24 Jejak Kaki di Debu
Matahari udah mau tenggelam. Tiga kuda lagi jalan pelan di jalanan berdebu.
Di sebelah kiri ada kuda jantan **Damon**, Friar, kuda fjord cokelat kemerahan, salah satu ras ramah dari padang rumput yang dia beli dari Cuppa.
**Felicity**, di tengah, bawa kuda yang dia besarin di peternakannya, kuda buckskin krem yang keren banget. Dia namain Silver, karena bulunya yang mengkilap. Silver punya mata abu-abu waktu masih bayi, tapi sekarang udah jadi amber.
Para cowok udah dengerin dia ngomongin kudanya dengan sabar. Topik ini emang gak terlalu seru buat mereka. Tapi mereka suka denger suara **Felicity**. Kayak ada haus yang gak mereka sadari sampe mereka ketemu dia.
Masalahnya, mereka harus nemuin **Tarsus**, kuda yang pas. Badannya gede banget, lebih dari enam kaki dan beratnya lebih dari dua ratus lima puluh pon. Setelah nyari-nyari, kenalan **Empousa** udah nyariin kuda criollos buat dia. Hewan itu tinggi banget, hampir enam kaki tingginya. Tapi **Tarsus** naik dan turun dari kuda itu dengan gampang.
**Auditor** dari suburra selatan udah bilang kalau mereka harus keliling dua puluh kota Pago, ikut petualangan, dan ngumpulin bukti. Itu yang bakal nentuin mereka bisa ikut Labors. Nanti pas mereka sampe pos pemeriksaan di kaki Gunung Radomir, para pemberi pengumuman bakal ngitung nilai dari petualangan mereka.
Jalan ke utara, yang emang bener namanya gitu, langsung ngelewatin Pago, menuju Modo, dan dari Modo langsung ke Gunung Radomir. Tapi, buat ngelewatin dua puluh kota Pago, rombongan milih jalan lingkar, yang ngelilingin kota. Modo, Pago, dan Fugi itu kayak negara kota setengah lingkaran di sekitar Gunung Radomir. Jalan lingkar itu buat memudahkan para pelancong.
**Damon** jago naik kuda. Dulu dia sering keliling kota buat misi.
**Zoe** lagi boncengan sama dia. Awalnya sih agak ribet, soalnya dia suka narik tali kekang. **Tarsus** ngeledekin **Damon** karena boncengan sama cewek. **Zoe** kadang ngantuk dan hampir jatuh dari kuda. **Damon** biarin dia pegang tali kekang kadang-kadang dan bikin pijakan kaki yang tinggi biar dia gak merosot.
"Jangan banyak gerak, deh," kata dia. "Kudanya jadi bingung. Dan kita gak mau kehilangan kendali atau bikin Friar gak fokus. Perjalanan kita masih jauh sama dia."
**Damon** gak bawa senjata, tapi dia udah beliin belati buat **Zoe**. Orang-orang mikir dia bisa aja bikin senjata buat dia pake kemampuannya. Tapi **Damon** bilang kalau barang-barang sihirnya cuma buat dia sendiri.
**Tarsus** agak susah belajar naik kuda. Kudanya, namanya Rudy, sombong dan susah diatur. Butuh waktu berjam-jam buat dia jinakin tuh kuda.
**Damon** merhatiin rambut **Tarsus** cepet banget panjangnya. Kemarin masih pendek, sekarang udah sebahu dan berkibar-kibar.
"Ada hubungannya sama kekuatan regenerasi gue," jelas **Tarsus**. "Gue potong rambut tiap hari. Mungkin tubuh gue nganggep potong rambut itu cedera dan nyembuhinnya. Karena gue gak bisa potong rambut beberapa hari ini, jadi panjang deh."
Kota pertama yang mereka kunjungi adalah Petelia, lebih dari seratus mil jauhnya. Butuh tiga hari buat sampe sana, dan mereka lagi di hari pertama perjalanan. Mereka berangkat hari Senin pagi. Rencananya, mereka bakal berhenti malam ini dan bikin kemah, terus lanjut besoknya. Hari kedua, mereka bakal mampir di penginapan namanya Penginapan Air Cucian.
**Felicity** naik di tengah, dan kedua cowok itu curi-curi pandang ke dia dari waktu ke waktu. Silver itu kuda betina yang masih muda dan lincah. Dan kedua kuda jantan yang ngapit dia juga semangatnya sama kayak para cowok.
"Heran kenapa namanya gitu. Penginapan Air Cucian," **Felicity** mikir keras.
"Apa aja di luar suburra emang namanya aneh," jelas **Damon**. "Orang-orangnya gak sehalus kita. Kebiasaan mereka primitif. Dan pengetahuan mereka kuno dan percaya takhayul. Tanah-tanahnya juga aneh. Gue udah sering banget ngelewatin jalan ke utara, sampe lupa berapa kali. Tapi rasanya selalu aneh dan gak familiar. Kayak pemandangannya gak banyak berubah karena musim, tapi lebih karena suasana tanahnya."
"Kita harus bikin kemah segera," kata **Tarsus**. "Udah mulai gelap."
Di kejauhan, di sebelah kiri, mereka ngeliat api unggun.
