Bab Tujuh Puluh Empat - Waktunya Telah Tiba - Sudut Pandang Maya
Gue menghela napas sambil ngambil sepotong bacon lagi dari piring. **Evelyn** diem aja, tapi gue gak yakin kenapa. Dia cuma ngeliatin gue makan, kebanyakan sih gitu.
Akhirnya, dia menghela napas dan ngeliatin gue dengan tatapan yang gak bisa gue jelasin sama sekali.
"Apaan sih?"
"Gimana perasaan lo setelah kemarin?" Dia nanya, suaranya hampir gak kedengeran.
"Hah?"
"Gimana latihannya?" Kali ini dia nanya agak keras.
"Oh, oke kok," kata gue sambil ketawa. "Cuma pegel doang dan mikirin apa selanjutnya."
Dia ngegeleng sambil ngeliatin gue. Tatapannya turun ke kaki gue yang keliatan, ada beberapa memar dari jatuh dan latihan. Gue gak yakin dia mikirin apa, tapi kayaknya gak bagus.
"Dia bisa aja nyakitin lo," bisiknya.
"Gak kok, lagian ini gak seberapa," kata gue, mata gue tertuju pada memar gede di betis kiri gue. "Setidaknya, gue gak mikir gitu."
Dia meremas tangannya di pangkuannya sambil ngeliat memar yang sama. "Yang lain, yang di luar wilayah, bakal ngelakuin yang lebih buruk ke lo dan gue tau ini, tapi gue gak suka ngeliat lo kesakitan."
"Kenapa? Gue cuma manusia biasa."
Reaksinya gak masuk akal buat gue, mau dilihat dari sudut mana pun. Gue cuma manusia biasa yang diklaim **Damian Blackwood** sebagai miliknya dan diseret ke dalam semua ini. Gak ada satu pun dari anggota kawanan yang suka sama gue, setau gue, kecuali mungkin **Evelyn** dan **Damian Blackwood**. **Simon** bikin gue males dan semakin gue deket sama dia, semakin gue mulai meragukan kesetiaannya.
"Semakin lama lo di sini, semakin dekat perasaan gue ke lo. Gue pengen nganggep lo sebagai anak gue," katanya sambil ngeliat ke perapian. "Gue tau kedengarannya konyol buat wanita tua kayak gue mikir gitu. Tapi gue gak pernah punya anak, jadi gue adopsi siapa aja yang bisa. Gak ada seorang pun yang boleh merasa kesepian."
Gue ngelirik dia, ngeliat dia dari sudut pandang baru. Matanya berkaca-kaca saat dia mengangkat pandangannya untuk menatap gue.
"Oh, **Evelyn**." Gue ngejatuhin bacon yang gue pegang ke piring dan bangun dari kursi buat mendekat. Lengan gue meluk dia dan gue gak bisa meluk dia erat-erat. "Makasih udah ngadopsi gue. Gue udah lama gak punya ibu sampai gue lupa gimana rasanya punya sosok ibu."
Itu udah cukup buat air mata mengalir di pipinya. "Serangan itu bikin gue takut. Gue kira gue bisa kehilangan lo."
Gue ketawa. "Butuh lebih dari itu buat nyingkirin gue."
Dia tiba-tiba mundur, tatapannya penuh makna. "Lo yakin?"
Gue ketawa lebih keras saat air mata menggenang di mata gue. "Ya, gue sangat sadar kalau gue cuma manusia dan bisa mati dengan mudah. Itu satu hal yang udah jadi sangat jelas, tapi gue harap latihan ini setidaknya akan membantu gue menahan sesuatu sampai gue bisa minta bantuan. Itu bukan rencana terbaik, tapi lebih baik daripada gak ada rencana."
Dia ngangguk. "Apapun lebih baik daripada gak ada rencana."
Senyum tipis terukir di bibir gue saat gue meraih untuk menghapus air matanya dengan ibu jari gue. Semuanya akan baik-baik saja. Mungkin gak keliatan begitu kadang-kadang, tapi gue tau semuanya akan berhasil, meskipun gue masih ragu tentang beberapa hal.
Gue masih gak tau banyak tentang dunia yang udah gue masuki ini, gue juga gak tau apakah gue akan selamat. Ramalan yang gak mau diceritain **Damian Blackwood** ke gue membayangiku seperti awan badai gelap. Dan gue masih mikir salah satu wanita dari kawanan itu mungkin bakal ngebunuh gue, pada akhirnya.
Tapi untuk sekarang, ada kedamaian kecil karena tau gue gak sendirian. **Evelyn** peduli sama gue kayak anak, yang mana adalah sesuatu yang gak pernah gue impikan. Setelah gimana **Ayah** memperlakukan gue waktu kecil dan fakta **Adik laki-laki** gue adalah anak emas, gue gak pernah tau ada orang lain yang bener-bener peduli.
"Jangan biarin **Damian Blackwood** terlalu keras ke lo pas latihan. Dia bisa aja ngehancurin tulang lo," katanya, lalu ketawa sambil ngusap air matanya. "Si idiot itu. Kadang-kadang gue pengen nampar dia."
Mulut gue terbuka kaget. "Gue kira cuma gue yang ngerasa gitu."
"Gak. Meskipun lo mungkin mikir karena kita pengubah wujud, kita gak punya emosi manusia atau bertindak seperti manusia, kita punya. Kita lebih dekat daripada yang lo kira."
Kata-katanya membuat gue terkejut. Gue gak pernah nyuarain pikiran itu keras-keras, tapi dia udah tau. Beneran gue gak ngeliat mereka sebagai manusia atau setidaknya sebagai manusia sepenuhnya. Mereka lebih kuat, lebih cepat, dan sangat berbeda.
Sebelum gue bisa jawab, dia meraih, meraih dagu gue dengan jarinya dan memutar gue untuk menghadapnya.
"Dengerin baik-baik, **Maya**. Untuk bertahan hidup, lo harus deket sama **Damian Blackwood**. Gue tau lo skeptis dan gak ngerti, tapi penting banget buat lo ngelakuinnya. **Pria** itu bener-bener bakal ngorbanin nyawanya buat ngelindungin lo," katanya sambil menatap langsung ke jiwa gue. "Semuanya bakal masuk akal seiring waktu."
"Apakah itu yang dimaksud dengan pasangan? Dia udah cerita ke gue tentang hal itu dan gue udah nebak perasaannya ke gue, tapi kayaknya jauh lebih dari sekadar suami istri."
Dia ngangguk. "Itu ikatan jiwa. Gak akan ada perpisahan. Begitu lo jadi miliknya dalam segala hal, maka lo adalah miliknya selamanya. Itu lebih kuat dari sumpah pernikahan yang mungkin lo buat sebagai manusia. Hidupnya adalah milik lo."
Pintu kamar tidur terbuka perlahan, dan **Damian Blackwood** bersandar di kusen pintu, menatap gue. **Evelyn** ngelihat ke bahunya dan ketawa.
"Udah saatnya lo muncul. Gue rasa lo perlu ngobrol, ngobrol yang sangat penting."
Dia berdiri dari kursi, dan gue bersandar, memberinya sedikit ruang untuk pergi. Begitu dia keluar pintu, cuma ada kita di ruangan. Gak ada tempat untuk pergi atau lari.
Dia masuk, nutup pintunya. "Dia bener. Gue rasa udah waktunya ngobrol."
"Lo yakin? Lo gak keliatan pengen," kata gue sambil berdiri dan menjauh dari kursi.
"Gue udah bilang ke kawanan tentang lo sebagai kunci dan sekarang saatnya lo tau."