Bab 90
"Dia nge-smash lo. Beneran?"
Aku tertawa mendengar pertanyaan Keith.
"Lebih dari itu! Yang bisa aku katakan, dia tahu bagaimana memperlakukan seorang pria," aku menyeringai pada mereka.
"Heather yang polos??"
"Polos, ya? Aku punya beberapa hubungan di masa lalu, selama SMA dan kuliah, tapi gak ada cewek, gak ada satu pun, yang membuatku merasa seperti Heather."
"Bro, serius lo?"
Aku tertawa melihat ekspresi mereka.
"Kenapa aku harus bohong? Heather satu-satunya cewek yang ngasih aku kesenangan banget sampai mataku memutar ke belakang kepala kalau lagi sama dia," aku tertawa.
"Wih, gila!" seru Max.
"Jiiizzz! Jangan nilai buku dari sampulnya!"
"Betul banget."
"Bro, gak bisa kasih kita detail lebih banyak?" Mereka berdua komplain.
"Sialan kalian berdua. Detail pantatmu."
*
Aku tidur nyenyak malam itu. Aku bangun pagi-pagi keesokan harinya dan mencuci piring. Aku selesai ketika Max masuk, memakai pakaian kantornya dan sebuah tas kerja di tangannya.
"Hei, sobat," aku tersenyum padanya.

"Hei," kami saling memberi jabatan tangan.
"Mau pergi?"
"Ya. Gak mau telat kerja. Keith masih siap-siap."
"Oh, oke. Aku mau mandi dan berangkat ke kantor juga."
"Oke deh. Kemarin seru. Telepon aku kalau lo butuh bantuan lagi. Ngerjain si penyihir itu menyenangkan," dia tertawa dan aku ikut tertawa.
"Tentu saja."
"Oke bro, sampai jumpa lagi."
"Ya."
Dia segera meninggalkan apartemen sementara aku buru-buru bersiap untuk bekerja. Gak sabar sampai di tempat kerja dan melihat bagaimana keadaan Nyonya Christina.
**
POV Heather:
Aku baru saja sampai di tempat kerja di pagi hari ketika ibuku menyuruh Sawyer dan aku. Kami pergi ke kantornya, tentu saja.
Sawyer dan aku bertemu di pintunya dan kami masuk bersama. Hal pertama yang kami perhatikan adalah fakta bahwa dia memiliki mata bengkak, merah, dan terlihat sangat pucat. Apa yang terjadi?
"Duduk," katanya dan kami berdua melakukannya.
"Bu, ada apa? Kamu gak kelihatan baik-baik saja," kata Sawyer, khawatir.
Memang benar bahwa ibu kami adalah seorang penyihir, tetapi kami mencintainya sebanyak kami membencinya.
"Matamu bengkak dan kamu kelihatan pucat," tambaku.
"Ya," dia tersedak, "Aku punya sesuatu untuk memberitahu kalian berdua."
Kami mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Kami siap mendengarkan, Ma."
Dia menarik napas dalam-dalam dan berpaling ke Sawyer.
"Sawyer, mereka mengambil jutaan yang kamu bantu."
Mata kami membelalak.
"Apa?! Siapa??"
"A– Aku dirampok kemarin sore, oleh dua orang bertopeng."
Sawyer tersentak. Aku tidak. Aku menunggu untuk mendengar sisanya.
"Serius?" tanya Sawyer.
"Ya. Mereka meretas mobilku. Beberapa blok dari rumah, mogok dan mereka menyerangku. Mengambil uangnya."
"Ya Tuhan," kataku. Aku berharap orang-orang yang melakukan ini adalah Ace dan Keith, bukan perampok sungguhan.
"Syukurlah aku gak ikut kamu balik!" seru Sawyer. Ibuku menatapnya dengan dingin, "Tapi syukurlah kamu juga aman."
Aku merasa ingin tertawa tapi aku gak berani.
"Kamu harus menelepon polisi," saran Sawyer.
"Aku gak berani."
"Kenapa??"
Dia diam saja.
"Kenapa??"
"Pada satu titik, salah satu perampok memanggilku dengan namaku dan mengatakan betapa dia ingin membunuhku tetapi tidak akan melakukannya karena hukuman yang lebih baik akan datang di depan.
Dan kemudian, dia melepas topengnya dan tersenyum padaku."
Apa? Ace melakukan itu?
"Apa??" Sawyer dan aku bertanya dengan terkejut.
"Ya."
"Siapa dia?? Kita kenal dia??" tanya Sawyer.
Oh, tidak.
Hatiku mulai berdetak sangat cepat.
"Aku belum pernah melihatnya sebelumnya," jawab Nyonya Christina.
Hah?
"Terus dia bilang apa??" tanya Sawyer.
"Dia bilang dia adalah Sheridan, dan dia kembali untukku. Dia kembali untuk membalas dendam."
Sekarang aku bingung. Siapa sih orang itu?
Mata Sawyer membelalak karena terkejut.
"Kamu bercanda, kan?"
"Kenapa aku harus bohong dan menangis sepanjang malam kalau gak benar? Hah? Sheridan masih hidup!" katanya dengan frustrasi.
Sawyer berdiri ketakutan.
"Syukurlah aku benar-benar gak ikut kamu. Semoga saja, dia gak tahu seperti apa aku."
"Dia tahu kita semua. Dia tahu kita bekerja di perusahaan mendiang Ayahnya."
Mata Sawyer membelalak.
"Ya Tuhan! Aku gak percaya. Aku gak percaya!"
Sebelum ibuku bisa mengatakan sepatah kata pun, Sawyer keluar. Ibuku menangis, kepalanya di meja. Aku masih bingung. Aku berdiri dan meninggalkan kantornya tanpa sepatah kata pun. Aku butuh Ace untuk menjelaskan semuanya padaku.
*
Aku tertawa terbahak-bahak ketika Ace menjelaskan semuanya padaku. Gagasannya brilian. Max juga telah melakukan pekerjaan yang hebat. Setelah semua yang terjadi, ibuku akan sangat ketakutan sehingga dia akan menjual perusahaan.
Brilian.
POV Ace:
"Tapi untuk sesaat, aku jadi ketakutan. Aku seperti, tunggu, siapa yang dia lihat yang mengaku sebagai Sheridan? Aku sangat bingung. Kenapa kamu gak cerita tentang rencana itu dulu," tanya Heather. Kami berada di kantorku dan dia sedang duduk di pangkuanku.
"Aku berimprovisasi. Dan ternyata sukses."
"Aku tahu kan. Mama trauma. Dan karma-nya baru dimulai. Aku masih harus memberinya lebih banyak berita buruk."
"Beneran?"
"Yup. Kemarin aku mengirimkan salinan penjualan perusahaan ke investor melalui email anonim. Dia pasti marah ketika dia membalas. Mungkin meneleponku dan meminta untuk berbicara dengan ibuku."
"Aduh. Dia bakal gak suka."
"Gak suka banget. Yah, aku lebih baik pergi ke kantorku sekarang," Dia memberiku ciuman singkat, "sampai jumpa nanti sayangku. Aku sangat mencintaimu dan," dia membelai wajahku dan menatap mataku, "dan masih terasa seperti mimpi indah yang gak mau aku bangun. Sheridan-ku," matanya berair dan aku tahu dia ingin menangis. Aku memeluknya erat-erat.