Bab Seratus Dua Puluh - Epilog - Sudut Pandang Maya
Gue berdiri di dekat garis pepohonan, ngeliatin kedua anak kita main di antara pohon-pohon. Udah tujuh tahun sejak pertempuran terakhir dan kedamaian bikin ini mungkin terjadi.
Hutan berdengung dengan kehidupan lagi dan nggak lagi jadi tempat yang nyeremin, kayak dulu.
Putri kita menggonggong ke adiknya sambil bercanda saat mereka lari-larian muter-muter. Matahari baru aja tenggelam, tapi gue nggak tega buat nyuruh mereka masuk buat malam. Nggak pas lagi damai dan sepi gini.
**Damian** nyelinap di belakang gue, meluk pinggang gue. "Kamu mau masuk?" Dia nanya, bibirnya nempel di telinga gue. "Makin cepet mereka tidur, makin cepet kita bisa punya waktu berdua."
"Maksud lo, makin cepet lo nyoba buat anak ketiga, dasar binatang liar," gue bilang sambil bercanda, nyoba buat ngejauhin dia. "Dua aja udah lebih dari cukup."
"Apa maksudmu? Seru dan gue suka punya itu sama lo," dia bilang, menggonggong ke telinga gue.
Gue ngeliat ke langit saat bintang-bintang muncul. "Liat ke atas."
Dia berhenti ngemil dan ngeliat ke langit. "Bayi apa?"
"Ingat waktu kita duduk di bawah bintang-bintang dulu banget?"
Dia ngangguk. "Iya, sekitar waktu pertempuran terakhir. Kenapa lo mikirin itu?"
"Apa lo pernah mikir apa yang terjadi sama **Lance**? Dia nggak pernah ditemukan."
**Damian** menghela napas. "Udah tujuh tahun, sayang. Dia nggak balik dan kita harus terima dia entah nemu rumah di tempat lain atau meninggal pas pertempuran."
Satu tetes air mata jatuh di pipi gue. Gue bahkan nggak kenal dia baik, tapi tetep aja, gue peduli sama kawanan kita dan semua anggotanya. Gue menghela napas saat noleh ke kiri, bibirnya nyium pipi gue.
"Kita damai," bisik gue.
"Iya. Kutukan udah hilang, dan kita bahagia. Semua orang udah berhenti nyoba buat ngebunuh kita dan ini indah. Kita punya seluruh hidup kita di depan kita."
Putri kita cekikikan. "Mama, dia jahat lagi."
Gue ngeliat, cuma buat ngeliat anak laki-laki kita dengan cakar yang sebagian udah berubah. "Apa yang udah mama bilang tentang nyoba buat nyakar adikmu? Cakar itu buat latihan, bukan buat nyakitin."
"Maaf, ma," dia bilang, bibirnya manyun.
Gue nggak bisa nahan senyum yang merebak di wajah gue. "Main sana. Kunang-kunang bakal keluar sebentar lagi."
"Kita ngebolehin mereka begadang buat nangkap kunang-kunang lagi?"
Senyum jahil muncul di wajahnya dan gue cuma ketawa.
"Iya, kita boleh."
Gue noleh di pelukannya, sekarang ngadepin dia. "Kenapa nggak boleh?"
"Gue nggak bilang kita nggak boleh. Cuma kita ngebolehin mereka lolos dari banyak hal."
Gue meledak ketawa, tau banget dia yang mulai sebagian besar masalah. Putri kita udah bikin dia luluh, dan anak laki-laki kita nggak jauh beda.
Udara jadi hening, tapi bukan dalam keheningan yang aneh karena nunggu musuh atau keheningan tegang karena kawanan menjilati luka. Kita udah sembuh sejak ini.
Putri kita lari duluan, tawanya tumpah ke udara malam. "Papa! Aku liat duluan."
"Nggak," anak laki-laki kita balas, masih ngejar dia.
"Iya dong!" Dia berdebat.
**Damian** cekikikan saat gue noleh buat ngeliat mereka. Dia genggam tangan gue saat kita jalan lewat pohon-pohon di belakang mereka. "Mereka mulai lagi."
Anak-anak lari ke arah tanah lapang yang agak lewat dari salah satu sungai. Ini tempat di mana ayah mereka dan gue suka dateng saat kita main di hutan. Ini tempat rumput yang sepi di mana mereka suka dateng buat main juga.
