Bab 60
LIONEL
Ada empat kamar di rumah yang dikasih Kate buat Riley dan keluarganya. Itu bangunan dua lantai, semua empat kamar tidurnya di atas.
Susunannya pas banget, ada koridor di tengahnya, dua di kiri dan dua lagi di kanan. Lantai bawah ada ruang tamu, dapur, dan lain-lain.
Riley dan Lionel pakai dua kamar di kiri, sementara Rosita dan Lian di kamar kanan. Udah hampir seminggu mereka pindah. Riley nggak suka ide Lionel balik lagi ke rumah ortunya, terus jadi umpan buat jebak Nichole.
Dia nyamperin pintu Lionel, ngetuk pelan.
"Masuk aja, pintunya nggak dikunci," suara Lionel dari kamar.
Dia buka pintu pelan-pelan, lihat Lionel lagi beresin barang.
"Yakin mau lakuin ini?" dia nyamperin Lionel.
Lionel tutup tasnya, angkat mata ke muka Riley sambil hela napas. "Iya," dia pegang pipi Riley. "Aku tau kamu khawatir, tapi aku harus lakuin ini demi keselamatan kamu."
Riley menghela napas, "Terus, gimana nasib kamu?"
Lionel balik badan, nutup tasnya, "Aku bakal baik-baik aja, percaya deh."
"Beneran?"
"Iya." Dia lirik Riley sebelum ambil tas dari kasur.
"Nggak usah terlalu khawatir, Riley. Mereka keluargaku, aku juga tetep harus pulang. Nggak bisa terus-terusan ngumpet, kan?"
Riley merhatiin Lionel, mikir beberapa detik, terus ngangguk.
"Tapi, jangan lupa telepon aku kalau ada apa-apa, terus hati-hati ya. Kamu tau kan, Nichole licik banget."
"Iya, aku tau." Lionel meringis. "Aku harus pergi sekarang, udah mulai malem." Dia rangkul pinggang Riley, terus mereka keluar dari kamar.
Rosita berdiri di ujung tangga, mau manggil Riley dan Lionel, pas lihat mereka jalan ke arah tangga.
"Oh, kalian di sini."
Mereka berdua senyum, turun tangga.
"Tadi mau manggil kita ya?"
"Iya, beneran. " dia senyum, "Kamu mau pergi sekarang, Lio?" Waktu itu, mereka udah turun tangga.
"Iya, mum..." Dia nyengir sambil lirik Rosita.
"Oke..." dia ngangguk sambil senyum, "Tapi inget, hati-hati ya. Kamu tau kan, Nichole sekejam apa," dia menekankan dengan tatapan serius.
"Iya, aku pasti hati-hati, mum...." Lionel lepasin Riley, terus meluk Rosita.
"Aku bakal kangen kamu, sayang."
"Aku juga," jawab Lionel dari balik pundak Rosita, sebelum mundur.
"Kamu harusnya udah pergi sekarang." Rosita pegang pipi Lionel sambil senyum. "Ayo, antar dia, Riley."
"Oke, mum..." Riley pegang tangan Lionel, mau pergi, pas tiba-tiba dia inget sesuatu.
"Oh Bibi, Lian mana?"
"Dia baru aja keluar. Nggak usah khawatir, tante bantu kasih tau dia."
"Oke," Jawab Lionel, balik badan ke Riley, terus mereka keluar rumah. Pas udah sampai di parkiran mobilnya, dia buka pintu, masukin tas ke jok belakang, Riley berdiri di belakang. Dia tutup pintu, balik lagi ke Riley. Dia senyum lihat muka Riley yang khawatir, terus narik Riley buat pelukan.
"Aku bakal baik-baik aja."
Riley ngangguk di pundak Lionel, sebelum dia mundur.
"Aku telepon kamu kalau ada apa-apa," kata Lionel sebelum jalan ke sisi pengemudi mobil. Dia terakhir kalinya lirik Riley yang melambai, terus masuk mobil, dan pergi.
************
Siang hari, Lionel sampai di rumah. Dia masuk garasi, parkir mobil. Dia keluar mobil, dan ngerasa tempat itu sepi banget.
"Kok sepi banget?" Dia lihat sekeliling halaman, terus masuk rumah. Sampai di ruang tamu, nggak ada siapa-siapa.
Dia jalan ke arah tangga, terus berhenti, "Nggak bisa dipakai. Pada kemana semua, kok nggak dikunci pintunya?"
Dia julurin leher ke dapur yang ada di sebelah kanan tangga, niatnya mau cari orang, tapi kosong.
Dia ambil kamera rahasia dari tasnya, cari sudut di ruang tamu, "Kayaknya ini kesempatan aku."
Dia pasang kamera di sana, terus lihat sekeliling sekali lagi, dan menghela napas, "Semoga berhasil."
Dia senyum sendiri, terus naik tangga. Dia jalan ke ruang kerja Nichole, terus sembunyiin kamera lagi di sana. "Kayaknya udah selesai."
Dia jalan ke kamarnya, jatohin tas di sofa, terus banting diri ke kasur. Dia tiduran di kasur, mikir-mikir sebentar, terus nggak sadar ketiduran.
Lionel lagi tidur pulas, pas ngerasa ada bayangan jatuh ke dia. Dia buka mata, lihat ada jari aneh mau nusuk dia. Dia bangun dari kasur dengan dahi berkeringat, ketakutan, tapi terus sadar itu cuma mimpi.
Dia usap keringat di dahinya, menghela napas, "Fiuh, serem banget."
Dia masih mikirin mimpinya, pas denger langkah kaki di bawah, dan meringis, "Kayaknya mereka balik."
Dia keluar dari kamarnya.
Nichole lagi mau naik tangga, pas lihat Lionel turun. Dia berhenti di ujung tangga, kaget. Lionel natap Nichole, senyum, pas dia turun tangga, tau kenapa Nichole kaget.
"Kangen aku, ya?"
Nichole minggir, matanya masih fokus ke Lionel pas dia turun tangga terakhir. Dia berdiri di depan Nichole sambil senyum, "Kok kaget gitu? Lihat hantu?"
Nichole melotot marah ke Lionel, terus naik ke atas. Lionel melotot dari belakang sambil senyum, "Tunggu aja sampai aku punya bukti cukup, Nichole.."