Bab 65
KEHILANGAN SEMUANYA
Lian nyetir mobilnya, berusaha keras banget buat nyambungin Riley sama yang lain lewat telepon, tapi gak berhasil. Dia ngelempar ponselnya ke jok dan ngebut. Setelah nyetir sekitar 20 menit, dia nyampe di kantor FBI.
Dia parkir mobilnya, keluar, dan langsung lari ke kantor. Di jalan, dia ketemu salah satu petugas, dan petugas itu nunjukin dia ke detektif yang bertanggung jawab atas penyelidikan kriminal.
"Makasih," gumamnya, terus lari ke meja detektif. "Selamat malam, Detektif. Saya Lian, dan saya di sini mau lapor kasus." Dia meludah sambil duduk di depan detektif yang lagi sibuk ngerjain beberapa dokumen.
"Selamat malam, Lian," detektif ngeletakkin pulpennya di meja, ngangkat kepalanya buat ngadepin orang yang duduk di depannya. "Saya Detektif Robert. Ada yang bisa saya bantu?" Dia ngegenggam tangannya di meja.
"Saya di sini mau lapor kasus," kata Lian sambil ngambil ponsel dari sakunya. Dia nyari video yang dikirim ke dia, ngeklik buat muter, dan pelan-pelan nyodorinnya ke detektif.
Detektif Robert ngelirik dia, terus ke ponsel, dan ngambilnya. Dia merhatiin banget pas semua kejadian kebuka di depan matanya.
"Tolong bantu saya buat nyelametin keluarga saya," kata Lian buru-buru, pas detektif ngangkat kepalanya dari ponsel.
"Kamu tau lokasi mereka?"
"Gak yakin sih, tapi kayaknya saya denger keponakan saya bilang sesuatu tentang jalan laktosa."
"Oke..." Dia ngambil pulpennya, nyatet sesuatu. "Gimana dengan keponakanmu? Terakhir kali kamu denger dari dia kapan, dan apa kamu udah coba nelpon dia lagi?"
"Saya nerima telepon dari dia sekitar satu setengah jam yang lalu, dan dia ngirim video ini. Tapi saya udah coba nelpon dia dari tadi, tapi gak bisa nyambung."
"Baiklah, mari kita lakukan ini. Saya akan coba lacak lokasinya dari monitor, dan juga ngecek rekaman CCTV di jalan tol dan jalan-jalan yang menuju jalan laktosa. Coba kita liat apa kita bisa dapet sesuatu dari sana."
"Oke." Dia ngangguk.
Detektif Robert duduk tenang beberapa saat, menganalisis informasi di depannya.
"Boleh saya minta video dari ponselmu buat bukti?"
"Boleh..." Lian ngangguk.
Detektif Robert ngangguk dan ngelirik bahu Lian. "Martin," dia manggil detektif yang lagi duduk di mejanya, beberapa jarak dari mereka. "Sini."
Martin berhenti dari apa yang dia lakukan dan jalan ke meja Detektif Robert.
Robert ngambil ponsel Lian dari mejanya dan nyerahinnya ke Martin.
"Ambil ini, ada video di dalamnya. Pindahin ke sistem kita."
"Siap, Pak..."
"Dan kumpulin tim."
Martin ngangguk dan jalan ke mejanya. Saat itu juga, Dickson juga masuk ke kantor, langsung jalan ke meja Detektif Robert.
"Saya mau Nichole ditangkap," dia ngomong dengan ketus.
Lian dan Detektif saling pandang ke arahnya.
"Nichole? Kamu kenal dia?" tanya Lian.
Detektif Robert ngelirik Lian, terus ke Dickson.
"Silakan duduk, Pak," katanya ke Dickson.
Dickson buru-buru narik kursi dan duduk.
"Gimana kamu bisa kenal Nichole?" tanya Robert.
"Dia istri saya. Saya kira saya kenal dia, tapi ternyata enggak. Dia bunuh almarhum istri saya beberapa tahun lalu, dan sekarang dia udah ngambil anak saya."
Lian ngelirik dia, kaget banget sama beritanya.
"Kamu Ayah Lionel...?"
Dickson ngelirik dia ragu-ragu dan ngangguk.
"Kamu kenal anak saya...?"
"Iya, saya Paman Riley."
Robert natap mereka dan menghela napas, "Kayaknya kita harus mulai pencarian kita."
"Oke," mereka nyahut serentak.
Robert ngelirik Martin yang lagi sibuk di komputernya.
"Udah siap?"
"Iya, Pak..." jawabnya tanpa ngangkat muka.
