Bab 70
Kita selesai berpelukan dan dia natap mata gue.
"Mata lo berair," katanya, penasaran.
"Ah, nggak apa-apa kok. Cuma senang aja bisa sama lo."
Dia senyum.
"Gue juga senang bisa sama lo. Lo selalu ada buat gue di saat-saat paling susah. Gue pengen lebih kenal lo, Ace."
Dia pegang muka gue dan nyium bibir gue pelan.
POV Ace:
Gue cowok paling bahagia. Semakin hari berlalu, semakin enak rasanya. Semuanya berjalan sesuai rencana gue. Penjualan perusahaan terus menurun dan lagi, gue lagi kasmaran.
Tapi sekarang Christina balik lagi, gue harus hati-hati banget. Main-main gue sama dia, berisiko. Apalagi sekarang gue lagi berusaha buat hubungan sama Heather. Gue harus bijak.
***
Christina nelpon gue ke kantornya suatu hari. Dia kelihatan gelisah banget.
"Ada apa, bos?" gue nanya dia.
"G– gue udah selesai."
"Kenapa?"
"Kita terus-terusan buang banyak uang, tapi produknya udah nggak laku! Kita lagi hadapin masalah keuangan, Ace!"
Gue pura-pura kaget.
"T– tapi bukannya kita punya investor?"
"Nggak! Nggak ada yang mau investasi sama perusahaan yang pelan-pelan menghancurkan dirinya sendiri. Uang udah habis, Ace. Kita– kita bangkrut. Sebentar lagi gue nggak punya apa-apa buat bayar Karyawan," katanya, matanya mulai berair. Gue pengen senyum tapi gue paksa diri buat nggak melakukannya.
"Christina," gue pegang tangannya, "Jangan nangis. Gue bakal investasi. Gue bakal kasih lo uang. Berapa pun," kata gue.
Dia natap gue.
"Lo– bisa? Uang yang kita butuhin banyak banget. Gimana caranya lo dapat–"
"Gue bisa," potong gue, "Gue ahli waris dari kekayaan yang besar. Gue yakin lo udah nebak dari hari pertama."
"Iya!"
"Berarti, gue punya caranya."
Gue tau apa yang gue lakuin.
"Ya Tuhan! Makasih banyak! Dengan uangnya, gue bakal cari bahan baku yang lebih murah. Dan gue bakal mastiin kita jual produk kita dengan sempurna lagi."
Iya, bener. Dengan James merusak produk susu, dia nggak bakal pernah berhasil.
"Makasih banyak! Gue–" dia natap gue dengan senyum lebar di wajahnya, "Gue cinta sama lo," tambahnya, bikin gue kaget.
Apa?? AHA! Gue ngomongin soal uang, dan tiba-tiba, dia jatuh cinta.
"Apa??" gue nanya, kaget dan nggak bisa nyembunyiin senyum gue. Tapi dia kayaknya mikirnya bagus karena dia senyum balik. Idiot! Gue senyum karena itu situasi paling konyol.
"Gue rasa gue udah bener-bener jatuh cinta sama lo, Ace."
"Gue senang denger itu," gue ketawa, "Gue juga cinta sama lo."
Dia senyum dan mendekat buat nyium gue tapi gue berdiri.
"Nanti aja, honey. Banyak kerjaan. Gue bawain uangnya besok."
Dia natap gue.
"Oh, oke. Makasih banyak, sekali lagi."
"Sama-sama."
Semuanya jauh lebih mudah dari yang pernah gue bayangin. Semuanya sempurna.
*
Waktu gue ngetik beberapa informasi di komputer gue, gue terus mikirin princess gue. Gue punya banyak kerjaan yang harus dikerjain, tapi gue pengen banget ketemu dia.
Gue baru mau berdiri dan keluar dari kantor gue waktu dia masuk, secantik biasanya pake celana panjang yang pas badan dan sepatu hak tinggi.
"Lagi mikirin lo," gue senyum sama dia.
"Wajar. Seharusnya lo cuma mikirin gue," dia ngasih kedipan mata genit.
"Nakal banget," gue goda dengan nada main-main. Dia cekikikan dan datang buat duduk di pangkuan gue.
"Nggak mau nyium gue?" gue nanya.
Dia memutar mata.
"Nggak mau mohon sama gue?"
Gue naikin alis dan dia menyeringai.
"Mohon, ya?"
"Yup. Kasih gue alasan buat melakukan itu."
"Hm, karena gue cinta sama lo?"
"Hm, yakinin gue sedikit lagi," dia goda, mengelus pipi gue.
Oh, apa ini semua mimpi?
"Tolong, cium gue," pandangan gue turun ke bibir indahnya, "Gue udah pengen banget ciuman sama lo. Gue udah nunggu dari pagi sampe sekarang. Tolong?"
Dia cekikikan dan menggigit bibir bawahnya.
"Gue mau lo, Ace," kata gue dan dia tertawa.
"Hm, lo mau gue?"
"Mhm."
Pake jari, dia menelusuri dagu gue sampai ke dada gue.
"Hati-hati, gue gigit," bisiknya.
Hetaher emang tukang goda dan gue suka itu. Dia udah pasti berubah dan nggak lagi Hetaher kecil yang pemalu. Gue suka dia punya sisi yang penakut, dan juga sisi yang suka main-main, godain.
"Tunjukin gue caranya," akhirnya gue jawab.
Dia senyum dan pegang dagu gue. Terus pelan-pelan, dia nyium gue enak, pelan dan dalam. Gue tiba-tiba ngerasa kayak di bawah kendalinya.
Hetaher itu godaan murni buat gue. Dia bikin gue ngerasa apa yang nggak dirasain sama cewek lain. Dia terus putus ciumannya dan gue kaget waktu ngerasa dia menelusuri ciuman lembut di sisi leher gue.
Waktu dia nyium leher gue, gue juga nyium lehernya. Kita sekali lagi larut dalam gairah kecil kita, saling mengelus sepanjang jalan. Sejak kita mulai ketemu, kapan pun kita ketemu, semuanya jadi tegang tapi nggak pernah di luar kendali sebenernya.
Gue sedikit gemetar waktu dia pelan-pelan menggigit cuping telinga gue. Dia cekikikan dan berbisik,
"Udah bilang gue gigit, Sheridan."
Mata gue melebar kaget.
"Sheridan??" gue nanya, bingung. Jantung gue tiba-tiba berdebar kencang dan gue hampir panik.
Dia tersentak sedikit dan langsung duduk, natap gue dengan mata lebar.
"Oh, maaf! Gue– gue nggak maksud manggil lo–"
"Nggak, nggak apa-apa," potong gue sambil senyum, berusaha nenangin dia.
Gue senang dia nggak lupa sama gue. Itu berarti kalo gue orang yang beda, dia bakal tetep manggil gue Sheridan.
"Gue bener-bener, bener-bener minta maaf," ulangnya, malu.
Gue tertawa kecil.
"Nggak, nggak apa-apa," gue bilang ke dia dan dia senyum sedikit.
"Makasih udah ngerti. Nggak gampang buat ngeluarin dia dari pikiran gue. Gue tau ini gila soalnya terakhir kali gue ketemu dia, dia umur dua belas. Dan gue di sini kayak orang bodoh, ngebayangin dia masih hidup dan berusaha nebak kayak gimana tampangnya. Gue– gue nggak bisa nahan diri."