Bab 62
Suatu akhir pekan, gue mengunjungi manajer yang bertanggung jawab atas industri dan Karyawan. Buat nyogok dikit.
"Gue punya usulan buat lo, James," kata gue ke dia. Dia cowok yang egois yang cinta duit. Banget.
"Siap, Bos."
"Gue mau lo lakuin sesuatu buat gue."
"Apaan tuh?"
"Gue mau lo tambahin sesuatu yang aneh yang bakal ubah rasa produk kita ke susu yang lagi dikirim ke industri."
Dia ngeliatin gue.
"Sesuatu kayak gimana?"
"Apapun yang bakal ngejauhin pelanggan. Yang bakal bikin perusahaan rugi gede."
"Lo mau sesuatu yang bakal ngerusak bisnis?"
"Tepat."
"Kalo gitu, lo harus kasih gue sesuatu, Sobat."
"Gue tahu," Gue ngeluarin kantong plastik penuh duit tiga puluh ribu dolar dan ngasih ke dia. Mukanya langsung berseri-seri pas ngeliat jumlahnya.
"Deal!" kita salaman.
"Terus masukin aja ke susu, apa pun yang mau lo masukin, sampe gue suruh berhenti."
"Siap, Tuan."
Gue senyum dan berdiri, puas.
"Bagus."
"Tapi kenapa lo mau nyoba ngerusak perusahaan tempat lo kerja?"
"Urusan lo bukan di sini, Bro," gue nepuk bahunya dan pergi. Semuanya makin membaik. Dengan cepat.
**
Semuanya kayaknya berjalan sesuai harapan gue. Nyonya Christina percaya buta sama gue dan Heather dan gue makin deket. Gak ada lagi kecanggungan dan sisanya. Gue pengen lebih, tapi gue harus sabar.
Pov Heather:
Ace dan gue bener-bener udah deket. Dia bener-bener orang favorit gue di tempat kerja. Dan dia baik banget, ramah, dan pengertian. Dia orang yang bener-bener bikin gue nyaman.
Suatu hari, Kevin dateng nemuin gue di kantor. Hubungan kita kayaknya makin kuat. Dan gue lumayan seneng sih. Kita ngobrol di koridor depan pintu gue.
"Gue seneng banget kita udah makin deket," kata Kevin, megangin tangan gue. Gue senyum, "Lo gak tahu betapa gue cinta sama lo."
"Gue cinta–" Gue mau nyelesain kalimat gue pas Ace lewat. Dia ngasih gue kedipan mata cepet dan lanjut jalan. Jantung gue berdebar dan gue senyum sendiri, muka gue merah.
"Oh, sayangku. Kamu blushing. Karena aku? Kamu jarang banget blushing karena aku," kata Kevin senang.
Oh, gue lupa dia di depan gue.
"Uh iya," gue bohong dengan senyum lebar.
*
Pov Ace:
Gue lagi nyeduh kopi pas Heather nyamperin gue. Dia mukul lengan gue iseng.
"Aduh. Buat apa itu?" gue ketawa.
"Gak papa. Gue cuma pengen aja," dia senyum malu-malu ke gue. Gue meleleh.
"Gemesin banget. Lo emang gitu dari dulu."
Dia ngeliatin gue.
"Lo ngomong kayak udah kenal gue. Udah lama."
"Mungkin emang udah."
Dia natap gue diem.
"Iya," dia natap mata gue, "Mungkin. Ceritain dong di mana."
Uh oh.
"Di mimpi lo," gue bercanda, mecahin suasana serius. Dia ketawa dan muter matanya.
"Idiot!" dia mukul gue lagi.
"Tapi ekspresi muka lo tuh. Kayak lo percaya sama gue."
"Banyak orang yang ngingetin gue sama temen kecil gue. Gue ngeliat beberapa sifat dia di setiap cowok yang gue temuin."
"Si Sheridan?" gue nanya.
"Iya. Lo inget namanya? Bahkan Kevin kadang ngingetin gue sama Sheridan."
Kampret.
"Gila aja," kata gue dan dia ketawa.
"Gue tahu. Setiap orang atau cowok yang gue temuin ngingetin gue sama dia. Gue masih punya harapan dia masih hidup dan mungkin lebih deket sama gue daripada yang gue kira."
"Gue pengen jadi dia. Tapi maaf, gue lahir di Chicago dan dibesarin di sini," kata gue dan dia cekikikan.
"Lo konyol."
"Tapi lo cinta gue karena itu," gue godain dengan senyum. Dia blushing dan muter matanya.
"Lo boleh aja mimpi," dia cekikikan dan pergi. Gue gak bisa gak natap dia pas dia pergi. Cepat atau lambat, dia bakal jadi milik gue. Dia emang selalu jadi milik gue.
*
Pov Heather:
"Jadi gimana kerjaannya?" Shirley nanya gue. Gue lagi nginep di apartemen dia.
"Ya gitu deh. Kevin bahkan dateng hari ini. Gue lumayan seneng dia dateng."
Shirley muter matanya.
"Shirley," gue bilang tegas.
"Maaf. Gue tahu hubungan lo sama Kevin udah makin baik tapi gue tetep gak suka dia. Gue gak percaya sama dia. Maaf ya, Girl, tapi lo gak bisa maksa gue."
Gue menghela nafas.
"Oh, ya udah deh."
"Jadi ceritain, gimana Ace?"
Shirley tahu gue dan Ace udah makin deket.
"Dia makin ganteng setiap hari," kata gue dengan senyum.
"Gue tahu kan. Sayang dia udah punya pacar. Gue tertarik," dia cemberut bibirnya dan gue ketawa.
"Gue gak pernah liat ceweknya, sih."
"Siapa pun dia, dia beruntung. Ceritain dong, kalo lo masih jomblo, dan dia juga, apa bisa berhasil?"
Gue senyum ke dia.
"Jelas. Maksud gue, dia ganteng," kata gue, blushing.
"Gue tahu kan."
Gue senyum.
Pov Ace:
Gue lagi di kantin suatu pagi, sarapan sama Aiden.
Sawyer nyamperin gue dan Aiden ninggalin kita buat ngobrol.
"Hei Ace,"
Gue senyum ke dia. Pertama kalinya dalam waktu yang lama.
"Hei, cantik."
"Wah. Udah lama lo manggil gue gitu atau bahkan senyum ke gue. Ada masalah?"
"Enggak, gak ada. Kayak yang gue bilang tadi, gue lagi sibuk," gue bohong.
"Sama Heather," dia melipat tangannya dan mengangkat alisnya.
"Maksudnya?"
"Iya, Ace. Setiap hari gue liat seberapa deket lo sama Heather. Dan lo ngejauhin gue."
"Tunggu," gue nyengir, "Lo cemburu?"
Dia natap gue.
"Emang gue punya alasan buat gitu?"
"Dengerin deh, Sawyer, Heather sama gue temenan. Gue tahu dia udah sama si Kevin yang pasti bakal nikahin dia. Oke?"
"Tapi gimana sama gue? Lo mulai ngejauhin gue. Itu nyakitin, Ace."
Mata gue melebar dikit. Tunggu, apa Sawyer punya perasaan sama gue?
"Sawyer, gue harap lo tahu kita cuma temen tapi ada 'keuntungan'-nya yang pernah ML sekali."
Dia keliatan agak sakit hati.