Bab 104
"H– Heather?"
"Iya?"
"Maaf. Aku minta maaf banget," dia nangis, bikin aku kaget.
"Sawyer–"
"Enggak, biarin aku selesai ngomong. Aku salah sama kamu. Aku selalu jadi brengsek sama kamu, tapi kamu selalu ada buat aku. Aku– Aku minta maaf banget. Tolong," aku nonton dengan kaget pas dia berlutut.
"Sawyer, kamu ngapain?? Enggak!"
Aku coba bikin dia berdiri tapi dia nolak.
"Heather, tolong! Aku bakal berubah. Aku bersumpah atas kepala Ayah kita yang udah meninggal, yang kita sayang banget, kalau aku bakal berubah. Tolong, maafin aku. Kamu satu-satunya sahabat dan keluarga sejati aku. Tolong. Tolong, maafin aku," dia nangis dan terus nangis, mohon di kakiku. Aku kaget.
Sawyer nggak pernah kayak gini. Dia baru aja bersumpah atas kuburan Ayah kita yang udah meninggal. Dia serius banget. Sawyer akhirnya sadar kesalahannya. Aku ngerasa bahagia.
"Berdiri," kataku pelan ke dia.
"Heather, tolong~" dia terus nangis.
"Berdiri, tolong."
Poin POV Sawyer:
Dengan air mata, aku berdiri dan duduk deket dia. Aku hancur dan putus asa. Aku butuh Heather buat maafin aku. Kalau dia nggak mau, aku bakal mati karena sedih. Aku capek. Aku udah bodoh banget. Bodoh banget udah bersikap nggak sopan sama dia!.
Dia bisa aja jadi malaikat pelindungku kalau aku mau. Heather itu hadiah.
Aku selalu jadi brengsek yang keras kepala dan egois dan sekarang aku nyesel banget. Aku butuh kakakku buat maafin aku. Dia satu-satunya keluargaku sekarang karena buat aku, Ibu udah meninggal.
Aku serius pengen berubah. Aku bakal jadi orang yang beda.
"Tolong, maafin aku," aku mohon, sambil ngesot.
Mata aku merah banget dan bengkak.
"Berhenti nangis, dedek," dia bilang pelan, ngambil sapu tangan dan ngapus air mata aku, "Aku maafin kamu. Nggak peduli apa yang udah kamu lakuin, itu udah masa lalu. Aku maafin kamu."
Poin POV Heather:
Aku nonton mata Sawyer melebar dan hal selanjutnya yang aku rasain adalah tangannya meluk aku. Dia meluk aku erat, nangis di bahuku. Aku bales pelukannya, air mata jatuh di pipiku. Terakhir kali kita pelukan kayak gini pas pemakaman Ayah kita, bertahun-tahun lalu.
"Makasih. Makasih banyak," dia nangis.
"Nggak apa-apa, Sawyer. Jangan nangis."
"Aku bahagia banget. Heather, aku sayang kamu dan aku selalu sayang kamu."
Kata-kata dari mulutnya bikin aku senang. Dia ngelepas pelukan dan natap aku, senyum di sela-sela air matanya.
"Aku sayang kamu. Aku minta maaf banget atas kelakuan burukku. Demi kamu aku bakal berubah," dia genggam kedua tanganku, "Aku sayang kamu, Heather."
Aku bales senyum, air mata jatuh di pipiku juga.
"Aku juga sayang kamu, Sawyer."
Kita pelukan lagi. Aku bahagia banget dia sadar kesalahannya.
Poin POV Sheridan:
Aku nonton kedua kakak berpelukan, bahagia. Aku diem di lorong kecil buat dengerin percakapan mereka. Aku seneng Sawyer udah sadar kesalahannya. Aku bahagia dia udah sadar betapa berharganya kakaknya. Udah waktunya.
Aku balik badan dan pergi ke kamarku.
Poin POV Heather:
Setelah pelukan lagi, kita senyum ke satu sama lain. Sawyer ngapus air matanya.
