Bab 57
“Oke, Ace. Tolong, cium aku,” Aku suka cowok yang berwibawa. Cowok yang punya aturan sendiri dan nggak penurut. Mereka paling seksi.
Dia nyengir ke aku. Nggak nahan banget. Aku pegang wajahnya pakai tangan dan pelan-pelan tempelin bibirku ke bibirnya. Aku mulai cium dia. Dia nggak balas cium, cuma diem aja. Aku buka mata dan lihat dia.
“Kenapa, sayang?” tanyaku, “Tolong, balas cium aku,”
Aku pegang lagi wajahnya dan cium dia. Kali ini dia balas cium aku.
Aku meleleh. Aku suka banget ini!
Sekali lagi, kita kejerumus dalam ciuman yang kasar dan penuh gairah.
Kita ciuman terus-terusan dan aku makin horny. Seluruh badanku panas dan aku mulai kehilangan kendali.
Aku mengerang di mulutnya, menciumnya seolah hidupku bergantung padanya.
Aku mengelusnya dan dia mengelusku balik. Aku mencintainya dan pengen kasih seluruh diriku buat dia.
Aku buka kancing kemejaku dan lepas, nggak berhenti ciuman. Ini sekarang atau nggak sama sekali.
Aku cium dia lagi dan lagi.
Aku bahkan mulai buka kancing kemejanya tapi dia berhenti ciuman dan menghentikanku.
“Kamu ngapain?”
“Aku mau kamu bikin aku, *you know*, sekarang juga.”
“Apa? Nggak.”
“Kenapa???”
“Nyonya Christina, aku tahu tentang kamu. Kamu udah punya banyak cowok-cowok muda di kasurmu yang ngejar-ngejar kamu kayak anjing, nyembah kamu. Aku nggak kayak gitu.”
“Tapi Ace, aku–”
“Aku beneran pengen *you know* kamu, di mejamu, di sini di kantormu dan sekarang juga. Tapi aku nggak bisa.”
“Kenapa??” tanyaku, ada benjolan di tenggorokanku.
“Aku harus dapetin posisi itu dulu.”
Aku elus wajahnya.
“Percaya sama aku, sayang. Kamu udah punya posisi itu.”
Dia senyum ke aku. Aku senyum balik dan kita lanjut sesi ciuman kita.
“Tolong,” Aku cium dia, “Kalau kamu nggak mau bikin cinta sama aku sekarang…” lanjutku, “Biarin aku rasain kamu.”
“Nggak Nyonya Christina,” dia berhasil bilang lewat ciuman.
“Kenapa??” Aku hentikan ciuman, dengan marah.
“Nggak hari ini, sayang. Semuanya ada waktunya.” dia rangkul pinggangku dan tarik aku mendekat, “Jangan marah. Sabar aja.”
Dia mulai cium leherku. Aku mengerang dan meleleh di pelukannya. Aku pegang wajahnya dan mulai cium dia lagi tiba-tiba, dia muntah dan hentiin ciumannya.
“Kenapa??” tanyaku, panik.
Dia jadi gelisah, tangan nutup mulutnya. Dia pengen muntah?? Ya ampun.
Aku cepet-cepet menjauh dari dia dan dia pergi ke toilet.
Aku malu banget. Apa ini salahku? Apa iya?? Aku harap nggak.
Dua menit kemudian, dia balik.
“Kamu– kamu muntah?” tanyaku, malu.
Dia lihat aku.
“Iya.”
Ya ampun!
“Ka– karena aku??”
“Nggak, nggak,” dia mendekat dan cium keningku, “Aku makan sesuatu yang nggak seger pagi ini. Jangan merasa buruk, bos. Nggak ada hubungannya sama kamu.”
Phew!
“Oke. Aku– aku rasa kamu mau pergi sekarang.”
“Iya. Banyak kerjaan yang harus dikerjain. Ketemu lagi nanti,” dia cium keningku lagi dan keluar dari kantor. Aku merasa nggak enak.
*
POV Ace:
Untungnya, Nyonya Christina percaya alasan aku muntah. Aku cuma nggak bisa nahan.
Malam itu, aku mau tidur waktu handphoneku bunyi tanda ada teks dari Heather. Aku buka.
‘Masih polos banget? Atau lucu?

Kasih aku jawaban, Ace.’
SIALAN.
Mulutku selebar mataku.
Heather baru aja ngirim foto photoshoot-nya, bikin mulutku kering.
Apa yang aku lewatkan? Semuanya!
Aku lihat foto itu dan aku bersumpah aku ngerasain ‘adik’ku bereaksi di celanaku.
Heather!
Heather!
Heather!
Kenapa kamu ngirim ini ke aku?
Aku merasa frustrasi di tempat.
Aku merasa lemah. Aku nggak percaya mataku.
Aku nggak bisa berkata apa-apa.
Satu-satunya balasan yang aku kasih ke dia adalah:
‘:-x’
‘Nggak bisa berkata apa-apa sekarang, ya? Apa foto itu cukup bukti, Ace?’
‘Kamu cantik banget. Aku bahkan nggak bisa jelasin apa yang aku rasain sekarang. Aku tarik kembali apa yang aku bilang. Aku minta maaf…’
‘Oke. Tidur nyenyak ;-)'
‘Kalau aku bisa tidur :'(’
Aku habiskan separuh malam lihat fotonya, terangsang karenanya, kangen dia, mencintai dia.
Aku habiskan separuh malam lainnya mimpi tentang dia.
POV Heather:
*Aku duduk di tepi danau kuning. Danau kita. Mommy mungkin nyariin aku, aku nggak peduli. Aku mungkin dihukum. Tapi Ayah akan belain aku. Aku tahu dia akan.
Aku mikir. Tapi seseorang nyentuh bahuku. Aku balik badan. Sheridan!
Aku senyum dan berdiri buat meluk dia. Aku baru sepuluh tahun tapi aku percaya aku cinta dia. Walau aku nggak bener-bener ngerti gimana cinta itu bekerja.
“Aku beliin kamu sesuatu,” katanya dan ngasih aku sekotak biskuit kayu manis. Kesukaan aku.
“Makasih,” Aku cium pipinya. Dia senyum. Kita berdua merah.
“Mau berenang?” dia nanya.
“Nggak, kamu aja. Aku duduk dan lihatin.”
“Oke.”
Dia lepas kaosnya dan loncat ke danau. Aku cekikikan waktu airnya nyiprat ke aku.
Aku duduk dan lihat dia.
Dia main dan aku ketawa.
Tiba-tiba, dia mulai nangis di air dan lihat aku. Aku panik.
“Kenapa?!” tanyaku. Dia terus nangis. Dia natap aku dan ngasih ciuman ke aku.
Terus dia menghilang dan aku lihat darah di air.
Aku teriak. Aku teriak. Aku teriak!
“Nggak! Sheridan!” Aku tutup mata kesakitan.
Waktu aku buka mata, aku di kantor, nangis.
Aku dua puluh dua tahun.
Sawyer dan Mommy berdiri di depan aku.
“Bajingan itu mati!” Mommy teriak dengan suara melengking.
“Sudah lah! Kamu dua puluh dua, kamu idiot!” Sawyer nambahin.
“Nggak!” Aku teriak dan pegang rambutku.
Aku tutup mata dan mulai narik rambutku. Teriak.
“Berhenti!” Aku dengar seseorang dengan marah bilang dan seseorang pegang kedua tanganku.
Aku buka mata.
Itu– Ace??
Dia berdiri tepat di sana di kantor sama aku. Dia marah sama aku.