Bab 21
Gambar Nyonya Christina muncul di layar. Perut gue langsung mulas, tenggorokan gue jadi pahit, kayak kenangan buruk tentang peternakan balik lagi.
"Dia datang di Los Angeles bareng putri-putrinya seminggu lalu, ngaku kalau Tuan Paul Wesley udah kasih semua propertinya ke dia buat diurus sampai anaknya udah gede buat ngambil alih. Tapi kata dia, anak cowoknya udah hilang beberapa minggu lalu, dan setelah dicari-cari gak ketemu, dia dinyatakan meninggal sama Sheriff kota itu. Seperti yang kalian tahu, Nyonya Christina Welds sekarang jadi kepala semua Produk Susu Wesley dan semua properti Wesley."
Laury matiin TV. Gue ngerasa ada benjolan di tenggorokan. Gue ngerasa gak enak. Benci. Kebencian gue langsung naik seketika. Nyonya Christina bakal nyesel.
"Gue gak percaya ini." Laury sama syok dan kesalnya kayak gue.
"Nah, sekarang lo tahu kenapa gue berhenti. Gue gak bakal jadi asisten pribadinya si penyihir itu."
Gue ngeliatin dia.
"Tapi gimana caranya, Paman Victor?"
"Jangan khawatir, son. Gue udah investasi di perusahaan sukses lain buat jadi co-manager. Gue udah dapet untung yang cukup dari investasi itu."
"O-oke."
"Maaf, buddy. Lo gak bakal bisa lagi kunjungin perusahaan Ayah lo."
Gue sedih, tapi gue tahu mana yang lebih baik. Gue gak bisa ambil risiko biarin Nyonya Christina tahu kalau gue masih hidup. Gue bener-bener gak bisa. Semuanya berubah setelah denger berita buruk itu.
******
Sudut Pandang Penulis:
Sheridan mulai belajar lebih giat lagi, niat banget buat lulus dengan hasil terbaik. Tahun-tahun berlalu, Sheridan tumbuh jadi remaja yang ganteng banget. Victor dan Laury nikah waktu Sheridan umur tiga belas tahun, dan investasi Victor di perusahaan lain ngasih dia banyak keuntungan yang bikin dia bisa mulai bisnis sendiri yang berkembang pesat.
Sampai umur delapan belas tahun, Sheridan dikenal semua orang sebagai Ace. Dia populer tanpa usaha. Dia udah berubah total seiring dia tumbuh dengan kenangan traumatis dari High Meadows. Itu ngebuat dia jadi orang yang pendiam dan misterius. Dia selalu mikir dan menyendiri. Dia gak nyamperin orang. Orang lain yang nyamperin dia, maksa buat kontak dan temenan. Selain itu, dia ramah kalau udah kenal baik. Dia jarang ngomong, tapi disukai semua orang, guru dan murid. Dia berubah dari anak kecil yang ceria dan banyak ngomong jadi cowok muda yang pendiam dan karismatik yang jarang senyum.
Dia lulus SMA di usia delapan belas tahun dengan hasil yang sangat baik.
Di usia itu dia udah mandiri. Waktu dia mulai tahun pertama di universitas, dia dapet kabar kalau Victor dipindahin ke Kanada dan harus ikut sama istri dan anaknya. Ya, Victor dan Laury punya anak cewek.
Susah banget buat mengucapkan selamat tinggal ke orang-orang baik yang udah ngerawat dia, tapi dia gak punya pilihan.
Sebelum pergi, Victor ninggalin dia uang yang lebih dari cukup di rekening banknya.
"Pake dengan bijak. Selesain kuliahmu dan ambil lagi apa yang seharusnya jadi milikmu. Telepon gue kalau butuh bantuan.", kata Victor.
"Iya."
"Dan datang kunjungi kami di Kanada segera."
"Tentu, Paman. Terima kasih banyak Paman Victor. Tanpa Paman, gue gak bakal ada di sini hari ini."
"Gak masalah, son. Cuma itu yang bisa gue lakuin buat lo."
Dia meluk pamannya untuk terakhir kalinya.
"Jaga diri, buddy."
Setelah Victor packing, dia ninggalin rumahnya di California di tangan Sheridan. Rumah itu jadi miliknya.
Sheridan keluar dari universitas dan menempuh pendidikan profesional selama empat tahun. Dia lulus di usia Dua puluh dua tahun dengan gelar Master di bidang Manajemen.
SUDUT PANDANG ACE:
Gue bangun dengan seringai di wajah gue. Itu adalah pagi Minggu yang cerah. Gue baru aja lulus. Sehari sebelumnya. Sekarang gue punya gelar Master.
Gue bangun dari tempat tidur. Sinar matahari yang masuk lewat gorden di kamar gue bikin seluruh ruangan kekuningan. Gue bangun dari tempat tidur dan menuju jendela yang gue buka. Gue melihat ke jalanan kampus. Gue bakal kangen tempat ini.
Gue anggota persaudaraan di universitas dan kita semua tidur di kamar masing-masing di rumah persaudaraan. Paman Victor udah ngasih rumahnya ke gue, tapi gue rasa gue belum siap buat tinggal di tempat seperti itu. Belum sekarang.
Ada ketukan di pintu gue.
"Yo Ace, buka!" gue denger dari sisi lain. Itu Keith. Kita udah ngelewatin SMP dan SMA bareng. Dan juga universitas. Gue bisa bilang dia sahabat terdekat gue.
Gue buka pintu buat dia dan dia masuk.
"Jadi??" tanyanya sambil duduk di kasur gue.
"Jadi, apa?" gue nanya.
"Perusahaan mana yang bakal lo tuju buat magang?"
Setelah lulus, rektor udah tanda tangan beberapa dokumen, yang ngizinin kita buat magang atau praktik dengan pake keterampilan yang udah diajarin di perusahaan mana pun. Dan itu bakal berlangsung dua tahun. Perusahaan bakal tanda tangan dokumennya kalau lo bagus atau gak. Setelah magang, seseorang bisa keluar buat bikin perusahaan sendiri atau kerja di perusahaan lain. Atau, perusahaan tempat seseorang magang bisa mutusin buat nahan lo.
"Um, gue bakal magang di Four wheels, limited." jawab gue. Four wheels itu perusahaan penghasil mobil terkenal.
"Hum. Lumayan juga. Gue bakal magang di Smiles. Perusahaan penghasil mainan."
"Terus setelah itu?"
"Gue bakal bantu paman gue di bisnisnya. Kalo lo?"
Gue ngeliatin dia.
"Gue udah punya perusahaan."
Dia ngeliatin gue bingung.
"Maksudnya?"
Gue nyengir.
"Gue udah punya perusahaan yang ada di pikiran gue. P.W."
"Oh, wow. Pilihan yang bagus. Gue denger cewek yang sekarang punya itu punya dua anak cewek yang cantik."
Perut gue langsung mulas. Udah lama banget sejak gue denger tentang Heather. Pas gede, gue selalu mikir kayak gimana dia sekarang. Kenangan manis yang gue punya tentang dia masih seger di pikiran gue. Gue selalu mikirin dia.