"Kamu keliatan kayak cewek paling bahagia di dunia," dia bilang sambil ngesot.
"Aku? Kenapa?" Aku senyum.
"Karena itu bener. Maksudku, liat kamu," dia genggam kedua tanganku, "Kamu cantik banget. Kamu keliatan puas dan bahagia. Dan aku ngerti kenapa."
"Kenapa?"
"Kamu udah nemuin Sheridan. Kamu nggak pernah berhenti bilang kalau dia bisa aja masih hidup. Dan kamu bener. Aku cuma bego dan negatif. Aku minta maaf."
"Nggak apa-apa, Sawyer."
Kita udah baikan dan aku seneng soal itu.
"Jadi, apa rencanamu sama dia?"
"Rencana? Soal kehamilan?"
Mata dia melebar kaget.
"K– kamu hamil?? Buat dia??"
Aku cekikikan.
"Iya. Kamu nggak denger dia kemarin ngumumin ke Nyonya Christina?"
"Enggak, aku nggak denger! Aku nangis dan linglung. Ya ampun," dia ketawa bahagia, "Aku bakal jadi tante. Aku peringatin kamu, Heather, aku bakal manjain anak itu."
Aku ketawa dan dia ikut ketawa. Nggak pernah aku liat Sawyer bahagia buat aku. Itu bikin hatiku hangat.
Poin POV Sawyer:
Aku bahagia banget. Heather lagi hamil. Aku bakal jadi tante. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku ngerasa bahagia tulus buat Heather. Dia keliatan cantik banget, bahagia banget dan cerah. Dia pantes dapetin itu. Untuk orang baik yang dia punya.
Poin POV Heather:
Sawyer dan aku ketawa dan ngobrol lumayan lama. Di satu titik, dia jadi diem.
"Ada apa?"
"Kalau aku mau berubah, aku bakal mulai dengan minta maaf ke semua orang yang udah aku sakitin. Mulai dari Sheridan."
"Iya. Kamu harus gitu."
"Tapi aku takut."
"Kenapa??"
"Aku tau dia benci aku. Jangan coba bilang sebaliknya. Dia nggak akan pernah maafin aku. Dan– dan aku bisa ngerti itu," dia liat jari-jarinya, sedih.
"Sawyer, udah coba?"
"Enggak."
"Terus? Kamu belum bisa ambil kesimpulan. Aku yakin dia bakal coba ngertiin kamu. Dan kalau dia maafin kamu, kamu harus kasih dia waktu buat mulai suka sama kamu."
"Heather, aku nggak bisa. Aku takut banget."
Aku senyum ke dia dan balik badan.
"Sheridan??" Aku panggil keras-keras. Sawyer kaget dan genggam tanganku.
"Enggak! Enggak!" dia berbisik, panik. Aku cekikikan.
"Iya??" kita denger dia jawab.
"Tolong, kesini!"
Poin POV Sheridan:
Aku masuk ke ruang tamu, tangan di kantong. Heather berdiri dan pegang tanganku.
"Sawyer, ada yang mau diomongin sama kamu," dia liat aku. Aku noleh liat Sawyer yang berdiri, gugup.
"Um Sheridan, aku tau kamu nggak terlalu suka sama aku dan aku ngerti itu. T– tapi aku mau nanya sesuatu."
"Apa?" Aku jawab dengan nada agak kasar. Aku ngerasa Heather nyubit aku dikit, "Maaf. Kamu mau nanya apa?" Aku tanya dengan nada lebih dingin.
Sawyer keliatan cemas pas dia gugup ngaitin jari-jarinya.
"Yah, aku mau minta maaf. Tolong, maafin aku atas semua tahun nggak sopan dan kelakuan burukku. Aku– Aku udah sadar kesalahan aku dan aku mau berubah. Tolong, maafin aku. Aku tau aku jelas udah jadi penyihir dan–"