Bab 64
LIONEL
Lionel mengikuti Nichole dari belakang, gak tau apa maksud aslinya. Nichole ngintip mobil Lionel dari kaca spion dan nyengir. Dia ngambil hapenya dan nelpon nomor Zed. Gak lama kemudian, dia jawab.
"Siap-siap, Zed... Lakuin semuanya sesuai rencana."
"Siap, Nyonya.." Jawabnya, terus teleponnya mati.
Nichole ngintip lagi di kaca spion dan senyum licik ke diri sendiri, liat mobil Lionel masih di belakangnya.
"Kamu bakal nyesel, bocah kecil.." dia ngebut.
Lionel juga ngebut, mastiin gak ketinggalan. Kira-kira jam 8 malem, Nichole masuk ke jalan laczode. Dia pelanin mobilnya pas mau sampe tujuan. Suasananya sepi banget, semua orang ada di rumah masing-masing sama keluarganya. Lionel juga pelanin mobilnya, ngikutin dari jauh, sambil curiga ngeliatin sekeliling.
"Dia mau ngapain sih?"
Beberapa menit kemudian, Nichole berhenti di depan gedung yang sepi dan terpencil. Lionel nunggu di mobilnya, ngeliatin dari jauh Nichole turun dari mobil.
Dia ngeliat sekeliling sebelum masuk ke gedung. Begitu dia masuk, Lionel langsung keluar dari mobilnya. Dia ngeliat sekeliling dan pas yakin aman, dia ngendap-endap masuk ke gedung.
Lampu di gedung remang-remang, jadi gak begitu jelas liat sekeliling. Gedung itu juga punya banyak ruangan. Pas Lionel masuk koridor, dia ngeliat ke arah kiri, terus ke kanan.
"Dia kemana ya?" bisiknya, mikir.
Saat itu, dia denger suara dari salah satu ruangan di sebelah kanannya. "Kayaknya kesini deh."
Dia ngendap-endap, ngintip-ngintip ke ruangan-ruangan. Semua ruangan gak ada pintunya. Setelah beberapa kali coba, dia sampe di ruangan tempat Nichole berada. Dia langsung jongkok, ngintip ke dalam ruangan.
Gak tau kalo Nichole udah liat dia.
Dia cekikikan, "Yang aku tunggu-tunggu."
Hati Lionel langsung deg-degan, ngebut banget. Banyak pikiran yang muncul di kepalanya.
"Apa dia tau aku di sini?"
Dia masih mikir, pas Nichole senyum licik.
"Tentu aja Lionel, aku tau kamu ngikutin aku," jawabnya seolah-olah dia denger pikirannya. "Kenapa kamu gak keluar aja?"
Pas dia selesai ngomong, Lionel keluar dari tempat persembunyiannya. Dia berdiri di depan pintu, natap Nichole dengan marah pas dia nyengir.
"Sela...mat datang di Lio..." dia nyengir.
Lionel natap dia sambil masuk ke ruangan. Dia jalan ke arahnya, natap dia tatap muka. Senyumnya tiba-tiba ilang dari wajahnya.
"Kamu bawa mereka kemana, Nichole?"
Nichole natap dia beberapa detik dan ketawa kecil. "Gak cepet-cepet, Lio..., kamu..."
Dia mau ngomong sesuatu pas Lionel pegang lehernya, mencekiknya. "Aku bilang, kamu simpen mereka di mana, kamu pembunuh!"
"Lio..., (batuk, mukul tangannya) kamu..(batuk, masih berjuang)"
Saat itu, Nichole liat Zed ngendap-ngendap dari belakang Lionel. Dia ngeliat ke arahnya dengan tatapan yang bilang cepetan dan selamatin aku.
Dia kasih isyarat ke dia buat ngejauhin Lionel. Lionel nyadar dan noleh buat liat siapa yang dia ajak ngomong. Tapi yang dia rasain cuma pukulan keras dan dia pingsan.
Nichole langsung nghela napas, ngos-ngosan sambil megangin lehernya. "Kenapa lama banget sih, Zed..?"
"Maaf, Nyonya.."
"Minta maaf sama diri sendiri. Kamu gak guna, dia hampir bunuh aku tau gak." Dia ngeliat tubuh Lionel yang gak sadar di lantai dan tiba-tiba senyum, nenangin diri.
"Tapi liat dia sekarang." dia nyengir, "Kasihan banget." dia ngeliat ke Zed. "Bawa dia pergi."
*************
Dickson pulang dan rumahnya gelap gulita. Dia berhenti di depan rumah, ngeliat sekeliling dengan curiga.
"Ada apa sih? Kenapa rumahnya gelap?"
Dia keluar dari mobilnya dan masuk ke rumah. Dia buka pintu pelan-pelan, ngeliat sekeliling. Terus dia ngambil saklar yang nempel di sisi kanan tembok, nyalainnya.
"Semuanya kemana?" Dia mikir sambil masuk ke aula. Dia mau naik tangga pas liat secarik kertas di meja, ada flashdisknya juga.
"Apaan nih?" Dia ngambilnya.
Dia perhatiin flashdisknya sebentar dan buka suratnya.
SURAT
Ayah, aku tau kamu gak percaya pas aku bilang Bibi Nichole yang bertanggung jawab atas kematian ibu, jadi aku harus lakuin ini. Flashdisk ini rekaman tentang Nichole dan aktivitasnya. Sekarang, Riley dan teman-temannya dalam bahaya.
SELESAI
Dickson kaget banget sama yang dia baca. Dia jatohin suratnya di meja, ngambil flashdisknya, dan langsung lari ke atas.
Dia langsung ke laci di samping tempat tidurnya dan ngambil laptopnya. Dia duduk di tempat tidur, naruh laptopnya di pangkuannya.
Dia masukin flashdisknya dan ada indikasi kalo flashdisknya bisa dipake. Dia klik dan muncul beberapa file, salah satunya video.
Dia klik dan videonya mulai muter. Dia perhatiin dengan seksama di layar, semuanya kebongkar di depan matanya. Dia kaget dan terpana. Dia nutup laptopnya dan ngelemparnya.
"Gimana bisa dia lakuin ini ke aku dan temennya? Tasha nganggep kamu saudara, Nichole..." Dia nangkup wajahnya dengan tangan, air mata netes di pipinya. Dia diem di posisi itu sebentar dan tiba-tiba bangun.
"Lio....."
Dia ngambil kunci mobilnya dan lari keluar rumah.