Bab 56
UMPANNYA
Kate sedikit duduk tegak dengan bantuan teman-temannya.
"Aku baik-baik saja." dia meringis, melihat ke jalanan.
Riley menatap tajam ke arah Kate dengan khawatir saat mereka membantunya berdiri.
"Siapa mereka?" tanya Loretta tapi Riley langsung menyela, memegang tangan kanan Kate "Kamu berdarah," gumamnya, khawatir.
Kate dengan cepat melirik tangannya dan mengangkat bahu, "Tidak serius kok. Itu karena jatuh."
"Aku pikir kita perlu membawamu ke UKS untuk mencegah infeksi."
"Jangan khawatir Riley, aku baik-baik saja. Cuma jatuh."
Riley buru-buru menyela, matanya dipenuhi kekhawatiran. "Aku rasa tidak Kate, aku tetap bersikeras kita ke UKS."
Kate dengan cepat melirik lukanya dan kembali ke Riley sebentar. Melihat ekspresi di wajahnya, dia menyerah. "Oke, oke, ayo pergi sebelum kelas dimulai."
"Ya, ayo," tambah Riley, memimpin jalan bersama Kate, diikuti oleh Loretta dan Nancy.
"Aku rasa kita perlu mempercepat penyelidikan dan rencana kita. Nichole semakin dekat dengan kita," kata Loretta saat mereka mengitari koridor menuju UKS.
Setelah beberapa menit, luka Kate dirawat dan mereka semua kembali ke kelas mereka.
Tidak lama setelah mereka duduk di kursi masing-masing, Mr. Dan, guru Sastra mereka masuk.
"Mari kita mulai dengan tesis kita," gumamnya, berjalan ke papan tulis.
Semua perhatian kelas tertuju padanya, semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian dan Riley tidak terkecuali. Dia sangat larut dalam pelajaran yang sedang berlangsung ketika dia merasakan ponselnya bergetar di tasnya. Dia perlahan menarik tasnya mendekat untuk mencegah dosen memperhatikannya dan meraih ponselnya. Dia sedikit menundukkan kepalanya, mengintip sebentar ke layar ponselnya, dan melihat sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
"Siapa ya?" gumamnya, dengan Loretta sedikit berbalik untuk meliriknya saat dia mengklik ikon pesan. Dia membuka pesan itu dan matanya terbelalak, terkejut dengan apa yang dia lihat. Pesan dengan gambar terlampir.
Pesan:
Datang dan temui aku jika kamu ingin melihat ibumu dan pacarmu hidup.
Lokasi: Jalan Nation 124.
Dia membaca pesan itu, gemetar saat dia menggulir ke bawah ke gambar.
"Ya Tuhan," gumamnya, bangkit dari kursinya seketika saat dia membanting tangannya di mejanya. Loretta dengan cepat menatapnya terkejut, dengan seluruh perhatian kelas tertuju padanya.
Kate dan Nancy saling melirik dengan bingung lalu kembali ke Riley.
"Ada apa Riley?" tanya Loretta.
Dia menatap Loretta tetapi perhatiannya segera tertarik ke papan tulis oleh suara guru mereka.
"Ada apa Miss Riley?" tanya Mr. Dan, menatap tajam ke arahnya.
Dia menatap kosong ke arahnya lalu kembali ke Loretta.
"Ini gak mungkin terjadi," gumamnya, mengambil tasnya. "Aku harus pergi" tambahnya dengan suara serak dan segera pergi.
"Riley...!" teriak Loretta.
"Hei, Riley!" teriak Kate, bangkit dari kursinya. "Apa yang gak mungkin terjadi?" gumamnya, bergegas mengikuti Riley, diikuti oleh Nancy dan Loretta. Seluruh kelas melihat, bingung.
Kate, Loretta, dan Nancy menyusul Riley di tengah koridor. Nancy memegang tangannya, menariknya untuk berhenti.
"Mau kemana, Riley? Apa yang terjadi?."
Riley menghela nafas sedih, mengangkat ponsel ke teman-temannya. Loretta buru-buru mengambilnya saat melihat gambar itu. Kate dan Nancy juga mendekat untuk melihat. Mereka saling memandang setelah membaca pesan itu dan melirik kembali ke Riley, menyerahkan ponsel itu kembali padanya, terkejut.
"Aku harus pergi, girls," katanya, berbalik untuk pergi tetapi Kate menariknya kembali lagi.
"Seberapa benarkah ini? Apa kamu sudah menelepon Lionel atau ibumu? Bagaimana kalau itu salah satu tipuannya?"
"Aku rasa tidak Kate... Lihat gambarnya, apa terlihat palsu?"
"Gak Riley tapi aku tetap pikir kamu harus telepon mereka dulu sebelum pergi biar yakin."
Riley menatap Kate dengan berpikir sejenak, mengarahkan pandangannya ke Nancy dan Loretta juga. Mereka berdua mengangguk mendukung permintaan Kate.
"Oke, oke..." gumamnya menyerah, memindai ponselnya untuk nomor ibunya. Akhirnya dia menemukannya, menelepon. Dia menunggu dengan tidak sabar saat terhubung sebentar.
"Halo." dia buru-buru bergumam pada suara nada tetapi menyadari bahwa itu berasal dari server jaringan. Dia menelepon lagi tetapi tidak ada jawaban. Dia mencoba nomor Lionel dan keadaannya sama.
"Aku gak dapat apa-apa dari ini," gumamnya khawatir. "Aku harus lari sekarang, waktu gak berpihak pada kita. Sampai jumpa, girls, nanti."
"Tungg...u" gumam Loretta tapi dia sudah pergi.
"Kita harus melakukan sesuatu tentang ini Kate. Aku merasa ada sesuatu yang gak beres dengannya," kata Loretta, khawatir.
"Aku tahu kan." gumamnya, berhenti berpikir sejenak. "Gimana kalau kita ke rumahnya buat ngecek atau lebih baik, telepon Paman Lian."
"Aku pikir kita harus pergi dan memeriksa sendiri. Kita masih bisa menelepon Paman Lian dalam perjalanan. Dia akan tahu apa yang harus dilakukan jika itu jebakan," jawab Nancy.
"Oke, oke, ayo pergi," kata Kate, memimpin, diikuti oleh Loretta dan Nancy.
*************
Nichole ada di ruang tamu ketika dia melihat Dickson turun ke dapur. Saat itu, dia mendengar ponselnya berdering. dia buru-buru menjawab tanpa memeriksa penelepon.
"Halo." suara Zed terdengar melalui telepon.
Dia tersentak kaget setelah menyadari suaranya.
"Tunggu sebentar," gumamnya saat dia melirik ke pintu masuk dapur.
Nichole diam-diam keluar dari rumah ke teras, memata-matai untuk memastikan dia belum diperhatikan oleh Dickson. Ketika dia yakin bahwa dia jauh dari jangkauan pendengaran, dia menarik kembali telepon ke telinganya.
"Gimana kabarnya Zed?" tanyanya.
"Kamu akan menerima kabar baik dalam waktu singkat."
"Bagus Zed, terus kabari aku ya," katanya sambil menyeringai.
"Tentu," gumamnya, menutup telepon.
Nichole tersenyum puas, dengan bercanda memukul telapak tangannya dengan telepon.
"Kamu gak bisa mengalahkanku, Riley. Aku ratu dari permainan ini," gumamnya dengan sombong. "Aku selalu mendapatkan apa yang aku mau, bocah nakal." (menyeringai).