Robert balik lagi ngelirik Dickson dan Lian.
"Ayo," dia memberi isyarat.
Dia ngumpulin semua anak buahnya dan nyuruh Lian buat nelpon Riley biar mereka bisa lacak lokasinya. Lian ngelakuin apa yang disuruh, tapi mereka gak bisa nyambung karena ponselnya mati. Lian menghela napas, frustasi sama keadaannya.
"Coba kita telpon Lionel juga?" Robert ngelirik Dickson. Dia ngangguk dan setuju.
Setelah beberapa lama mencoba tanpa hasil, dia panik.
"Kita gak bisa apa-apa kalau gini. Kenapa gak kamu kirim anak buahmu ke jalanan aja?" kata Lian, frustasi. Dia ngacak-ngacak rambutnya, "Nichole itu berbahaya, tau..."
Baru saat itu Dickson sadar kalau Nichole bawa ponselnya.
"Saya coba telpon Nichole. Saya inget dia bawa ponselnya."
Robert dan yang lain ngelirik dia dan ngangguk. Butuh beberapa detik buat dia nyari nomor Nichole. Dia nelpon, dan *voila*, nyambung.
"Saya nemuin mereka," teriak Martin yang ada di belakang komputer. Mereka semua nyamperin dia.
Robert ngelirik layar beberapa saat dan ngangguk.
"Ayo," dia teriak, memberi isyarat ke beberapa anak buahnya.
"Kita ikut," kata Lian dan lari keluar nyusul anak buah Robert, diikuti Dickson.
Robert ngomong sama Martin beberapa detik sebelum nyusul Lian dan yang lain di luar.
Pas mereka yakin semuanya udah siap, mereka ngebut.
************
Riley duduk, natap cemas ke luar jendela di kursi belakang, mainin ponselnya, pas sopir taksi belok ke jalan laktosa.
"Udah nyampe belum?"
Sopir taksi ngelirik dia lewat kaca spion, "Hampir, Nona..."
"Oke..." dia ngangguk. "Kenapa gak nyambung ya telponnya Lionel? Semoga dia baik-baik aja."
Setelah beberapa menit, mobil berhenti di lokasi yang dituju.
"Kita udah nyampe, Nona..."
Riley ngelirik sekelilingnya dan keluar dari mobil.
"Makasih," katanya ke sopir taksi dan dia langsung pergi.
Lingkungannya sepi, gak ada suara sama sekali. Dia panik, tapi harus nyelametin temen-temennya dan Ibu Riley.
"Kamu bisa, Riley..." dia menghela napas dan jalan ke arah gedung. Dia masuk ke koridor, tapi gak liat siapa pun. Dia celingukan dan pelan-pelan lanjut jalan. Setelah beberapa langkah, dia nyampe di salah satu kamar dan kaget banget sama pemandangan di depan matanya.
"Mum..." dia teriak dan lari ke dalam kamar.
Dia berlutut di depan Ibu Riley yang gak sadar, nutupin mukanya dengan air mata yang ngalir di pipinya. "Apa yang dia lakuin ke kamu, Mum..." dia merhatiin seluruh tubuh ibunya. "Aku akan keluarin kamu dari sini, oke..."
Saat itu, sebuah suara menyela.
"Lihat siapa yang datang."
Riley kaget, berbalik ke arah suara itu, dan cuma liat Nichole di pintu dengan seringai di wajahnya.
Dia natap Nichole dengan marah, ngapus air mata dengan telapak tangannya. "Apa yang kamu lakuin ke Ibu Riley?"
Nichole cekikikan, "Kamu kemana aja, Riley?"
Riley ngerasa jengkel banget sama pertanyaan ini, "Apaan sih yang kamu lakuin ke Ibu Riley, Nichole? Dan di mana temen-temenku? Dan Lionel?"
Nichole senyum ke dia, "Ya...," dia ngegenggam tangannya dan jalan ke dalam kamar. "Harusnya saya jawab pertanyaan itu?" Dia merhatiin Riley dengan berpikir beberapa detik dan senyum, "Kayaknya enggak."
"Kenapa kamu ngelakuin ini, Nichole? Kenapa kamu ngelakuin ini ke keluarga saya?"
Nichole memutar matanya, "Pertanyaan macam apa itu? Kamu tau sesuatu, Riley? Kamu sama bodohnya kayak Ibu Riley. Harusnya kamu liat wajahnya pas dia mohon-mohon minta nyawanya beberapa tahun lalu. Hampir aja saya dapet apa yang saya mau, tapi kamu jadi penghalang saya." dia cekikikan, "Zed....!" dia teriak.