"Kayaknya ada karavan," kata **Damon**. Jalan ke utara.
"Karavan itu apa?" tanya **Felicity**.
"Itu kelompok pedagang atau peziarah yang jalan bareng. Coba kita cari makanan dan minuman di sana."
"Mereka dari mana?" **Felicity** penasaran sambil belok kiri ke arah kerumunan. Jalan tanah sempit yang dikelilingi rumput membawa mereka keluar dari jalan lingkar.
"Karavan keliling kota buat jual beli barang. Kalo mereka peziarah, mereka kunjungan ke kuil **Aion** dan Seraphim. Kalo mereka penghibur, mereka kunjungan ke teater suburra atau, kalo di kota, ke balai kota. Orang-orang karavan gak dari satu tempat aja. Mereka tinggal di satu kota seminggu, terus pindah lagi."
"Kedengarannya seru," kata **Felicity**, sambil metik batang rumput dari samping.
"Tapi mereka gak punya rumah," kata **Tarsus**.
"Mungkin orang-orang yang kamu ajak jalan jadi rumahmu," jawab dia, sambil nyolek **Tarsus** pake bilah rumput.
Gelap udah turun pas mereka bertiga sampe di perkemahan karavan.
Tiga api unggun, yang di tengah paling gede, menerangi area itu.
Sekitar lima puluh orang duduk di sekelilingnya, minum dan ngobrol.
Seorang pria main lute di pojokan.
"Siapa di sana?" tanya seorang pria dari kerumunan.
"Kami petualang, lagi nyari tempat buat nginep. Kami mau bayar buat makanan, minuman, dan teman."
Gak ada jawaban dari pria yang nanya, tapi kerumunan itu ngeliatin seorang wanita tua yang duduk di belakang. Kemungkinan dia adalah Kepala Suku karavan.
Wanita itu minum minumannya dan ngangguk.
"Selamat datang di sini," kata pria itu dengan gembira. Dan kerumunan juga ikut menyambut mereka.
Seorang juru rawat ngambil kuda mereka buat dikasih makan dan minum.
Mereka diantar ke api unggun tengah dan dikasih tikar buat duduk. Kerumunan itu lebih tua dari mereka, kebanyakan usia dua puluhan dan tiga puluhan. Mereka pake baju silinder aneh dengan syal rajut. Orang-orang yang lebih tua duduk di belakang, jauh dari api.
"Lumayan nyaman," kata **Tarsus** ke salah satu orang karavan. "Bisa lupa kalau lagi di tengah hutan."
"Tunggu sampe malem, pas anak-anak muda mabuk. Bakal liar," jawabnya.
Dan hampir kayak ramalan jadi kenyataan, anak-anak muda dari kerumunan itu berdiri dari tempat duduk mereka dan mulai menari. Musiknya jadi lebih keras dengan beberapa instrumen yang dimainkan - lute, tamborin, dan Lyra.
Api menari kuning dan oranye, suara kayu terbakar yang berderak dan meletup tenggelam oleh musik. Beberapa pasangan berpelukan. Beberapa orang mulai nyanyi lagu aneh dan eksotis tentang seorang gadis buta yang jadi dewi dan nemuin cinta sejati. Ledakan neon dan garis emas dari bara api yang melayang meledak ke malam dari waktu ke waktu. Kayak ada palet cat yang dituang ke api, yang nyiramkan sihir ke kanvas hitam.
Kayaknya itu mimpi yang gak ada akhirnya. Di tengah musik, **Felicity** berdiri setelah minum beberapa gelas. Dia berbaur di antara wanita yang menari, mengikuti langkah mereka, masuk ke irama mereka. **Damon** dan **Tarsus** nonton dengan kerumunan, terpesona. Kecantikan itu punya batu ular di tubuhnya, yang mengurangi pesona Muse-nya, tapi bentuk tariannya adalah tontonan surgawi.
Pada akhirnya, sebagian besar orang yang berpesta pergi. Hanya beberapa yang tersisa di sekitar api unggun tengah, yang udah mau abis kayunya.
Kepala Suku karavan, yang semua orang panggil nenek, menceritakan kisah horor kepada anak-anak tentang roh yang disebut cacodemon, yang menyamar sebagai ibu dan menculik anak-anak.
**Damon** dan **Tarsus** pamit buat buang air di pinggiran kemah.
Mereka berdiri berdampingan, menatap kegelapan saat mereka buang air.
"Jadi, lo suka dia?" tanya **Damon**.
"Siapa, **Felicity**? Apa yang gak disukai?" jawab **Tarsus**.
"Tapi lo ninggalin suburra lo buat dia. Dia pasti berarti sesuatu buat lo."
"Lo ninggalin kerjaan pembunuh lo. Itu mungkin bikin masalah."
"Mungkin aja mereka ngirim orang buat ngejar gue."
"Jadi, LO suka dia?"
"Gue ngerasa dia deket sama gue, padahal gue belum pernah ketemu dia sebelumnya."
"Gue juga ngerasa gitu."
"Gue udah selesai. Balik yuk."
"Sama. Tapi gue mau minum lagi."
"Hati-hati, kita harus mulai sebelum fajar besok."
Kedua pria itu kembali ke pesta karavan, dan malam terus berlanjut.