**Lyra** dan **Kai** lari-larian kayak binatang liar, saling ngejar. Buat anak kembar, mereka kebanyakan cocok dan akur, tapi lahir di bawah bulan darah yang bikin gue khawatir.
Malam itu berat. Kawanan ngumpul di luar rumah kita, berharap gue nggak ngelahirin karena mereka takut apa yang mungkin terjadi. Gue menjerit pas ngelahirin karena ikatan di antara kita narik erat.
Dan jujur, gue mikir gue mungkin mati di satu titik.
**Lyra** punya mata gelap ayahnya. **Kai** punya tawa gue. Tapi keduanya bawa sesuatu yang belum sepenuhnya kita pahami.
Serigala dan sesuatu yang lebih.
"Hati-hati," gue teriak. "Tetap di mana mama bisa liat kamu."
Mereka nurut, tapi cuma sedikit. Gue liat siluet kecil mereka pelan, tapi nggak berhenti. Mereka selalu maju kayak dunia minta buat ditemukan.
**Damian** ngeremas tangan gue.
"Mereka bakal berubah sebentar lagi," bisik dia. "Mereka udah sebagian."
Gue ngangguk, ngebiarin ide mereka jadi serigala menetap.
"Mereka udah lebih dari siap."
"Kamu juga, tau nggak?"
Gue ngeliat ke arahnya, alis gue merajut. "Kamu tetep nyebelin pas baca pikiran gue kayak gitu."
"Nggak baca, cuma tau."
Kita sampe di tepi tanah lapang, di mana batang kayu tumbang jadi bangku kita selama bertahun-tahun.
Kita duduk, bahu ke bahu, kayak udah ribuan kali saat ini.
"Apa kamu pikir mereka bakal kayak kamu?" gue nanya, ngeliatin **Lyra** naruh bunga di belakang telinga **Kai** sementara dia cemberut ke arahnya, tapi ngebiarin.
"Keras kepala?"
Gue ketawa, nyikut dia bercanda di samping. "Nggak, bagian lainnya tentang anak kembar alpha."
"Nggak," dia bilang tegas. "Kutukan udah hilang dan mereka bisa mulai lagi. Mereka bisa jadi apa aja yang mereka mau dan kita bakal sayang mereka, apa pun itu."
Kita larut dalam keheningan yang nyaman, jenis yang dateng saat lo nggak harus lagi ngisi udara dengan kata-kata buat ngerasa deket satu sama lain.
Hidup penuh. Nggak sempurna. Tapi nyata banget.
"Mama!" **Lyra** teriak, narik adiknya. "Kunang-kunangnya udah dateng."
Gue ngangguk saat mereka mulai nangkap mereka dan kemudian ngeliat ke **Damian**. Dia cuma senyum ke gue.
"Gue seneng banget kamu balik," bisik dia.
Mata gue penuh air mata. "Gue bilang kan gue nggak bisa ninggalin kamu."
Beberapa kunang-kunang melayang di dekat kita sekarang, berkedip malas di senja yang lembut. Satu mendarat di lutut **Damian**, terus pergi lagi, seolah dia tau kita bukan ancaman.
"Damai banget."
"Kita pantas dapetin ini," dia jawab, tetep bicara pelan.
Gue denger **Lyra** teriak, "Aku nangkap tiga."
**Kai** komplain kalau dia nggak boleh ngitung. Keduanya lari ke arah kita, pas banget **Damian** mendekat.
"Mungkin kita harus bawa mereka masuk," dia bilang, naikin alisnya.
**Kai** mengeluh. "Boleh nggak kita di luar lebih lama lagi?"
"Sepuluh menit lagi," gue bilang sebelum mereka lari lagi.
Kunang-kunangnya ada di mana-mana sekarang, ngecat tanah lapang kecil dengan cahaya keemasan mereka. Anak-anak ngejar mereka, tawa mereka menggema di sekitar kita.
Gue bersandar ke **Damian**, ngeliatin mereka. Hati gue penuh banget gue mikir itu mungkin meledak.
Terus dia meraih, miringin dagu gue sampai dia bisa nyium gue. Ini momen yang sempurna di bawah langit berbintang dan matahari yang memudar dengan kedua anak kita bahagia sepenuhnya dan berkeliaran bebas.
Ini rumah kita. Harapan kita. Dan selamanya kita.