Bab 47
SERANGAN TERAKHIR
Dickson tetap bersama Tasha sampai jam 9 malam. Dia perlahan membuka matanya dan melihatnya masih di sampingnya dengan kepala di ranjang.
"Dickson...?" gumamnya sambil meraih tangannya, mengetuknya dengan lembut.
"Oh, kamu sudah bangun," gumamnya sambil menggenggam tangannya.
"Ya..." jawabnya pelan.
"Kamu lapar? Atau mau aku ambilkan sesuatu?" tanyanya.
"Enggak, Dickson, jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik aja. Gimana kabar bayi kita?"
"Emm... dia di sini, baik-baik aja," gumamnya sambil perlahan berjalan ke boks bayi.
"Persis kayak mamanya," tambahnya sambil tersenyum saat dia dengan cepat melihat bayi itu dan kembali ke istrinya.
"Dan bagaimana denganmu, sayang?"
"Um... Aku masih di sini, di samping istriku yang manis dan cantik," ucapnya, bergerak ke ranjang istrinya.
"Enggak, Dickson, maksudku...., apa yang sudah kamu makan?"
"Jangan khawatirkan aku, sayang, aku..."
"Enggak, Dickson," kata Tasha, memotong.
"Kamu harus pergi ambil sesuatu dan makan. Apalagi, aku dan bayinya baik-baik aja. Um...?"
"Tapi..."
"Uh..Uh.." gumamnya, menggelengkan kepalanya.
"Gak ada tapi......, kamu juga harus jaga diri, sayang," tambahnya.
"O..oke..." ucapnya pasrah.
"Kalau gitu..., aku balik lagi nanti. Kamu yakin bakal baik-baik aja...?"
"Iya sayang," gumamnya, mengangguk.
"Yakin...?"
"Hei... Dickson, udah pergi aja," gumamnya sambil tersenyum.
"Aku bakal baik-baik aja. Udah pergi aja," tambahnya.
"Oke, oke, aku pergi," gumamnya sambil mencium pipi istrinya.
"Hmm..." dia mengangguk sambil tersenyum saat dia melihatnya berjalan ke pintu.
Dia perlahan membuka pintu setengah dan dengan cepat memalingkan pandangannya ke istrinya.
"Pergi....." bisiknya, memberi isyarat padanya.
"Berhenti bereaksi berlebihan...." tambahnya.
"Oke...." gumamnya sambil bergegas keluar, perlahan menutup pintu.
Tasha melihat saat dia menutup pintu dan terkekeh, perlahan menggelengkan kepalanya.
Nichole sedang duduk di taksi di luar rumah sakit dengan matanya tertuju pada pintu masuk, dengan penuh harap.
"Ya ampun...., udah berjam-jam. Kapan sih laknat itu keluar? Apa dia bakal nemenin dia seharian?" gumamnya dengan cemas.
Dia masih melihat ke pintu masuk ketika tiba-tiba, dia melihat sosok yang dikenalnya berjalan keluar dari rumah sakit.
"Dia akhirnya keluar," bisiknya, meraih teleponnya.
"Ini kesempatan kita," tambahnya sambil memutar nomor Zed. Dia menunggu dengan cemas saat sambungan tersambung. Dengan nada kedua, dia menjawab.
"Dia udah keluar, ini kesempatan kita sekarang. Selesaiin cepet. Gak ada kesalahan," katanya.
"Oke.." jawabnya dan menutup telepon.
"Kasihan kamu, Tasha. Dickson milikku sekarang," gumamnya sambil menyeringai.
************
Sekitar jam 11 malam sekarang dan Dickson belum juga kembali. Tasha duduk di tempat tidurnya dengan buku di tangan membaca sambil melirik ke pintu dengan penuh harap.
"Kenapa dia belum balik juga?" tanyanya dengan cemas.
Dia kembali membaca bukunya ketika tiba-tiba dia melihat bayangan melewati pintunya. Dia tersentak, kaget.
"Siapa di sana?" tanyanya.
"Dickson..., apa itu kamu?" tanyanya sambil perlahan turun dari tempat tidur.
Dia perlahan bergerak ke pintu dengan ketakutan dan dengan lembut membukanya setengah, meregangkan lehernya untuk mengintip. Dia melihat seluruh koridor tapi tidak melihat siapa pun di sekitar.
"Kupikir aku melihat seseorang di sekitar," gumamnya, bingung sambil perlahan menutup pintu.
Dia berjalan kembali ke tempat tidurnya masih bingung.
"Apa aku ngeliat yang aneh-aneh atau cuma imajinasiku aja," gumamnya sambil duduk kembali di tempat tidurnya.
Dia masih merenung ketika dia melihat bayangan di pintu lagi. Matanya terbuka lebar saat dia memperhatikan kenop pintu perlahan berputar.
"Siapa di sana...?" tanyanya tapi sunyi senyap.
Jantungnya berdebar lebih cepat saat dia menatap pintu, ngeri, menunggu dengan cemas siapa pun itu.
"Siapa ya kira-kira?" gumamnya sambil menunggu dengan tidak sabar.
"Apa yang harus aku lakuin?" tambahnya tegang.