Bab 44
Gue batalin ciumannya.
Dia senyum, puas dan kayak kena cuci otak.
"Hm, jadi gitu ya?"
"Yup. Jadi lain kali lo nggak pake celana dalam, nggak bakal sia-sia." Gue lepasin dia.
"Semoga aja." dia nyengir dan masuk lift, "Selamat malam."
"Selamat malam, sayang."
Waktu pintu lift nutup, gue ngerasa makanan yang gue makan naik ke tenggorokan. Mual.
Gue nutup mulut pake tangan dan cepet-cepet balik ke apartemen. Gue bahkan nggak ngomong sama Keith tapi langsung ke kamar mandi.
"Kenapa, woi??" gue denger Keith nanya dari belakang.
Begitu di kamar mandi, semua, semua yang gue makan dan minum malem itu keluar. Gue muntah nggak ketulungan.
"Wah man, kenapa nih? Lo sakit?" Keith nanya, nepuk-nepuk punggung gue pas gue batuk-batuk.
"Nggak– *batuk* *batuk*. Cuma ciuman beracun... *batuk*..."
Sudut Pandang Sawyer:
Ace ninggalin gue dalam kondisi yang bener-bener horny. Sialan. Dia seksi banget. Gue butuh pelepasan. Gue ngerasa frustasi banget. Tapi gue seneng dia udah minta maaf.
Gue ngecek hape dan pas itu gue liat ada pesan dari Kevin. Gue nelpon dia.
"Halo, sayang? Kamu jadi dateng?" dia nanya.
"Lo beruntung, bajingan kecil. Gue lagi horny banget sekarang. Ikatin mata lo dan duduk di kasur lo, tunggu dengan sabar. Jangan lupa tali. Gue otw."
"Siap, sayang."
Gue matiin telponnya.
Sudut Pandang Sawyer:
Gue nyampe di tempat Kevin dan dia udah persis kayak yang gue mau. Dia lagi duduk sabar di kasurnya cuma pake boxer dan matanya diiket pake kain pas gue masuk kamarnya.
"Sayang? Kamu ya?" dia nanya.
"Iya." Gue nyamperin dia dan cium keningnya.
"Aku udah nungguin kamu."
"Aku udah di sini. Rebahan sana."
Dia nurut. Gue ambil tali kecil di meja dan ngiket pergelangan tangannya ke tiang ranjang, jadi dia bener-bener nggak berdaya. Ini permainan kecil kita yang kita suka.
"Honey?" gue manggil.
"Ya?"
"Aku mau kita main permainan baru. Aku mau kamu manggil aku nama lain pas kita lagi ena-ena dan aku juga gitu."
"Kenapa?"
"Cuma buat bikin seru aja. Biar kesannya kayak kamu tidur sama orang lain. Siapa aja yang pernah kamu bayangin buat tidur bareng."
"Um, kedengarannya bagus."
"Aku tahu. Jadi, kamu mau bayangin siapa? Atau kamu mau manggil aku apa?"
"Haha, gimana kalau Angelina Jolie?"
Gue ketawa dan dia ikut-ikutan.
"Kenapa nggak? Boleh aja. Kamu bakal manggil aku Angelina dan bayangin dia ada di atas kamu, bukan aku."
"Oke. Dan kamu? Kamu bakal manggil aku apa?"
Gue senyum-senyum sendiri.
"Ace."
"Ace? Siapa tuh?"
"Oh, kamu nggak kenal dia. Dia cowok seksi yang bawain acara tertentu yang aku suka tonton."
"Acara apa?"
"Eh, acara tentang chef atau koki paling top di Amerika." Gue bohong.
"Oh, beneran? Nggak pernah denger."
"Nggak penting juga."
"Tapi yakin itu acara? Aku kan penggemar acara chef dan masak-memasak. Kok aku nggak tahu ya?"
"Udah, jangan nanya-nanya lagi, oke?? Kamu bakal manggil aku Angelina dan aku bakal manggil kamu Ace."
"Oke, sayang. Maaf ya kalau aku bikin kamu kesel."
"Nggak papa kok, sekarang lanjut lagi." Gue cepet-cepet buka baju.
***
Sudut Pandang Ace:
Pagi Senin akhirnya dateng juga. Gue berangkat kerja lebih awal dan nyampe tepat waktu.
Gue keluar dari mobil setelah parkir.
Pas lagi ngunci mobil, gue liat Heather di seberang, di sisi lain. Dia juga liat gue. Dia baru aja nyampe.
"Selamat pagi, Heather." gue bilang sambil senyum. Dia bales senyum.
"Selamat pagi, Ace. Ini mobil kamu?"
"Yup."
"Keren."
"Makasih." Gue cepet-cepet nyamperin dia setelah ngunci mobil, biar kita bisa masuk bareng.
"Kamu cantik banget pagi ini." gue muji.
Dia agak salting.
"Makasih. Kamu juga ganteng banget." dia bilang dengan nada malu-malu, nggak mau natap gue.
"Makasih. Kamu nggak tahu senengnya gue dapet pujian kayak gitu dari kamu."
Dia natap gue dengan mata berbinar.
"Kenapa? Aku yakin banyak cewek lain yang udah bilang gitu juga ke kamu."
Gue nyengir.
"Kamu beda dari cewek lain. Gue tahu kita belum saling kenal baik, tapi cuma pujian dari kamu yang penting."
Dia merah dan gue perhatiin dia berusaha buat nggak senyum, padahal pengen banget. Dia ngeliat lantai dan nyelipin sedikit rambutnya ke belakang telinga.
"Kamu lagi ngegombalin aku, Tuan Ace Stonewall." dia ngeledek. Dia malu, iya, tapi masih ada sedikit godaan dan keberanian di dirinya.
"Kamu mikir gitu?" gue senyum dan dia bales senyum pas kita masuk gedung.
Kita berdua jalan ke lift dan masuk. Cuma ada kita berdua dan suasana hening.
"Kamu single, Ace?" dia nanya, mecah keheningan.
"Iya." Gue natap dia.
Dia balas natap dan kemudian senyum tipis muncul di bibirnya. Sialan. Senyumnya bikin lutut gue lemes entah kenapa.
"Ya, aku nggak." jawabnya santai dengan senyum.
"Gue tahu. Dan sayang banget." gue jawab santai dengan senyum gue sendiri. Dia ngeliat gue dan pipinya memerah.
"Sayang?"
"Iya."
Gue liat ada sedikit kesenangan di matanya. Heather emang cewek penggoda yang polos. Dia tipe orang pendiam yang bisa lo remehin tapi bisa nyakitin lo dengan kata-kata yang tepat. Dia sengaja ngingetin gue kalau dia nggak single.
"Gue tahu lo nggak single kayak yang lo bilang, tapi gue boleh nanya sesuatu nggak?" gue nanya dia. Dia natap gue.
"Boleh?"
"Gue tipe lo nggak sih?"
Reaksinya lucu dan gue berusaha buat nggak ketawa. Matanya melebar sedikit dan sekali lagi wajahnya memerah. Gue senyum.
"Kamu tipe aku nggak?" dia ngulangin.
"Iya."
Dia natap gue beberapa saat dan kemudian dia senyum, seolah-olah dia ngerti gue lagi berusaha bikin dia bingung.
"Kamu beneran mau tahu, Ace?"
"Iya, Nona."
"Perhatiin bibir aku baik-baik waktu aku ngomong." Gue natap bibir indahnya itu, "Aku nggak punya tipe. Fisik nggak masalah buat aku."