Bab 42
KEBENARAN
Kira-kira jam 1 siang pas **Riley** sampe di **RESTORAN GIGS**. **supir taksi** nemuin tempat buat parkir dan dia turun.
"Terima kasih," gumamnya ke **supir taksi**.
"Sama-sama," jawabnya sambil pergi.
**Riley** menghela nafas dan masuk ke restoran. Dia nyari-nyari **Lionel** pake matanya tapi nggak nemuin dia di mana-mana. Dia jalan ke kursi deket situ dan duduk sambil tetep celingak-celinguk. Tiba-tiba, seorang **pelayan** nyamperin dia.
"Selamat siang, nyonya, mau pesan?" tanyanya.
"Mau sih, tapi nggak sekarang. Aku nunggu seseorang tapi dia belum dateng."
"Oke, bisa panggil kalau butuh apa-apa. Terima kasih," jawabnya sambil nyengir.
"Sip, makasih," jawab **Riley** sambil senyum dan **pelayan** itu ngacir.
Setelah beberapa menit nunggu, **Lionel** masuk. **Riley** ngeliat dia dan ngasih isyarat.
"Maaf banget **Riley**, aku ada urusan," gumamnya sambil mendekat, nyium pipinya, dan duduk.
"Emm.., kukira kamu udah di sini. Ngomong-ngomong, seharusnya kamu telpon aku," gumamnya dengan cemberut.
"Aku tahu sayang, maaf banget. Emm.. ?"
"Oke.., oke..." jawabnya sambil senyum.
"Aku dimaafin?" tanyanya sambil senyum.
"Iya..., tapi kenapa? Kamu bilang udah di sini. Aku sampe di sini dan kamu nggak ada,"
"Yah.., ceritanya panjang. Ngomong-ngomong, nggak usah bahas aku. Kamu kedengeran panik banget waktu nelpon tadi. Ada apa?" tanyanya dengan cemas.
"Soal surat yang aku temuin di kamar orang tua aku."
"Soal apa?" tanyanya dengan bingung.
"Isinya ancaman. Aku tanya **mum** soal itu tapi dia nggak mau cerita apa-apa. Aku tunjukkin ke **Paman Lian** dan dari cara dia ngomong, aku yakin ada hubungannya sama kematian **ayah** aku dan serangan juga."
"Beneran? Terus mana suratnya dan dari siapa? Apa kamu minta detailnya?"
"Iya. Udah. Ini dia," gumamnya sambil nyari di tasnya surat-surat itu. **Lionel** ngasih isyarat ke **pelayan** dan mesen dua gelas jus. Nggak lama kemudian, dia nemuin surat-surat itu dan nyerahin ke **Lionel**. Tiba-tiba, **pelayan** bawa jus mereka.
"Makasih," mereka berdua bergumam saat dia naruh jus di meja.
"Sama-sama," komentarnya dan pergi.
**Lionel** minum jusnya dan buka isi surat itu. Dia kaget sama nama yang dia lihat.
"**Mum**...?" gumamnya pelan.
"Emm...? Kamu ngomong sesuatu?" tanya **Riley** sambil minum.
"Hmm...? Nggak ada sayang," gumamnya. **Lionel** duduk diem, menganalisis surat-surat di tangannya, nyambungin sama foto-foto yang dia lihat di meja **Ibu Lionel**.
"Aku ngerti sekarang," gumamnya sendiri.
"**Lio**.., kamu baik-baik aja? Kamu keliatan agak stres."
"Aku baik-baik aja **Riley**, boleh aku simpen surat-surat ini?" tanyanya dengan harap.
"O..ke.." jawabnya pelan, agak bingung sambil natap dia curiga.
"Hei..., jangan liatin aku kayak gitu. Aku cuma mau bantu," ucapnya sambil senyum.
**Riley** ngangguk sambil senyum.
"Oke.., bisa kita pergi sekarang? Aku mau ketemu **mum** kamu. Aku mau tahu gimana perasaannya sekarang."
"Oke.., ayo," gumamnya sambil berdiri dari kursinya, ngambil tasnya.
"Oke.., aku ikut. Kamu bisa tunggu aku di mobil," ucapnya, ngasih kunci ke dia.
"Aku yang bayar dan nyusul," tambahnya dan ngacir. **Riley** juga keluar dari pintu ke tempat mobilnya dan duduk di dalam. Beberapa menit kemudian, **Lionel** nyusul dan pergi.
**********
Setelah beberapa lama nyetir, **Lionel** berhenti di depan rumah sakit. Mereka berdua turun dan masuk ke rumah sakit. Seorang **Perawat** ada sama **Rosita** waktu mereka masuk ke bangsal.
"Oh **Lionel**..." gumamnya sambil senyum pas ngeliat mereka.
"Aku rasa kamu bakal baik-baik aja sekarang," ucap **Perawat**.
"Iya.., makasih," gumamnya ke **Perawat**, dia (**Perawat**) ngambil barang-barangnya dan keluar dari bangsal. Waktu itu, **Riley** dan **Lionel** udah di samping tempat tidurnya.
"Gimana perasaanmu sekarang **mum**?" tanyanya.
"Jauh lebih baik sayang, cuma sedikit nyeri di ototku."
