Bab 60
Gue ngasih dia senyum palsu terus keluar dari ruangannya.
***
Hari berikutnya, gue pergi ke kantor Heather. Dia langsung salah tingkah pas gue masuk. Gue mutusin buat bersikap biasa aja, nunjukin ke dia kalau gue cuma pengen jadi temennya.
"Hei Heather, ada apa?" kata gue santai sambil senyum.
Dia kaget beberapa detik, tapi terus senyum balik.
"Gue baik-baik aja, Ace," jawabnya dengan lebih nyaman.
Gue duduk.
"Kalau gue ada salah, maafin ya. Temen kan nggak boleh saling ngejauhin, iya nggak?" tanya gue sambil bercanda. Dia senyum lagi.
"Lo bener. Maaf ya kalau akhir-akhir ini gue aneh. Gue kira lo marah sama gue."
"Gue?? Nggak kok. Sejak gue dapet posisi ini, gue emang sibuk banget. Jangan mikir ada masalah di antara kita. Oke?" Gue senyum dan dia cekikikan.
"Oke, Bos," jawabnya sambil bercanda.
Nah, kita udah balik normal. Gue benci banget kalau ada rasa canggung di antara kita.
"Sekarang semuanya udah jelas, gue mau nanya sesuatu nih."
"Apaan?"
"Ada cewek yang gue suka, dan gue ngajak dia kencan pertama. Tapi gue bingung mau ngajak dia kemana. Sebagai temen sekaligus cewek, kira-kira tempat yang pas buat kencan pertama tuh gimana sih?" Gue bohong sih, soal cewek baru dan kencan. Gue cuma pengen Heather lebih terbuka sama gue, dengan bikin dia mikir kalau gue suka sama orang lain.
"Seriusan?" tanyanya sambil senyum. Gue berhasil ngancurin rasa canggung di antara kita.
"Iya."
"Hm, kayaknya ada yang lagi kasmaran nih," godanya sambil ketawa.
Sama lo.
"Nggak sampe cinta sih. Kayaknya masih terlalu cepet. Sekarang sih gue cuma menghargai dia aja," gue bohong.
"Ya udah, semoga sukses ya."
"Makasih. Jadi, gue bisa ajak dia kemana nih?"
"Ke restoran yang keren dengan suasana romantis. Pasti seru tuh."
"Oke, cantik. Makasih ya," gue senyum dan dia senyum balik. Pipinya merah.
***
Akhirnya akhir pekan dateng, dan lo bisa nebak kan apa yang terjadi.
Christina udah ketipu semudah Sawyer. Jake seneng banget. Setidaknya sekarang gue bebas dari semua omong kosong mereka yang mesum– untuk sementara.
Pagi Minggu, setelah Christina pergi dari rumah gue, Keith dateng nemuin gue.
"Kita perlu ngobrol, Ace," katanya serius, duduk di samping gue.
Gue natap dia.
"Ada apa, Bro?"
Dia natap gue dengan serius banget sampe gue kaget.
"Gue ngerasa nggak kenal lo," tiba-tiba dia ngomong gitu.
"Hah??"
"Lo itu siapa? Beneran?"
Hah?
"A– apa maksudnya?" tanya gue bingung.
"Maksud gue, apa bener nama lo Ace??"
Gue ngerasa jantung gue berdebar kencang. Kenapa dia nanyain pertanyaan itu?
"Ya iyalah, nama gue Ace."
Dia diem, tapi terus ngomong.
"Malam setelah gue tidur sama Sawyer, gue sadar kalau gue lupa salah satu cincin yang gue pake malam itu,"
Gue natap dia.
"Terus?"
"Kemarinnya lagi, gue mutusin buat nyari cincin itu. Dan pas lagi nyari, gue nemuin ini," dia ngeluarin foto dari sakunya dan ngasih ke gue.
Gue ambil fotonya. Itu foto Ayah sama gue, waktu gue umur sepuluh tahun.
Gue noleh ke dia.
"Ini cuma foto Ayah sama gue waktu kecil."
Keith mengerutkan dahi.
"Gue kira Ayah lo itu Tuan Victor."
Oh...
Gue lupa detail itu. Semua orang selalu kenal gue sebagai anaknya Victor.
Gue buka mulut mau ngomong sesuatu, tapi nggak ada kata yang keluar.
Keith ngangguk.
"Ternyata bener. Lo nggak bisa ngomong apa-apa. Dan itu belum semuanya," dia nunjuk Ayah di foto, "Gue baca artikel sekali, tentang pemilik perusahaan PW yang udah meninggal. Paul Wesley. Apaan dia di foto ini??"
Gue diem.
"Lo itu siapa? Siapa yang selama ini gue temenan?" tanyanya, sakit hati. Ya Tuhan, gue ngerasa nggak enak banget. Gue nggak tau mau ngomong apa.
"Jawab gue."
Ketika gue natap dia diem, tanpa ngomong, dia berdiri dengan marah mau pergi.
Apa gue bakal kehilangan temen? Nggak.
"Sheridan Wesley," kata gue.
Keith berhenti di tempatnya dan natap gue.
"Apaan?"
"Gue lahir sebagai Sheridan Wesley,"
Dia natap gue nggak bisa ngomong dan kaget.
"Duduk dulu, Keith. Gue mau cerita banyak sama lo."
*
Gue ceritain semuanya ke Keith. Semuanya. Dia pantas tau semua kebenarannya.
"Sekarang gue ngerti kenapa lo nggak suka Sawyer sama ibunya."
"Gue benci mereka," gue benerin.
"Gue ngerti lo. Setelah semua tahun ini. Mereka harusnya masuk penjara atau mati!" serunya.
"Dan gue sendiri yang bakal urus itu."
"Dan Heather? Dia udah punya pacar, kan?"
"Untuk sekarang. Gue mau balikin perusahaan gue dulu. Baru gue coba buat dapetin dia balik. Tapi itu sih gampang."
"Gimana? Lo mau bilang ke dia soal identitas lo yang sebenarnya?"
"Nggak," gue ceritain tentang Kevin dan Sawyer. Dia kaget.
"Lo berutang budi sama gue. Banyak."
"Kenapa?"
"Gue tidur sama cewek yang salah. Kalau gue tau soal Sawyer duluan, gue nggak bakal tidur sama cowoknya. Sekarang gue jijik."
Gue natap dia.
"Iya, gue berutang budi sama lo. Walaupun lo nyesel sekarang, berkat bantuan lo gue jadi kepala departemen. Masalah baru aja mulai buat keluarga Welds."
Gue bener-bener serius. Mulai besok, gue bakal mulai ngerubah banyak hal yang pelan-pelan bakal ngebawa mereka ke kehancuran. Nggak ada lagi permainan.
Gue nggak berutang apa-apa lagi sama mereka.
Bencana terburuk mereka bakal terjadi.
POV Ace:
Hari berikutnya, gue pergi ke kantor, seger dan siap banget. Segini gantengnya gue dan dalam suasana hati yang bagus banget.
Gue pergi ke kantor gue dan mulai nyesuaiin banyak hal. Gue ganti daftar bahan mentah yang dipake industri perusahaan. Gue milih bahan mentah yang lebih mahal. Gue tambahin jam kerja buat pekerja industri, otomatis nambah gaji mereka lima persen. Gue tau apa yang gue lakuin.
Setelah nyesuaiin semua hal ini, gue panggil asisten pribadi gue dan ngasih dia perintah khusus. Semua yang gue sesuaikan harus dijalankan tanpa masalah.