Bab 11
Kata-kata itu bergema di kepala gue kayak mimpi.
"GAKKKK!!" Nyonya Christina berteriak.
Gue mundur, jantung gue berasa mau meledak dari dada. Gue jadi pusing. Kamar dan lantainya kayak bergerak. Gue ngeliat Sawyer dan ibunya berteriak sekencang-kencangnya, keduanya memohon pada Tuan Kenneth untuk bangun. Gue menoleh ke Heather. Dia pingsan.
Semuanya terasa gak nyata. Suara bergema di kepala gue terus-menerus. Sakit kepala dan pusing menyerang. Gue menatap suasana duka. Gue jadi pucat dan tiba-tiba berhenti bernapas.
Hal berikutnya yang gue rasain adalah lantai dingin yang keras.
***
Tuan Kenneth meninggal. Begitu aja. Meninggalkan gue, Heather, dan Sawyer sendirian. Pemakaman lain. Cuma dalam setahun. Gue bahkan belum pulih dari kematian Ayah. Tapi, gue di sana.
Gue udah nangis lebih dari sebelumnya dan kali ini bareng Heather dan Sawyer. Seluruh peternakan berantakan. Sekarang gue bener-bener sendirian. Tuan Ken juga dimakamin. Di bulan yang sama dengan Ayah setahun yang lalu. Gue gak tau lagi harus mikir apa. Dan semua ini baru permulaan.
***
Di akhir tahun itu, gue baru dua belas setengah tahun.
Nyonya Christina berhasil bikin anak-anak cewek itu merasa lebih baik setelah kematian Ayah mereka. Gue nyadar fakta bahwa dia cuma meratapi suaminya selama seminggu setengah, dan melewatinya. Kayak yang Ayah bilang malam sebelum dia menghilang, dia gak cinta sama dia. Dia gak cinta siapa pun. Gue nolak buat melupakannya. Terlalu susah.
-
Suatu hari yang naas, pengacara Ayah datang lagi. Dan yang bikin gue kecewa, gue dipaksa menandatangani hak asuh properti Ayah ke Nyonya Christina. Untungnya dia gak punya hak buat pake uang dari rekening bank Ayah yang buat gue. Atau yang lainnya. Dia cuma harus menyimpannya. Tapi dia lebih dari puas dengan tanggung jawab itu. Itulah awal penderitaan gue.
~~
Dua hari setelah kunjungan pengacara itu, gue ada di ruang keluarga nonton TV sekitar jam 8 malam bareng anak-anak cewek itu pas Nyonya Christina datang.
"Sheridan?"
"Iya, Nyonya Christina?"
"Sana kemas barang-barang lo dari kamar itu. Lo gak tidur di sana malam ini."
Gue natap dia bingung.
"K–kemana emang?"
"Di kamar baru lo. Kandang kuda."
Mulut gue menganga. Bahkan anak-anak cewek itu natap ibu mereka dengan heran.
"Kandang kuda??"
"Gak denger gue ngomong tadi? Iya, kandang kuda."
"Tapi tante itu– itu tempat kuda tidur."
"Terus?"
Gue gak percaya sama kuping gue.
"Semuanya bakal berubah di sini, Sheridan." katanya dengan senyum licik dan datang buat duduk di samping gue. "Ada aturan baru."
Gue nelan ludah.
"Karena lo gak punya tempat buat pergi dan gak ada orang lain buat tinggal, lo harus bayar buat tinggal di sini. Dan karena lo belum bisa pegang uang lo, lo harus kerja."
Anak-anak cewek itu sama kagetnya kayak gue. Heather mau ngomong tapi ibunya dengan marah nyuruh mereka tidur.
"Kerja?"
"Iya, Sheridan. Ini yang bakal terjadi mulai besok, lo bakal selalu tidur di kandang kuda, lo yang bertanggung jawab buat ngebersihin rumah ini. Gue mau lantainya digosok besok dan piring dicuci. Semuanya harus mengkilap. Kamar mandi, kamar, dan semua hal lain yang belum gue sebutin. Lo sekarang pembantu rumah tangga di sini. Ngerti?"
Gue ngerasa air mata mau keluar dari mata gue. Gue belum pernah ngeliat orang sejahat Nyonya Christina.
"Gue anggap air mata buaya itu sebagai ya." dia dengan kasar narik kerah gue dan narik gue ke atas tangga ke tempat barang-barang gue dan Ayah. Dia ngeliatin gue ngepak barang pelan-pelan, air mata terus ngalir di pipi gue.
"Lo tau gak?" dia mulai, "Bawa cuma dua celana panjang, satu celana pendek, dan empat kaos."
Gue natap dia bingung.
"K–kenapa?"
"Itu aja yang lo butuhin, dasar idiot. Gue bakal ambil sisa pakaian lo dan Ayah lo sebagai bagian dari pembayaran lo."
"K–karena?!"
"Iya. Lo cuma berhak bawa satu barang milik Ayah lo. Cepet pilih."
Gue nangis dan nangis. Apa ini beneran terjadi? Di mana Ayah gue? Di mana Tuan Ken? Gue gak punya siapa pun buat nyelamatin gue.
Gue buka tas Ayah dan ngambil bingkai foto kita berdua.
"Aaaaaw, kasihan banget." dia tertawa, "Gak penting. Sekarang turun sana."
"G–gak boleh bawa buku?"
"Buku? Lo pasti bercanda. Pembantu rumah tangga gak sekolah." dia narik telinga gue dengan kasar.
"Aduh!"
"Berisik!"
Dia narik gue turun dan keluar dari rumah ke kandang kuda tempat kuda tinggal.
"Gak ada kuda yang tinggal di yang ini. Ini bakal jadi kamar lo." dia tertawa dan mendorong gue ke dalam kabin.
"Tidur nyenyak. Tapi jangan lupa banyak kerjaan besok."
Gue ngeliatin dia pergi, gak punya hati. Malam itu gue nangis dan nangis di jerami dan di tengah hewan.
Gue berubah jadi pelayan di rumah itu. Minggu-minggu berlalu dan semuanya jadi lebih buruk.
Nyonya Christina udah memecat semua Karyawan yang dipekerjakan Tuan Ken dan mengganti mereka dengan orang-orang yang setia padanya. Semua Karyawan yang dulu yang bisa gue andelin yang temen-temen gue dipecat.
Nyonya Christina bakal bikin gue kelaparan dan mukulin gue sering. Gue kotor, pucat, dan lapar. Gue lebih kelihatan kayak budak daripada yang lain. Gak ada yang mau nyentuh gue, nyamperin gue, atau bahkan ngomong sama gue. Karyawan baru ngelempar gue sesuka mereka. Gue udah berubah dari anak kecil dengan gaya hidup yang memuaskan jadi anak peternakan yang kotor. Gue bahkan gak punya hak buat ketemu Heather. Hampir gak pernah. Gue selalu di luar kerja. Dan kapan pun gue ngebersihin rumah, dia selalu di sekolah.
***
Suatu hari, gue kelaperan di kandang kuda dan gue mulai nangis sendiri. Gue berdoa sama Tuhan buat nolong gue. Gue berdoa buat Ayah atau Tuan Ken buat nolong gue. Gue putus asa.