"Syukurlah. Kamu bakal sembuh total segera. Senang kamu balik lagi sama kita," jawabnya sambil senyum.
"Makasih, sayang.."
"Jadi..**mum**, kata **Perawat** apa?" tanya **Riley**, nyambung sambil duduk di samping ibunya.
"Yah, dia cuma ngasih aku beberapa obat. Aku bakal segera bisa pulang. Aku tahu kamu kesepian sendirian di rumah besar itu."
"Iya.. **mum**, bosen banget hidup sendirian," gumamnya sambil ngambil tangan ibunya.
"Hmm..., aku rasa aku pergi sekarang," kata **Lionel**, nyela percakapan mereka.
Mereka berdua noleh ke dia.
"Tapi kamu baru aja dateng," komentar **Rosita**.
"Iya.. **mum**, cuma aku ada urusan yang harus diurus."
"Oke sayang, semoga kamu dateng lagi ya."
"Iya **mum**.." jawabnya sambil nyengir.
"**Riley**.., antar dia."
"Nggak **mum**.., nggak apa-apa," gumamnya.
"Oke sayang, sampai jumpa lagi," jawabnya.
"Iya. **Riley**, aku telpon kamu pas aku udah sampe rumah."
"Oke.." jawabnya sambil senyum dan dadah ke dia. **Lionel** bales dadah sambil senyum dan ngacir.
**Riley** balik lagi ke ibunya dan ngeliat dia kelihatan terganggu.
"**Mum**.., kamu baik-baik aja?"
**Rosita** natap anaknya dengan tatapan khawatir dan menghela nafas.
"**Riley**, aku denger dari **Paman** kamu apa yang mau kamu lakuin. Aku rasa itu terlalu bahaya sayang. Aku udah mutusin sama **Paman** kamu buat pindah bareng keluarga ke Amerika."
"Apa...?" serunya.
"Kamu nggak bisa gitu **mum**..." tambahnya.
"Tapi sayang.., itu yang terbaik. Kamu tahu **Mad. Flora** nggak dalam kondisi yang baik dan kita nggak perlu bikin dia stres. Lagipula, aku rasa kamu harus berhenti ngorek-ngorek masa lalu. Kamu bisa aja terluka, sayang."
"Aku tahu **mum** tapi aku nggak setuju. Kamu bisa ikut mereka kalau kamu mau tapi buat aku, aku bakal tetep di sini buat cari keadilan buat **ayah**," gumamnya dengan marah, ngambil tasnya dari tempat tidur, dan keluar dari bangsal.
"**Riley**..., **Riley**..." **Rosita** berseru memanggilnya tapi dia cuma keluar tanpa noleh.
**Rosita** menghela nafas dan geleng-geleng kepala.
"Apa yang harus aku lakuin?" bisiknya.
**********
**Loretta**, **Nancy**, dan **Kate** lagi di kamar **Kate** sibuk nyari informasi yang diminta **Riley**. **Kate** lagi duduk di depan laptop sementara **Loretta** dan **Nancy** berdiri di sampingnya.
"Aku rasa namanya **Nichole** Ford," kata **Loretta**
"Ni.Cho..le. Ford," gumam **Kate** sambil ngetik nama itu di kolom pencarian dan berhenti.
"Tunggu dulu, kenapa nama keluarganya kedengeran familiar?" tambahnya.
"Aku rasa aku tahu kenapa. Dia punya nama keluarga yang sama kayak **Lionel**," **Loretta**
"Beneran? Gimana bisa? Apa menurutmu mereka ada hubungan?" tanya **Nancy** dengan bingung.
"Aku rasa nggak, mungkin cuma kebetulan," komentar **Loretta**.
"Aku juga gitu. Ngomong-ngomong, kita bakal segera tahu," gumamnya sambil neken tombol enter. Mereka nunggu beberapa saat saat informasi dimuat. Nggak lama kemudian, informasinya muncul di layar. **Kate** geser ke bawah dengan **Loretta** dan **Nancy** yang penasaran.
**Kate** geser lagi ke bawah dan mereka kaget sama apa yang mereka lihat. Tiba-tiba, mereka denger pintu kebanting di belakang mereka. Mereka noleh dan ngeliat **Riley** di pintu.
**Kate** buru-buru dorong laptopnya ke belakang, nyembunyiin dari dia.
"Apa yang kamu sembunyiin?" tanya **Riley** dengan bingung saat dia berdiri di pintu, agak kaget.
"Hmm.., yah, nggak ada apa-apa," gumam **Kate**.
"Nggak ada apa-apa? Terus kenapa kamu tiba-tiba dorong laptop ke belakang waktu ngeliat aku?" tanyanya sambil mendekat.
"Emm...Emm..." gumam **Kate**.
"Nggak ada apa-apa **Riley**, percaya sama kita," ucap **Loretta** dan **Nancy** barengan.
"Hei.., kenapa kalian aneh banget sih. Ngomong-ngomong, biar aku liat," ucapnya sambil sedikit mendorong **Loretta** dan **Nancy** ke samping. Dia meraih ke belakang **Kate** dan narik laptopnya.
"Oh..nggak.." gumam **Kate**.
**Riley** naruh laptopnya dan natap layarnya dengan mata lebar, kaget.