Bab 20
"Oke. Bagus buat diketahui. Aku Dr. James. Dokternya Victor. Di sini buat bantu. Masih ngerasain sakit di seluruh tubuhmu?"
"Nggak gitu juga sih. Paman Victor ngasih aku obat pereda nyeri sama sedikit salep buat diolesin ke luka sama memar."
"Aku bisa lihat lukanya udah kering. Terus memarnya?"
"Udah nggak sakit lagi. Tapi masih ada sih."
"Jangan khawatir, semuanya bakal baik-baik aja. Sekarang aku harus obatin lututmu."
"Oke."
Dia berdiri dan buka tas kerjanya sebelum ngambil beberapa alat medis dari dalamnya. Aku kaget.
"Kamu mau ngobatin aku di sini?"
"Iya." Pria itu bilang dengan nada geli, "Ngapain ke rumah sakit kalau pamanmu bisa minta dokternya dia buat ngobatin kamu di rumah."
Ini keren banget.
"Oke." Aku nyender dan biarin pria itu kerja.
Beberapa menit kemudian, setelah pijat lutut medis, hal-hal lain, dan pemeriksaan, dokternya selesai. Dia udah bebat lututku.
Tunangannya Paman Victor, Laury, datang dan nyamperin kita. Dia senyum ke aku.
"Selamat pagi, Sheridan. Gimana tidurnya?"
"Lumayan enak." Aku balas senyum. Dia lalu noleh ke dokter.
"Jadi dokter, gimana lututnya dia?" dia tanya.
"Untungnya nggak dislokasi kayak yang kamu pikir."
"Beneran?"
"Iya. Tapi lumayan parah. Beli obat gosok. Yang paling kuat. Pake itu buat mijat lututnya tiap hari. Akhir minggu ini. Dia bakal baik-baik aja."
Syukurlah!
"Oh, itu kabar baik." Kata Laury.
"Iya, bener. Sekarang kerjaan saya selesai, saya pergi."
Kita pamit ke dokter dan dia pergi.
"Paman Victor mana?" aku tanya.
"Udah berangkat kerja sayang."
"Di perusahaan Ayah?" aku tanya. Dia senyum.
"Iya."
"Nanti dia bakal ajak aku buat lihat nggak??"
"Kamu tanya dia aja ya?"
"Oke."
Dia senyum. Dia punya senyum yang cantik banget dan dia sendiri cantik. Dia sama Paman Victor cocok banget. Dia dua puluh lima dan dia tiga puluh dua.
"Aku udah buatin sarapan. Telur dadar bacon dan semuanya enak."
Aku senyum bodoh. Aku laper.
"Beneran??"
Dia cekikikan.
"Yup. Mandi dulu. Abis makan aku beliin kamu baju."
"Makasih. Banyak banget."
"Sama-sama sayang. Kamu pantas dapat itu. Ini semua berkat Ayah kamu Victor bisa sukses kayak gini. Kita berterima kasih."
Aku senyum. Dia balas senyum dan pergi dari kamar. Aku bangun dan pincang ke tas perjalanan yang udah aku bawa. Aku ambil handuk dan beberapa baju yang masih muat. Baju-bajuku udah pada nggak muat cuma dalam waktu satu setengah tahun. Sejak kematian Ayah, aku tumbuh lebih tinggi dan agak beda. Mungkin pubertas mulai kayak yang Christina bilang.
Aku lalu jalan ke kamar mandi buat mandi. Kamar mandinya aja gede dan cantik.
***
Setelah sarapan yang berat dan enak, aku dan Laury masuk ke mobilnya yang keren dan pergi.
"Kamu kerja?" aku tanya dia waktu kita lagi jalan-jalan di kota California yang indah.
"Iya."
"Kamu kerja apa?"
"Aku punya spa."
"Kamu kerja di spa atau kamu punya spa??"
"Aku punya spa."
"Wow! Gimana?? Kamu masih muda banget!"
Dia ketawa.
"Itu punya Mama aku. Dia meninggal dan ngasihnya ke aku."
"Keren!"
Dia ketawa.
Laury bawa aku ke mal. Aku belum pernah ke mal seumur hidupku. Di kampung halamanku kebanyakan toko loak sama toko-toko kecil. Aku celingak-celinguk kagum. Itu kayak kota di dalam ruangan. Aku bisa kesasar.
Dia bawa aku ke tempat jual baju. Dia beliin aku banyak barang keren pake uangnya sendiri. Aku cuma punya sandal dan sepatu bot yang cocok sama lingkungan Barnsville. Dia beliin aku sepatu kets. Banyak sepatu kets keren. Aku berterima kasih banget.
Setelah seharian, pas kita mau pulang, dia beliin dua pizza dan es krim. Dia keren banget! Aku punya hari yang luar biasa. Dan lagi, kita mau makan pizza malam itu.
*
Jam Sembilan malam itu, Paman Victor pulang dan aku ceritain tentang hari yang luar biasa sama Laury. Dia senang buat aku. Setelah dia ganti baju, kita semua ngumpul makan pizza enak dan nonton film.
Aku tanya dia kapan dia bisa ajak aku buat lihat perusahaan Ayah dan dia janji bakal ajak aku jalan-jalan akhir minggu ini. Aku udah nggak sabar dan semangat banget.
***
Minggu pertama berlalu dan banyak hal terjadi. Paman Victor sibuk bikin dokumen baru buat aku dan akhirnya nggak sempat buat ajak aku jalan-jalan.
Begitu minggu pertama selesai dan semua dokumen baruku selesai, aku mulai sekolah bukan sebagai Sheridan Wesley tapi sebagai Ace Stonewall. Paman Victor bisa negosiasi sama sekolah baruku dan mereka masukin aku ke kelas yang seharusnya aku masukin di usia itu. Kelas 8.
Aku nggak terlalu ada masalah buat adaptasi sama sistem baru. Gampang buat aku. Aku senang bisa sekolah lagi. Awalnya susah waktu teman sekelas atau guruku manggil aku Ace tapi aku nggak nyaut karena aku selalu lupa kalau itu identitas baruku. Tapi lama-lama, aku terbiasa sama nama itu.
Suatu hari, Paman Victor pulang lebih awal dari biasanya dari kerja. Waktu itu sekitar jam 1 siang waktu dia pulang. Kita kaget.
"Kenapa kamu pulang cepet?" Laury tanya. Aku di rumah soalnya hari Sabtu.
Dia ngeliatin tunangannya dan ngejatuhin tas kerjanya di meja.
"Aku keluar dari kerja."
Kata-katanya kayak bagian dari imajinasiku.
"Kamu apa??" Laury tanya.
"Aku berhenti."
"Kenapa??"
"Nyalain TV. Berita. Kamu bakal tahu kenapa."
Laury dan aku saling pandang bingung. Dia ambil remotenya dan nyalain TV. Kita dengerin laporan berita. Mereka nunjukkin perusahaan gede banget dengan inisial "P.W" dengan huruf gede di bagian atas gedungnya.
Itu perusahaan Ayah. Reporter itu lalu ngomong:
"Kita di California di depan perusahaan produk susu terbesar di negara bagian ini yang sepertinya milik almarhum Paul Wesley, atau yang dulunya milik almarhum Paul Wesley. Bener banget pemirsa, perusahaan ini sekarang di tangan seorang wanita bernama Christina Welds, istri dari juga almarhum Kenneth Welds, teman terdekat Mr. Wesley."