Bab 105
"Jelas," aku gak bisa nahan diri buat motong dan ngeyakinin apa yang baru aja dia omongin. Heather nyubit aku lagi, tapi lebih keras dan aku kaget.
Sawyer nyamain dan lanjut.
"Tolong, aku mohon banget, Sheridan, maafin aku," dia natap aku, panik dan takut jelas di matanya.
Aku natap dia diem, bikin dia gak nyaman. Cewek ini, kayak ibunya, udah jadi sumber masalah buat aku dari kecil. Apa aku beneran bakal maafin dia?
Heather lepasin tanganku dan maju buat berdiri deket adiknya.
"Sheridan sayang, tolong maafin dia. Aku udah. Tolong, biar semuanya berakhir baik buat semua orang. Kasih dia kesempatan. Tolong," dia natap aku.
Aku gak ngomong sepatah kata pun.
"Tolong, sayang. Lakuin buat aku, ya."
Aku narik napas dalem-dalem, mikir.
"Oke. Aku maafin kamu, Sawyer."
Dia jadi lega dan adiknya meluk dia dengan bahagia. Terus dia balik lagi ke aku.
"Makasih, Sheridan."
"Iya. Tapi aku tetep gak suka sama kamu."
Heather cekikikan dan Sawyer senyum, gak nyaman.
"Aku tahu. Tapi aku tetep seneng kamu udah maafin aku. Dan selamat buat bayimu."
"Makasih."
"Um, kayaknya aku pergi sekarang deh. Bye," dia ngulurin tangan dan aku salaman. Dia terus balik ke adiknya. Mereka pelukan dan Heather nganter dia sampe pintu. Aku nungguin dia balik lagi.
"Aku seneng banget dia jadi orang yang berubah sekarang," kata Heather, balik lagi.
"Lebih baik buat semua orang," dia nyamperin dan meluk aku erat. Aku juga meluk dia, "Aku marah sama kamu."
"Apa? Kenapa?" dia nanya, natap aku.
"Kamu nyubit aku dua kali. Sakit tau."
Dia cekikikan.
"Maaf, sayang. Ini buat kebaikan."
"Iya deh," aku cium keningnya, "Ambil sepatumu. Kita mau ke rumah sakit buat cek up pertama kamu."
"Oke."
***
Minggu depannya seru. Aku resmi jadi manajer di perusahaan Ayah. Semua rekening banknya yang Nyonya Christina gak punya hak buat sentuh, bener-bener jadi milikku. Aku dikenal semua orang sebagai Sheridan Wesley. Aku ngerekrut lagi semua Karyawan yang udah berhenti. Aku bayar mereka lebih baik juga. Buat Aiden, aku jadiin dia kepala bagian produksi. Dia seneng dan sebagai orang yang kerja keras, dia emang pantes.
Sekarang seluruh Los Angeles serta media tahu soal kasus pembunuhan Nyonya Christina dan soal kembalinya aku.
Semuanya sempurna. Industri mulai ngehasilin produk bagus lagi dan penjualan kita makin bagus.
Tentu aja aku nelpon Paman Victor buat ngasih tau dia berita itu dan Laury. Mereka seneng banget buat aku dan janji bakal dateng buat kunjungan di akhir tahun.
***
Suatu hari di kantor, aku dapet telpon dari Sheriff Bates yang udah balik lagi ke Blueville.
"Halo, Sheriff."
"Halo, son. Gimana kabarmu dan Heather?"
"Sempurna, makasih. Gimana Blueville?"
"Baik-baik aja."
"Oke. Gimana kasus Nyonya Christina? Kapan dia bakal dibawa ke pengadilan?"
"Itu sebabnya aku nelpon. FBI di sana lagi nungguin kemunculan Elijah Gerd. Kesaksian dan keterlibatannya yang mereka tunggu. Tapi jangan khawatir, Nyonya Christina dan Rob bakal tetep dikurung sampe Elijah muncul dan mereka semua sidang. Ada batas waktu tiga bulan. Kalo dia gak muncul dalam waktu tiga bulan, maka mereka berdua bakal diadili tanpa dia."
"Oke. Selama mereka dikurung, gak ada masalah. Makasih, Sheriff."
"Sama-sama. Semoga harimu menyenangkan."
"Kamu juga."
POV Sheridan:
Dua bulan setengah kemudian, semuanya bener-bener baik. Perusahaanku bagus banget dan teman-temanku serta cinta-cintaku baik-baik aja. Elijah masih belum ketemu tapi itu bukan masalah buat aku.
Heather dan aku udah jalan-jalan ke New York selama seminggu karena kita perlu ketemu spesialis yang bakal ngasih dia beberapa tips kehamilan dan persalinan yang penting banget, barengan sama vitamin yang bakal bantu pertumbuhan baik bayi kita.
Semuanya sempurna.
"Itu sempurna," Heather bilang ke aku pas kita keluar dari kantor dokter.
"Iya," aku senyum ke dia.
Perutnya udah mulai keliatan. Kehamilan adalah sesuatu yang cocok buat dia karena dia malah makin berseri-seri dan cantik. Dan, cinta kita makin kuat setiap hari yang berlalu.
"Sayang, aku laper. Ayo kita ke toko roti biar aku bisa dapet roti panas. Tolong," dia cemberut dan aku cekikikan.
"Tentu. Apapun buat kamu, cinta," aku cium dia pas kita keluar dari gedung.
Kita masuk ke mobilku dan kita pergi ke toko roti. Kita parkir di seberang jalan dan nyebrang ke arah toko roti. Aku merhatiin ada sekitar tiga gelandangan pake sweater abu-abu kotor, topi dan penghangat (penghangat leher) dan sepatu yang jelek banget dengan lubang. Mereka natap ke restoran deket toko roti. Aku kasian sama mereka. Mereka mungkin laper. Begitu aku beli roti buat Heather, aku mutusin buat ngasih uang ke gelandangan itu.
Kita masuk ke toko roti dan aku beliin dia semua yang dia mau. Aku bayar tagihannya dan pas kita mau pergi, kita denger seseorang teriak marah di luar. Semua orang di toko roti, termasuk kita noleh buat liat apa yang kayaknya pemilik restoran itu dengan tongkat, marah-marah ngusir gelandangan, mukulin mereka. Dua orang lari tapi satu orang jatuh dan orang itu mulai ngejerit ke dia, ngancam bakal nyakitin dia. Heather dan aku langsung pergi buat misahin.
"Woi, Woi, woi! Tenang!" aku teriak, megangin pemiliknya dan narik dia menjauh sementara Heather bantuin gelandangan itu bangun. Pemilik yang marah itu lepas dari genggamanku dan masuk ke restorannya. Aku langsung buka dompetku, nyari uang.
"Semoga kamu baik-baik aja, Pak," aku bilang ke gelandangan itu, mataku masih di dompetku.
"Kasih dia ini," Heather bilang, ngeliat ke dompetku juga.
"Iya," aku ngambil uang seratus dolar. Itu cukup buat dia dan dua temannya yang lain, buat dapet makanan yang enak.
"Nih," aku bilang, tanpa ngeliat pas aku susah payah nutup dompetku dan masukin ke saku.