Zed langsung masuk.
"Tangkap dia!" dia memberi isyarat ke dia.
Riley nyoba kabur, tapi Zed berhasil nangkep dia. "Gak semudah itu." Dia ngelempar Riley dan Riley jatuh ke lantai.
"Aduh..." dia nangis.
Lionel dengan mengantuk membuka matanya dan mendapati dirinya terikat di kursi dengan dua orang berdiri di depannya. Saat itu juga, dia denger suara Riley.
"Riley....." Dia nyoba buat bebas, tapi sama sekali gak ada gunanya.
Dia natap sinis orang-orang di depannya.
"Lepasin saya," dia menggeser kursinya.
Mereka tertawa kecil ke arahnya dan keluar dari kamar.
Setelah mereka pergi, Lionel celingukan nyari sesuatu buat ngelepas dirinya, tapi gak nemu apa-apa. Saat itu juga, dia inget kalau kunci motornya punya pisau kecil. Dia berusaha beberapa menit buat ngambilnya dari sakunya dan akhirnya berhasil. Dia ngambilnya dan nyoba ngelepas dirinya.
Riley ngeliat Zed dan Nichole yang berdiri natap dia.
"Kamu jahat, Nichole, dan saya janji kamu gak akan lolos dari ini. Saya akan bikin kamu bayar."
Nichole jalan ke arahnya dan berlutut, megang rambutnya Riley, "Gimana caranya...? Kamu anak nakal..." dia nampar dia keras di wajahnya.
Riley megang pipinya, gemeteran karena marah sambil natapnya, ngecengin giginya. Selama itu, Rosita Hollands masih gak sadar. Nichole ngecengin rahang Riley dengan tangannya. "Kamu sama menyedihkannya kayak Ibu kamu." dia ngelempar Riley dan berdiri. "Kasih saya pistolnya."
Zed nurut dan ngasih pistolnya ke dia. Dia senyum, ngelirik Riley. Terus nembakin pistol ke Rosita Hollands.
Riley natap dengan mata terbelalak, "Jangan, jangan, jangan." dia merangkak ke arah Ibu Riley dan berdiri di depannya. Nichole natap dia dan menyeringai "Nembak dua burung dengan satu batu, ya? Kamu menyedihkan banget, Riley, liat gimana saya ngurusin anak nakal kayak kamu."
Riley nutup matanya nunggu kena peluru pas Nichole narik pelatuknya. Suara tembakan bergema di telinganya, tapi dia gak ngerasa apa-apa. Dia buka matanya, kaget ngeliat Lionel terbaring di depannya dengan peluru di bahu kanannya.
"Lionel..." dia teriak dan berlutut di dekatnya.
Saat itu juga, suara sirene mobil polisi kedengeran. Zed celingukan, terus balik ke Nichole.
"Kita harus kabur sekarang, polisi ada di sini."
Nichole ngelirik Riley yang lagi berlutut, nyusahin Lionel dengan air mata di matanya. "Gak sekarang, Zed, saya harus nyelesain ini."
Zed celingukan dengan gugup dan menghela napas. "Gak sekarang, Nona..., kita gak punya cukup waktu buat ini. Kita harus pergi sekarang.." Dia megang tangannya dan narik dia keluar dari kamar.
Riley ngelirik Lionel dan berteriak di tengah tangisnya, "Tolong, tolong saya... Tolong saya.." dia ngegeser Lionel. "Kenapa kamu lakuin itu?"
Lionel memberi senyuman lemah dan pelan-pelan ngangkat tangannya buat nutupin wajahnya. "Saya...senang.., kamu baik-baik aja..." dia bergumam pelan sambil senyum dan gak sadar diri.
Hati Riley hancur dan menangis minta tolong.
Mobil polisi berhenti di depan gedung, diikuti mobil Lian. Para petugas lari keluar dari mobil dan ngepungin gedung. Lian juga keluar dari mobilnya dan lari ke dalam gedung, diikuti Dickson, Detektif Robert, dan satu petugas. Pas mereka masuk, mereka liat dua orang terbaring gak sadar di lantai. Robert ngeliat petugas yang ngikutin mereka dan memberi isyarat ke beberapa petugas buat datengin mereka. Saat itu juga, mereka liat Zed dan Nichole keluar dari salah satu kamar.
"Tangkap mereka.." teriak Robert.
Dua anak buah Robert ngejar mereka, sementara yang lain nyari temen-temen Riley, Rosita Hollands, Lionel, dan Riley.