengerti? Kamu mau aku ngerti kalo ada cewek karena cemburu, ngejar keluarga aku dan ngebunuh ayahku...? Kamu mau aku ngerti kalo ada orang yang ngintip kita dan mau ngehancurin seluruh keluarga aku....?" gumamnya sambil nangis.
Rosita dan Lian natap dia tanpa kata dan sedih banget.
"Riley kamu....."
"Nggak mau, Mum..." katanya, sambil sedikit ngusap air mata di matanya.
"Aku nggak bakal percaya itu, Mum...aku mau di sini dan ngejar keadilan buat ayahku," gumamnya terus meraih pintu, ngebantingnya.
Pas dia narik pintu, dia ketemu langsung sama Lionel.
"Riley." dia pelan-pelan nangis, meraih tangannya.
"Lepasin aku, Lionel..." gumamnya, ngejauhin tangannya.
"Aku benci kamu Lionel dan aku nggak mau liat kamu lagi seumur hidupku," tambahnya dengan marah dan buru-buru pergi.
Lian dan Rosita ngeliat dengan syok. Lionel berdiri syok beberapa saat terus lari nyusul dia.
"Riley tunggu...." serunya sambil ngejar dia.