Bab Tiga Belas - Tidak Sabar - Sudut Pandang Damian
Gue mondar-mandir di kamar semenit, biarin rasa tenang yang gue rasain tadi menetap sebelum fokus gue balik ke semua yang ada di depan mata. Pas gue ngelirik meja gue, gue tau gue gak bakal bisa ngerjain apa-apa. Gak kayak gini.
**Maya** gak percaya sama gue. Semuanya makin berat, dan gue gak mau ngerasa sesek banget.
Gue berhenti mondar-mandir dan nunduk ke meja, natap laporan-laporan yang berserakan di atasnya untuk terakhir kalinya. Update patroli, aktivitas **penjahat**, dan bisikan tentang pemburu yang bergerak di perbatasan kita, itu semua yang gue liat.
Semuanya ngelukis gambaran yang suram banget.
**Serigala** di bawah kendali gue lagi tegang, dan gue gak nyalahin mereka. Ada banyak banget yang dipertaruhkan. Kata-kata **Evelyn** balik menghantui gue. Gue harus ngomong sama **Maya** dan mulai ngenalin dia ke dunia ini.
Jujur, pada akhirnya, ramalan itu bukan cuma tentang kita. Ini tentang kita semua dan kelangsungan hidup kita, meskipun gue gak ngerasa dia udah siap buat tau semuanya.
Gue tegak, narik salah satu laporan patroli dari meja. Mata gue menyusuri detailnya, fokus ke omongan tentang aktivitas **penjahat** di deket perbatasan utara. Mereka lagi ngetes kita, muter-muter kayak burung pemakan bangkai, dan gak bakal lama sebelum mereka maju lebih jauh.
Tapi ini bukan cuma tentang **penjahat** atau **pemburu**. Ini tentang **Maya**. Dia adalah kunci dari ramalan itu, dan gue gak bisa biarin dia kurang dari siap pas waktunya tiba.
Gue lipat laporannya dan selipin di bawah lengan sebelum menuju pintu. Langkah kaki gue menggema di lorong yang sepi saat gue berjalan ke kamarnya.
Pas gue sampe di depan pintu, gue ragu. Sebentar, gue berdiri di sana, tangan gue melayang di atas gagangnya. Apa yang bakal gue bilang ke dia? Gimana caranya gue ngejelasin dunia yang dia gak minta buat jadi bagiannya tanpa bikin dia kewalahan?
Gue buang napas, nenangin diri, dan ngetuk pintu. Dia mungkin benci gue karena, sekarang, yang dia liat dari gue cuma **Pria** yang belinya dari **Ayah**-nya. Gue gak lebih baik dari dia. Dalam beberapa hal, gue mungkin lebih buruk, tapi gue benci ngakuin itu.
Pikiran itu muter-muter di dada gue, tapi gue singkirin. Gak ada waktu buat merenunginya. Gak pas ada banyak banget yang dipertaruhkan.
Tapi sebelum gue jalan di lorong ke kamarnya, suara samar di belakang gue menarik perhatian gue.
Geraman pelan.
Gue berbalik dengan tajam, indra gue langsung siaga. Di ujung lorong, ada **Serigala hitam itu** berdiri, siluetnya jelas banget di tengah remangnya cahaya obor yang berbaris di dinding. Bulunya gelap, hampir hitam, dan mata ambernya bersinar dengan sesuatu yang bikin gue kaget.
"Jangan sekarang," gumam gue pelan, tangan gue mengepal jadi tinju di samping gue.
"Apa yang lo lakuin di luar formasi?" tanya gue, suara gue pelan tapi tegas.
**Serigala** itu gak mundur. Dia tetep di tempat, natap gue dengan campuran rasa penasaran dan pembangkangan.
Gue kenal dia sekarang. Itu **Liam**, salah satu **serigala** yang lebih muda—semangat tapi ceroboh dan selalu ngetes batas.
"Ini bukan waktu buat main-main," geram gue, nada gue jadi lebih tajam. "Lo seharusnya lagi patroli, bukan keliling lorong. Kita punya **Manusia itu** di sini sekarang, jadi lo gak bisa kayak gini sampe dia tau."
Bentuk **Liam** berkedip sebentar, dan sebelum gue bisa menghentikannya, dia berubah balik jadi wujud manusianya.
"Maaf, **Alpha**," katanya, meskipun seringai di wajahnya mengkhianati kata-katanya. "Gue penasaran dan pengen liat sendiri kalau lo beneran bawa **Manusia** ke sini. Lo bakal ngenalin dia, kan?"
Gue mengatupkan rahang, nahan dorongan buat membentak dia. "Bukan urusan lo."
**Liam** nyilangin tangan, seringainya sedikit memudar. "Ini urusan semua orang. Kawanan tau dia di sini, **Damian**. Mereka tau apa artinya dia buat ramalan. Apa lo gak mikir mereka pantas tau apa yang lagi terjadi? Ini ngaruh ke kita semua."
Gue melangkah lebih deket, suara gue turun jadi geraman berbahaya. "Yang pantas didapetin kawanan adalah ngikutin perintah gue tanpa pertanyaan. Dan perintah gue jelas. Gak ada yang boleh mendekatinya. Gak ada, kecuali mereka yang gue bilang boleh."
Mata **Liam** melirik ke pintu di belakang gue, rasa penasarannya keliatan jelas. "Dia bakal tau juga akhirnya," katanya, nadanya sekarang lebih pelan. "Lo gak bisa nyembunyiin dia selamanya."
"Gue gak ada niatan buat itu," kata gue dingin. "Tapi dia belum siap. Dan lo juga belum."
**Liam** tersentak sama sengatan di kata-kata gue, tapi dia ngangguk enggan. "Ngerti, **Alpha**."
"Bagus," kata gue. "Sekarang balik ke patroli lo sebelum gue mutusin lo lebih baik ngejagain perbatasan utara sendirian."
Dia ngangguk lagi, berubah balik jadi wujud serigala dengan kilau cahaya lembut. Tanpa suara lain, dia berjalan menyusuri lorong dan menghilang di tikungan.
Gue berbalik ke pintu **Maya**, rahang gue masih kaku.
**Liam** bener tentang satu hal. Dia bakal tau juga secepatnya. Tapi itu bakal sesuai dengan aturan gue, bukan kawanan.
Gue buang napas pelan saat gue balik fokus buat nyampe ke kamarnya. Begitu gue sampe, gue biarin ketegangan dari pertemuan gue sebelumnya memudar saat gue memegang gagang pintu di depan gue. Keraguan gue masih ada, tapi cuma sebentar saat gue memutar kenop pintu dan mendorongnya ke dalam.
Gue masuk, nyadar sepinya ruangan, dan terus gue sadar kalau hari masih gelap. Karena buru-buru mau ngomong sama dia, gue lupa dia mungkin masih tidur.
Mata gue menyesuaikan diri dengan cepat, dan saat itulah gue liat dia.
Dia meringkuk di kursi, tempat **Evelyn** bilang dia ada, yang keliatan sakit dan gak nyaman banget. Gue berjalan ke arahnya, hampir pengen gendong dia buat mindahin dia, tapi wajahnya damai.
Gue gak tau apa gue punya hati buat beneran mindahin dia dan gak sengaja ngebangunin dia.
Sebagai gantinya, gue ngeliat sekeliling ruangan dan liat dia udah bikin dirinya lumayan nyaman. Gue buang napas panjang dan terus mundur dari ruangan. Tidurnya lebih penting dari apapun yang harus gue omongin.